Hari ini seperti biasa masuk sekolah dan melalui pelajaran yang terasa membosankan.
"Sial matematika, guru kiler lagi," decak gadis mungil yang imut, tapi sebuah penampilan itu menipu. Gadis itu memiliki tingkah seperti macan petakilan.
"Sudahlah Mohci nikmati aja!" ucap sahabat dari gadis mungil itu.
"Gimana nikmatinya!! Hari ini ulangan bro!" timpal sahabat satunya.
"U, ulangan? Apa?!" teriak gadis mungil yang bernama Mohci. Iya triakan yang seperti aungan itu bisa saja terdengar hingga kepenjuru dunia.
"Aduh Hci volume suaramu dikecilin kayak tubuhmu itu bisa gk sih!" ucap salah sahabat gadis tadi yang bernama Brown. Dia sunggu terganggu dengan volume Mochi yang tak bisa diatur. Memang itu Sudah kebiasaan dari Mohci Yang berisik dan tak bisa diam, selalu ada saja tingkahnya.
"Hehehe" kekeh kecil dari Mochi terlihat begitu manis, sayanganya itu hanya kover.
Tak lama perbincangan mereka, akhirnya guru killer yang dibicarakan 3 orang tadi datang. Jalannya sangat santai hingga ia mulai angkat bicara..
"Sla ma t siang an ak an ak!" salam dari guru killer dengan perlahan. Dan tak terlihat seperti guru killer.
"Slamat siang pak" kompak satu kelas.
Hingga...
"ULANGAN DIMULAI!"
Jreng.. Jreng..
"Tidak" teriak satu kelas dalam batin. Kalau mau protes nilai akan dikurangi 30. Apa kalau kayak gitu Ada yang brani protes? Ya pastilah tidak ada yang niat.
Perlahan kertas ulangan dibagikan kepada setiap siswa. Mohci yang telah mendapat soal langsung membaliknya dan langsung berdoa, setelah selesai dia perlahan membuka kertas ulangan itu...
"Tidak!" sebelum Mochi berhasil berteriak sesoarang dari belakang berteriak mendahului gadis mungil itu.
"Ajir keduluan!" batin Mochi yang biasanya berteriak setelah membuka kertas ulangan. Memang kebiasaan dari guru ini, kalau latihan pastilah mudah, tapi waktu ulangan bikin otak sariawan.
"Huahahaha.... " kira kira beginilah bayangan siswa akan tawa guru killer yang melihat siswanya kesusahan.
+₪+
Berjam jam hanya ada anggka akhirnya sekarang ada makanan yang berjejer. Ya setelah ulangan selesai akhirnya istirahat tiba.
Mochi yang tengah duduk dikantin bersama dua sahabatnya itu, sedang menikmati bakso ditemani es kelapa muda. Rasa lapar dan haus akhirnya hilang setelah lama mananti ulangan matematika berakhir.
"Hei Brown, makannya pelan pelan donk. Kesedak lho," Brei memperingatkan Brown yang memamkan bakso dengan capatnya.
Mohci dan Brei belum sempat menghabiskan satu mangkok bakso, tapi Brown sudah hampir 4 mangkok bakso habis. Mereka berdua hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah sahabat satu ini.
"Hm.." Ucap Brown sambil mengunyah, sehingga tak terdengar terlalu jelas.
"Stt..!" seseorang seperti memanggil salah satu dari tiga sahabat tersebut. Dan membuat Brown berdiri dari bangkunya, seraya melahap satu bulatan bakso secara langsung.
"Mau kemana Brown?" tanya Mohci kebingungan.
"Emm.. Bentar, nanti aku balik kok. Ok!" tanpa menghiraukan kedua sahabatnya Brown langsung pergi.
"Hie Brown!" teriak dua sahabat yang ditinggal Brown. Tapi tak ada sautan dari Brown sendiri.
Rasanya aneh bukan kenapa Brown pergi begitu aja. Tapi masalahnya bukan karena urusan apa? tapi...
YOU ARE READING
Dar*ku untukmu
Romance*cerpen! Ini untukmu! Untuk dirimu yang indah. Memang tak berharga tapi, kuharap kau menyukainya. "Aku mencintaimu! " Dileno
