"Katanya lo ga suka adek gue ya? Kenapa lo ga suka anak-anak?"
Gimana caranya bisa suka anak kecil, apalagi kalau tetangga lo punya anak kecil yang super berisik. Eh, tapi abangnya ganteng loh.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kalian pernah gak sih punya tetangga yang mengganggu banget? Apalagi kalau tetangganya punya anak kecil dan kalian ga suka anak kecil.
Ini adalah cerita gue yang berusaha menghadapi anak tetangga.
Gue Kiky, siswi kelas 3 SMA yang mendambakan masa-masa tenang di rumah tanpa terganggu. Sayang harapan itu sirna semenjak kehadiran tetangga baru yang tinggalnya persis di sebelah rumah gue.
Keluarga kecil itu baru pindah seminggu yang lalu, salah satu anggotanya merupakan sesosok ibu-ibu muda yang gue panggil Tante Tita. Waktu mereka baru pindahan, beliau datang ke rumah gue dengan membawa sekotak macaroni schotel. Katanya sebelum pindah ke sini Tante Tita bekerja sebagai chef di salah satu hotel bintang lima di Bandung. Pantes macaroninya super enak, gue jadi salah satu pihak yang paling bahagia dengan kiriman ini. Maklum, gue hidup dan besar dengan mama yang cuma bisa masak sayur bayam pakai Royco.
Sebenarnya dari sekilas cerita di atas tetangga ini memang baik-baik aja, tapi masalahnya Tante Tita punya anak.
Anak kecil.
Kelas 1 SD.
Dan gue nggak suka anak kecil.
Mungkin gue terkesan berlebihan, but this kid is keeping me up and always get on my nerves.
Contohnya tadi pagi waktu gue mau berangkat sekolah.
Adek ini namanya Ujin, dipanggilnya gitu sama mamanya, sama mbaknya dan dia pun mengalamatkan dirinya sendiri sebagai Ujin.
Pagi-pagi jam 7, saat itu gue lagi tenang-tenangnya mengikat tali sepatu sampai tiba-tiba sebuah tangisan dahsyat menghebohkan komplek.
"GA MAAUUUUU UJIN GA MAU SEKOLAHHH!"
"Ujin ayo sekolah, itu udah ditunggu sama jemputan..."
"GA MAU HUEEEE UJIN GA MAU SEKOLAH!"
Berselang beberapa detik, mulai terdengar suara tangisan Ujin diikuti dengan dentuman entah itu apa.
That moment was quite make a scene, mengingat jam segitu ada ibu-ibu beli sayur dan seisi mobil jemputan penuh anak SD. Mereka menatap prihatin ke arah si Mbak yang dahinya berpeluh, kesulitan menarik Ujin yang meronta-ronta. Kacau, dasinya belum terikat, ditambah hidung yang memerah karena terlalu lama menangis.
"Gandeng..." keluh gue dalam hati sambil mengambil tas dan mengeluarkan sepeda motor.
Tidak cukup sampai di situ, tanpa diduga adek Ujin tiba-tiba berlari mendekat dan mulai menarik-narik rok seragam gue.
"KAAAAKKK HUHUHU..."
"Hah kenapa..." batin gue panik dan dengan awkward berusaha menghentikan anak kecil ini untuk menarik-narik gue dan tetap berusaha untuk mengeluarkan motor.
"Aduhhh Den Ujin ayo ke sekolah..." si Mbak dengan rasa bersalah mencoba memisahkan Ujin yang entah mengapa malah jadi meronta-ronta di kaki gue, "Den Ujin ayo mbaknya dilepasin...."