"Kapan pertama kali kamu bertemu dengannya?", adalah pertanyaan yang paling sering diutarakan kepadaku tanpa aku bisa menjawabnya dengan waktu yang tepat. Entah kapan saat pertama kali aku bertemu dengannya. Yang ku ingat hanyalah, dirinya yang selalu memilih tempat duduk disampingku, pojok depan, tepat berhadapan dengan meja guru bahasa inggris tempat les ku. Saat itu, aku masih sekabur itu memandang sosoknya yang tinggi, kurus, hitam gelam, dengan behel hijau digiginya. Ia yang selalu datang dengan jaket abu-abu menutup seragam kemeja putihnya, menyapaku yang tengah tertidur di meja karena kelelahan mengendarai motor dari sekolah menuju tempat les yang waktu itu, teramat jauh karena terhalang macetnya jakarta.
Yang pada akhirnya, sosok itu yang terus melekat walau kini sudah 7 tahun berlalu.
"Gue berantem lagi sama Sarah, gue harus gimana?". Entah bagaimana akhirnya aku dan dia menjadi semudah ini untuk menceritakan permasalahan cinta masing-masing. Tepatnya, aku yang sering mendengarkan bagaimana ia masih kaku menjamu cinta di hatinya dengan cinta pertamanya itu. Dan aku, yang bahkan saat itu sedang sering putus nyambung dengan pacarku di masa SMA, dengan sok pintarnya memberi berbagai petuah dan nasihat-nasihat cinta agar Ia sedikit tenang.
Yang pada akhirnya, sosok itu yang terus melekat walau kini sudah 7 tahun berlalu.
Sepertinya waktu 2 jam di ruangan belajar bahasa inggris tidak cukup bagiku dan, mungkin dia, untuk hanya sekedar menatap mata. Entah kenapa, telah menjadi rutinitasku, dan mungkin dia, untuk shalat isya di masjid tempat kita menumpang parkir motor selama 2 jam. Padahal, untuk ukuran anak SMA seperti aku yang tidak terlalu taat agama, bisa saja melakukan shalat itu dirumah dengan kesediaan waktu yang sangat panjang hingga menjelang dini hari tersebut. Kemudian, entah bagaimana, aku dan dia akan saling tunggu di tempat parkir hanya untuk mengulang kembali percakapan, atau hanya sekedar basa-basi, atau membentuk topik seadanya sebelum pada akhirnya mengendarai motor masing-masing.
Yang pada akhirnya, sosok itu yang terus melekat walau kini sudah 7 tahun berlalu.
Waktu terus berlalu, demikian kisahku dengan dia yang perlahan merubah nama panggilan, mulai dari yang umum gue-elu hingga menjadi aku-kamu. Terlebih, aku dan dia memiliki panggilan khusus. Hanya untuk kami berdua. Ku panggil dia Jangkung, padahal dia tidak setinggi itu, namun karena badannya kurus, aku memanggilnya seperti itu. Dan sebaliknya, dia memanggilku bulet, karena bentuk wajahku yang bulat seperti bola. Seiring waktu, isi smsku penuh dengannya yang memanggilku dengan kamu. Juga pertemuan yang lebih sering terisi dengan kalimat "Kung, ini ngerjainnya gimana?, atau buka halaman berapa kung?", atau yang seperti ini, dijemput lagi, let?". Ya, saat itu, statusku, dan dia, masih memiliki pasangan masing-masing. Dan Aku selalu ingat suatu waktu, selepas shalat isya, Aku berjalan menuju parkiran seperti biasa dan menemukan dirinya dari kejauhan, menengok kearahku, lalu tersenyum. Senyum termanis yang pernah ia diberikan kepadaku.
Yang pada akhirnya, senyum itu yang terus melekat walau kini sudah 7 tahun berlalu.
Seingatku, saat itu perbincanganku dan dia tidak lagi seputar Sarah, melainkan hati wanita remaja lain yang mencoba mengisi hatinya, hari-harinya, dan apapun yang kosong di dalam dirinya. Aku lupa siapa namanya (dan Sarah pun juga nama karangan saja, karena aku tidak ingat pasti siapa cinta pertamanya). Hari-hari berlalu. Saat itu, tidak ada perubahan yang berarti--maksudku, statusku dengan dia yang masih sekedar "teman dekat". Bahkan, ketika teman-temanku menanyakan dia, yang saat itu menjemputku saat aku sedang asyik bercanda ria setelah shalat tarawih berjamaah dirumah teman selepas buka puasa bersama--dengan Satria putihnya, Aku masih menjawabnya "hanya teman dekat". Lalu aku diantarnya. Tidak sampai rumah, tentunya. Karena saat itu, aku masih takut membawa laki-laki kerumah, walau tidak ada hubungan apa-apa. Lagi, aku pun masih ingat, aku yang menunggu kabarnya telah sampai rumah atau belum, karena yang ku tahu, jarak kebon jeruk-Puri Beta tidaklah dekat. Namun, Ia, saat itu, tidak pernah membiarkanku khawatir. "Udah nyampe, Let. Tidur sana.", Sms yang menenangkan. Perlahan saat aku ingin melelapkan mata, datang sebuah sms, dari teman dekat, perempuan, dengan pertanyaan: "Lo dianter pulang, pake panggilan sayang, pake aku-kamu pula, serius lo sama dia cuma temen deket?"
Yang pada akhirnya, pertanyaan itu masih belum memiliki jawaban walau kini sudah 7 tahun berlalu
-----
VOCÊ ESTÁ LENDO
Esensi Rasa
PoesiaTidak ada seorang pun yang bisa kuat saat berkutat dengan melupakan, meracik kehilangan, meramu kesepian, pun menyembunyikan kerinduan. Namun, tetap tenang kawan, percayalah, semua itu adalah esensi rasa pembentuk kebahagian.
