Part 1 - "Awal"

57 3 0
                                        

Tok tok tok

Terdengar samar-samar suara ketukan pintu yang membuatku bangun, hanya untuk tidur kembali....

Tok tok tok

Kali ini ketukan lebih kuat dari sebelumnya,namun itu tidak akan mempan bagiku nak! Aku sudah terlalu ngan-

Tok tok

"IYAAA!!!Sebentar"

Mataku yang tadinya tertutup rapat kini beroperasi penuh dengan voice activation suara ibuku yang nyaring mengilukan. Mataku berkedip beberapa kali, mencoba mengenali lingkunganku, kamarku, jam dindingku yg menunjuk angka 7, perlahan aku bangkit dari kasurku yang empuk...namun...kerinduanku pada alam mimpi kembali mencoba menarikku...

Nope, ronde ini dimenangkan oleh suara ibu yang membuat mataku terbelalak.

Perlahan kubuka pintu kamarku yang berada tepat di depan tangga, mulai terdengar suara ibuku yang bersahutan dengan suara berat lawan bicaranya. Suara yang tidak jelas membuatku tertarik, aku semaking berjalan mendekati tangga, mengintip sambil memasang kuping tepat diatas tangga, tapi-

"AADRRIIIAAANNN!!, LISAAAA!!"

Jantungku berhenti sejenak,shock akibat auman ibuku itu membuatku terbang.....

GUBRAKK!!!

Tepatnya jatuh

"Aduh adrian, hati-hati donk, kan kakimu jadi berdarah" kata ibuku sambil menunjuk lututku yang berdarah, ya karena siapa juga yang teriakannya kayak dolby surround sound di bioskop-bioskop. Terdengar langkah kaki dilantai atas, dan turun kebawah yang disertai kehebohan suara melengking adikku yang cantik, genit dan cerewet itu.

"Kenapa sih pagi-pagi ribut? Kak adrian kenapa gaya superhero landing?" ocehan adikku yang cerewet. Belum sempat kubalas ocehannya berlanjut "Yah kaki kak adrian berdarah tuh, eh ma ini siapa? Kenalkan nama saya Lisa, pak polisi ganteng deh hihi, Lisa jadi malu belum mandi". Oh my god ocehannya yang membuat kupingku gatal perlahan kucerna, pak polisi?

"Haha adik Lisa bisa saja, nama bapak Erik, apakah luka adek adrian sakit?coba sini bapak liat"

Belum sempat kulihat wajah asal suara berat itu, dia sudah jongkok sambil mendekati lututku. Tampak badannya yang kekar ,kulit sawo matang dan kumis tipis menghiasi wajahnya yang tampak keras namun ramah.

"hmmm..." tampak kalimat 'ada yang aneh' dari wajahnya, jarinya yang mendekati lukaku sontak membuatku kaget dan secara refleks menjauhinya. Tatapannya yang tajam kearah lukaku terganggu oleh tepukan halus ibuku di pundaknya.

"Tadi bapak menyuruh saya mengumpulkan semua orang, ada perlu apa pak?"

"Ah iya, saya datang kesini untuk menyampaikan bahwa di Jalan Sudirman yaitu jalan ini sudah terjadi pembunuhan, diduga merupakan lamjutan dari pembunuhan berantai yang sedang terjadi sejak seminggu lalu, jadi dihimbau agar masyarakat berhati-hati, terutama saat malam hari dan subuh"

Well, tentu saja tentang ini, di kota kecil ini sedang heboh tentang pembunuhan berantai yang dimulai 3 hari setelah kami sampai disini, jika benar pembunuhan ini adalah bagian dari pembunuhan berantai itu, berarti sudah memakan 4 korban.

Aku menoleh kearah ibuku yang daritadi membisu, tampak wajahnya yang khawatir. Kata-kata yang kurangkai untuk menenangkan ibuku sudah siap keluar dari mulutku namun kuurung kembali ketika pak Eric mulai bicara kembali.

"Tenang buk, nak, kami akan berusaha semampu kami untuk melindungi kota kecil ini dari kriminal seperti mereka!"

"Pak, adakah yang kami bisa bantu? Mungkin kami dapat menemukannya, adakah diketahui ciri"? Jenis kelamin? Luka?"

"Luka...ada, tadi pagi ditemukan bercak darah dan darah pada pisau di tangan korban, kemungkinan korban melawan dan berhasil melukai pelaku"

"Luka seperti apa it pak?"

"Luka seperti...itu" sambil menunjuk luka pada lututku

---to be continue---

New PlaygroundMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon