Lelaki ini menopang dagunya malas. Mengetuk ngetuk pulpennya pada meja. Hening. Hanya terdengar kebetan kertas sesekali. Ia melirik buku teman di sampingnya yang sudah setengah lembar. Sedang kertasnya sendiri belum tergores pena sedikit pun. Bahkan memberi hari dan tanggal pada kanan atas bukunya saja ia enggan.
Bosan.
Itulah yang dirasakan cowok ini.
"Berisik, Yo" tegur teman disampingnya yang merasa fokusnya terganggu dengan suara ketukan pulpennya. Ia menaruh pulpennya dengan lemas. Dan memilih untuk menenggelamkan kepalanya di meja dengan satu tangannya yang ia jadikan bantal.
Bahasa Indonesia. Pelajaran yang paling ia tidak sukai. Tugasnya selalu menyusahkan. Setelah kemarin ditugaskan untuk membuat proposal, kini gurunya itu memberi tugas untuk meringkas novel yang ada di perpustakaan sekolah. Lalu mencari unsur instrinsik dan ekstrinsik didalam cerita novel tersebut. Tidak lupa mencatat nilai nilai apa saja yang terkandung didalamnya. Tugas yang membosankan... merepotkan... hah!
Disaat seperti ini bell istirahat akan terdengar menyenangkan sekali. Sayangnya, ini baru memasuki jam ketiga. Masih dua jam pelajaran lagi!
Sebagian temannya sudah selesai dari tadi dan sudah kembali ke kelas. Menyisakan beberapa orang dengan otak buntunya yang masih mencoba. Entah mencoba untuk cepat menyelesaikan tugasnya itu atau mencoba mengulur waktu agar jam pergantian pelajaran berbunyi dan memilih dikumpulkan minggu depan.
Lelaki ini mengangkat kepalanya dan meletakan dagunya diatas meja. Melirik malas pada buku yang ia pilih acak. Alisnya mengerut saat baru menyadari bahwa buku yang ia ambil bukan novel, tapi komik. Ia mendengus. Meraih buku itu dengan malas dan berdiri dari bangkunya. Membuat deritan bangku terdengar kontras dengan situasi perpustakaan yang hening.
"Kemana lo?" Tanya teman disampingnya
"Tuker buku. Salah ambil" Ia menunjukkan cover depan komik itu pada temannya. Temannya itu memutar bola matanya. Ini sudah hampir habis waktu belajar dan dia baru sadar kalo yang dia ambil itu adalah komik?
Setengah mengantuk ia berjalan ke rak novel yang memang di letakan paling ujung perpustakaan. Tangannya menaruh komik yang tadi ia bawa ke rak yang memang khusus untuk komik. lalu bergeser sedikit untuk memilih novel yang sekiranya paling tipis.
Alih alih tangannya mengambil novel berpindah pada perutnya yang tiba tiba terasa mulas. Alisnya mengerut seperti menahan sesuatu. Ia tolehkan wajahnya ke kanan kirinya, kosong. Bagus. Batinnya bersorak ketika suasana mendukung. Sejurus kemudian, suara tak mengenakkan terdengar samar. Ia mengelus perutnya karena lega.
"Ekhem"
Kepalanya reflek menoleh ke belakang. Matanya membulat saat menyadari seseorang di sela sela rak buku dibelakangnya sedang menatapnya. kernyitan di hidung serta gerakan mengibas tangan didepan wajahnya Seolah protes dengan tindakan yang baru saja ia lakukan.
Lelaki ini meringis.
Malu...
"So- sorry, kelepasan"
Dia berbalik. Matanya dengan gugup membaca lebel pada rak di depannya. Komik. Novel. Majalah. Tangannya mengambil salah satu buku dengan acak pada deretan novel. Kepalanya menoleh lagi pada seseorang yang ternyata masih menatapnya. Kali ini dengan kernyitan didahi. Dalam jarak yang hanya terpisah oleh rak, cowok ini bisa melihat iris coklat gelap dibalik buku buku yang agak renggang.
Matanya bulat. Bulu matanya panjang. Irisnya coklat gelap. Mungkin kalau dilihat sekilas irisnya akan terlihat hitam.
Bunyi bell tanda pergantian pelajaran memekakan telinga. Karena speaker yang memang diletakkan diatas pintu perpustakaan. Seketika membuyarkan keterpesonaan lelaki ini pada iris coklat gelap yang juga sedang melihat kearahnya.
Teringat kembali hal memalukan yang sempat ia buat, lelaki ini bergegas untuk berlalu.
'Sial sial sial. Bisa bisanya gue buang angin di depan cewek!' Ia menjedukan dahinya dengan novel yang ia bawa. Hatinya terus merutuki perbuatan memalukannya itu.
Tengkyu buat kunjungannya😊 see ya in next chapter😉 satu vote dan komentar sangat berarti buat aku☺
Much love,
Bilah
YOU ARE READING
I Choose You
Teen FictionASYA. Gadis manis yang berhasil merebut perhatian ELIO. Merebut perhatiannya sejak awal pertemuan mereka yang langsung membuatnya jatuh oleh iris coklat gelap milik ASYA. Tau sifatnya sangat berbanding terbalik dengan gadis manis itu, Ia memutuskan...
