1 - Anak Baru

255 15 10
                                        

Bandung, kota yang tak pernah Nei duga sebelumnya. Gadis kelas 12 SMA itu sudah lama sekali ingin ke Bandung. Bukan untuk bertemu pacarnya seperti yang di sinetron, ia disini untuk bersekolah. Selain itu, alasan lain yang membuatnya antusias adalah Nara, sahabat kecilnya. Namun, ada alasan lain yang mungkin akan terbentuk di kota Bandung ini. Untuk saat ini, alasannya hanya bersekolah.

***

"Oke, sekarang ibu perkenalkan anak baru di sekolah kita. Mau perkenalan sendiri atau di kenalin?" Kata Bu Ais. Guru berparas cantik dengan rambut sebahu. Jika dilihat sekilas, pasti semua orang beranggapan jika Bu Ais ini orang yang sabar. Termasuk Nei.

"Kenalin sendiri." Nei menarik napas panjang sebelum mengeluarkan kalimat khasnya."Nama gue Neila Rafandra. Panggil aja Nei. Gue harap lo semua mau jadi teman gue, selama 1 tahun ke depan. Udah."

"Udah? Anak-anak kalau ada yang ditanyakan cepat tanya. Kalau nggak, Ibu mulai pelajarannya." tawar Bu Ais.

Sebuah tangan menjulang tinggi ke udara membuat Nei bertanya pada dirinya.

Kurang jelas gue ngomongnya?

Ia paling benci jika ada anak yang bertanya waktu perkenalan. Karena pertanyaan tidak jauh dari pembahasan, yang artinya biodatanya akan terbuka.

"Eh, kenapa sih nama lo kalau dibalik jadi alien? Keturunan alien?" tanya anak itu dengan polosnya.

Satu pertanyaan yang belum pernah diduga oleh Nei sebelumnya. Bahkan, kelas yang tadinya hening langsung dipenuhi oleh tawa anak yang seketika bergeming.

"Lo! Apaan sih?! Nama itu doa. Lo malah ngejek. Ga tau malu lo!" sahut Nei yang masih berdiri di depan kelas dengan tangan menuding.

"Udah udah! Kalau berantem nanti aja. Ini bentar lagi juga mau istirahat. Kamu, Nei, duduk di situ." perintah Bu Ais sambil menunjuk cowo yang sedari tadi tidak memperhatikannya karna sebuah benda hitam di tangannya.

"Loh, Bu?! Kok aku sih?!" Sentak cowo itu menunjuk dirinya setelah kepalanya didongakkan.

"Devan, bangku kamu sendiri yang kosong. Mau taruh dimana cewe cantik ini?!" Kata Bu Ais sedikit berteriak.

Spontan, mata Devan memperhatikan cewe yang katanya 'cantik' yang tak lain dan tak bukan adalah Nei. Nei yang masih berdiri di depan kelas, berdecak kesal melihat dirinya di perhatikan. Mata sinisnya mulai terarah ke cowo yang bernama Devan.

Tetap dengan mata sinis, Nei berjalan menuju bangkunya dan menghempaskan pantatnya dengan hentakkan. Nei menaikkan sebelah alisnya, ketika Devan menorehkan kepalanya ke arah benda hitam setelah membalas tatapan sinis darinya.

"Ehm, gue masih manusia. Masih kelihatan." Nei berdehem pelan karna Bu Ais sudah mulai menjelaskan pelajaran.

Devan sama sekali tidak menoleh ke arah Nei yang berusaha mencari perhatiannya. Ralat. Bukan cari perhatian, paling tidak Devan mengajaknya bicara karena Nei adalah anak baru.

"Kalau pelajaran nggak boleh main game. Nggak ngehargain guru namanya." Kata Nei dengan tatapan lurus ke depan.

Kali ini ia tidak memelankan suaranya. Ia tidak pintar membuat kata kata manja yang biasa dikeluarkan oleh cewe-cewe penggila cowo dingin di luar sana. Nei tidak begitu suka berurusan dengan cowo. Bahkan, ia benci. Terkecuali kalau itu teman dekatnya.

***

Istirahat...

"Eh, Alien! Kenalin gue Alno. Eits, gue udah punya pacar. Jadi, jangan naksir sama gue." kata Alno.

"Dih, amit-amit gue naksir lo. Jadi temen lo aja, gue ogah." kata Nei kesal dengan keberadaan Alno.

"Jadi mau lo apa? Kita kan temen sekelas." Kata Alno.

"Musuh. Gue maunya kita jadi musuh." Kata Nei mengangkat tinggi dagunya.

"Oke, gue setuju. Tapi, beneran jangan suka sama gue. Gue pergi. Ntar kalau lo kangen gue, panggil nama gue 3 kali. Alno, Alno, Alno! Gue siap kok berantem sama lo." ujar Alno seraya melangkahkan kakinya untuk pergi.

"Duh, ketemu lo aja udah pingin muntah. Nggak bakal gue kangen." kata Nei dengan nada tinggi.

Suara bariton cowok dari belakang menghentikan monolog Nei, "Sok-sok an nyolot, tapi dalem hati seneng."

"Apaan sih?! Gue gak suka, kalau ada cowok yang sok deket sama gue. Gue bakal anggap mereka musuh." Kata Nei yang sudah menoleh kebelakang.

Matanya mengamati dari bawah hingga ujung rambut cowo yang berdiri di depannya. Nei menautkan kedua alisnya hingga hampir bersatu.

"Eh, bentar. Lo Devan kan, yang duduk sebangku ama gue?" tanya Nei.

"Iya, kenapa?" tanya Devan.

"Ngapain lo disini?" Tanya Nei yang risih dengan keberadaan Devan.

"Gue ada tugas dari Bu Ais ngajak lo mutarin sekolah ini. Sekarang jam istirahat. Lo ga ke kantin?" Tanya Devan dengan nada sabar.

"Gue ga tau kantinnya. Anterin gue. Ini bagian dari tugas lo buat anterin gue kan?" Tanya Nei mulai sabar juga.

"Iya. Ini cuma terjadi waktu tugas doang. Jangan harap kejadian ini di ulang lagi." Kata Devan tajam. "Cepet, gue juga mau ke kantin." kata Devan sambil menyulurkan tangannya.

"Lo ngapain?" tanya Nei mengerutkan dahinya.

"Gandeng lah. Ntar kalo lu ilang malah ribet urusannya." Kata Devan santai.

"Gue bukan anak kecil. Ga bakal lah gue ilang." Nei nyolot.

"Yaudah. Gue kesana sendiri aja. Jangan salahin gue kalo perut lo ngambek." Devan berbalik badan.

Krucukk..

"Eh, tunggu! Gue ikut aja. Perut gue udah ngambek." Nei menepuk pundak Devan.

"Yaudah cepetan jalannya. Ga perut lo doang yang ngambek. Perut gue udah teriak-teriak ke gue." Devan memutar kepalanya sekilas.

Nei langsung mempercepat langkah kakinya menyamakan dengan Devan.
Berjalan bersisian dengan cowok bukan hal yang biasa untuk Nei. Ini kedua kalinya.

----------×××---------

Ini...

BIKIN DEG DEG AN

Lanjut peliss
Cerita awal emang jelek, kali aja di chapter chapter 5+ bisa suka sama cerita ini. Jadi, tolong lanjut.

Kembali Lagi Donde viven las historias. Descúbrelo ahora