1/1

39 4 2
                                        

Berteman denganmu itu adalah pilihanku, namun jatuh cinta padamu itu jauh diluar kendaliku.

****

Kebiasaan anak sekolah saat jam kosong adalah membuat kelas menjadi berisik. Ada yang berkumpul membicarakan gosip-gosip terhangat, tidur, bermain handphone, dan untuk anak lelaki adalah bercanda sambil berteriak-teriak.

Tapi lain halnya dengan Alesha Gavaputri, perempuan yang memiliki rambut sedada itu hanya diam ditempat duduknya, menatap keluar jendela yang terlihat sangat terik hari ini. Hingga dirinya melihat sosok lelaki yang jalan dengan gagah dengan tubuh tegapnya.

Dengan cepat Alesha mengetuk jendela kelasnya sampai sosok itu berhenti berjalan. Senyumnya merekah kala dirinya melihat senyum itu ikut mengembang.

"Hai, Kevan!" Terdengar ada perasaan bahagia dari nada suara Alesha.

Kevan Raid Putra. Lelaki yang sudah lama Alesha jatuhi cinta.

"Hai, Echa. Gak belajar?" Jawab Kevan dengan nada suara yang sama bahagianya.

Senyumnya bertambah lebar saat Kevan memanggilnya dengan sebutan yang dulu ia tak suka. Saat Kevan memanggilnya dengan sebutan 'Echa' terdengar sangat berbeda. Jadi Alesha hanya memperbolehkan Kevan yang memanggilnya dengan sebutan itu.

"Gak ada gurunya nih, bete jadinya. Mau kemana?" Tanya Alesha.

"Mau ke ruang guru, gue kesana dulu yah" Jawab Kevan yang dijawab anggukan oleh Alesha.

Alesha kembali duduk, sembari mengingat senyum Kevan yang baru dilihatnya. Jantung bergemuruh dengan cepat hanya dengan membayangkannya.

****

Seperti biasa, saat jam kosong seperti ini dirinya hanya diam ditempatnya. Menatap keluar jendela, cuaca sedang mendung hari ini. Tidak seperti kemarin yang sangat terik.

Lagi-lagi dirinya melihat Kevan yang sedang berjalan. Tidak sendiri, bersama seorang wanita yang tidak Alesha kenal sebelumnya.

Terdengar ada kebahagian disana. Tawa Kevan sangat lepas, tak ada kesan paksaan yang ia dengar. Senyumnya pun tak pernah lepas saat mendengar wanita itu berbicara lalu tertawa.

Bahkan saat Kevan besama wanita itu, Kevan terlihat sangat bahagia. Dan Alesha tak ingin mengambil itu.

Kevan melihat Alesha dan terus berjalan. Ada bara api yang menjalar ditubuh Alesha saat ini. Ditahan sekuat mungkin, agar dia tidak menyalakannya. Matanya memanas, tapi dirinya tahan dalam-dalam agar tidak menumpahkannya.

Matanya terpejam, merasakan apa yang baru saja dirinya lihat.

Perih.

Hanya itu.

Alesha tak bisa berbuat apa-apa. Dirinya bukan apa-apa, bukan siapa-siapa bagi Kevan.

Tak lebih dari sebatas teman.

Mungkin cuaca saat ini tepat untuk menggambarkan perasaannya.

****

Entah sudah berapa hari ini Alesha tidak melihat Kevan melewati kelasnya, bahkan saat jam istirahat pun dirinya tidak melihat Kevan. Ada rasa kekecewaan didalam hatinya, entah itu untuk apa.

Satu hari setelah kejadian itu, Alesha berubah seakan-akan tidak peduli. Tidak peduli pada semua hal yang berhubungan dengan Kevan.

Tapi lihatlah dirinya sekarang, untuk tidak peduli saja Alesha tidak bisa.

Ia masih berharap Kevan akan memanggilnya dengan sebutan 'Echa' jika dirinya memanggil Kevan melalui jendela, berharap Kevan akan senyum kepadanya, berharap melihat Kevan saat berjalan menuju sekolah. Selalu seperti itu.

RosesStories to obsess over. Discover now