Gadis itu tersenyum lebar saat kakinya telah menapak kembali di negara kelahirannya, Indonesia. Ia berjalan bermaksud mencari seseorang yang sangat ia rindukan dan berhubung akan menjemputnya juga hari ini di Bandara. Kakinya terus berjalan di iringi irama sepatu convers putih yang ia pakai saat ini dan terus tersenyum lebar, berharap kehadiran dari seseorang yang sangat ia rindukan itu segera tiba dengan cepat.
"Aku kangen, Mama. Mama dimana?" Batinnya berseru.
Hingga beberapa sekon setelah dirinya membatin, seorang wanita setengah baya memanggilnya dengan penuh semangat dan bisa di ketahui terselip nada rindu dalam panggilannya tersebut.
"VELLO!" Wanita setengah baya itu memekik dengan penuh semangat pada seorang gadis berambut coklat di hadapannya yang tengah berjalan pelan membawa dua koper sedang.
Dan merasa namanya di panggil, gadis itu pun menoleh sembari memutar 180 derajat tubuhnya yang kini tengah berhadapan dengan wanita yang memanggilnya beberapa sekon lalu.
Ia tersenyum sumringah, matanya berkedip beberapa kali, bibirnya bergetar hebat, dadanya naik turun menunjukkan betapa senangnya dirinya saat ini. Hingga tiga detik kemudian, setetes demi tetes air jatuh membasahi pipinya yang cabi. Segera ia berlari menuju orang tersebut hingga tanpa di sadari, ia melupakan kopernya. Setelahnya, gadis bernama Velo itu langsung memeluk erat wanita setengah baya yang sangat ia rindukan selama ini.
"Mama, Vello kangen." Ujarnya dengan nada pelan dan memeluknya wanita yang di ketahui Ibunya itu dengan sangat erat, seperti tak ada niat melepaskan pelukan di antara mereka.
"Mama juga kangen kamu, sayang." Balas Riana seraya mengusap-usap rambut dan punggung Vello dalam waktu yang bersamaan.
Setelah beberapa saat berpelukan, Vello merenggangkan pelukan di antara keduanya dan mencium pipi Riana secara bergantian. Gadis itu sangat rindu bahkan sangat sangat rindu pada Ibunya. Begitu pun yang di rasakan Riana untuk putri sulungnya itu.
"Papa mana?" Tanya Vello membuat Riana menatap putrinya dengan tatapan mendalam.
Riana menunduk, "sayang, papa dan mama masih sama seperti 10 tahun lalu."
Vello terkejut dan mengernyit seketika, lantas bertanya. "Bukannya mama bilang, kalo mama sama papa udah baikan sekarang?"
"Maafin mama sayang, mama bohongin kamu."
Lagi, Vello terkejut. Ia tidak menyangka kedatangannya di sambut dengan hal semacam ini.
"Kenapa, ma?" Tanya gadis itu dengan suara yang bergetar, bisa di ketahui ia tengah menahan tangisnya.
"Mama nggak mau kamu sedih, sayang. Mama nggak mau kamu terus kepikiran masalah yang nggak seharusnya kamu pikiran, mama nggak mau bebanin pikiran kamu."
Vello berdecak singkat dan tertawa dengan nada meremehkan. "Emang aku orang asing di hidup kalian berdua? Aku anak kalian! Kenapa aku nggak boleh mikirin masalah yang emang udah seharusnya aku pikirin? Kenapa mama ngerasa aku terbebani dengan masalah kalian? Aku nggak pernah ngerasa kayak gitu, ma. Aku bahkan pengen masalah itu selesai dan aku pengen kita kayak dulu lagi, ma." Tutur Vello, gadis itu menatap kosong ke depan tepat di hadapan Ibunya.
"Itu nggak mungkin, Vello."
"Kenapa nggak mungkin? Aku tau mama sama papa masih pengen hidup sama-sama kayak dulu lagi, tapi keinginan kalian terhalangi karena kalian selalu mikir kalian nggak bakalan kayak dulu lagi. Bener 'kan?"
Riana mengangguk. Memang yang di katakan putrinya itu ada benarnya.
"Yaudah, kalo kalian nggak mau ngalah satu sama lain, biar aku yang bakal urus semuanya supaya keluarga kita utuh kayak dulu lagi."
"Tapi, itu nggak mungkin sayang."
"Not there the impossible, Mom."
Setelahnya gadis itu pergi begitu saja karena ia tidak ingin melanjutkan perdebatan dengan Ibunya yang memang keras kepala sama dengannya. Lebih baik ia pergi dari pada harus terus berdebat dan di cap sebagai anak durhaka, ia tidak menginginkan itu. Walau sebenarnya ia sangat sedih, kedatangannya di sambut dengan keadaan semacam ini.
***
Holaaa gaessss!
Gimana prolognya? Gaje? Banyak typo? Maapkeun yaah, aku juga nggak tau aku nulis apaan dan nggak ngerti juga gimana ide aku. Yah aku pasrah aja jari aku narinya di huruf apa dan membentuk kalimat hingga paragraf apa karna berhubung aku bikinnya nggak mood banget. Jadinya karya pertama aku gini deh.
Jelek banget ya? Sumpah aku juga ngerasa gitu. Tapi, nggak ada salahnya ninggalin jejak kan? Wkwkss, vomentnya jangan lupa gaesss! Salam kenal dan salam persahabatan,
Devianss
KAMU SEDANG MEMBACA
RUMIT
Fiksi RemajaAku ibarat awan dan kamu langit. Terlihat menyatu tapi sebenarnya terpisah oleh jarak yang jauh. COMPLICADO devianss © 2017
