"retrograde amnesia dan kondisi ini adalah sebuah jenis penyakit amnesia yang akan membuat penderitanya merasa kesulitan untuk mendapatkan kembali ingatan yang sudah terjadi di masa lalu."
Lamat-lamat aku mulai mengerti apa isi dari kertas yang selama ini bunda sembunyikan dariku.
Dua bulan yang hebat, telah mengenal penyakit itu.
Vivian Joycen Gress. Itu namaku. Dan jujur, aku tak pernah tau kalau namaku sebagus itu. Usiaku 18 tahun, tinggiku 168 cm, dan aku mempunyai kedua orangtua yang memiliki sifat hangat kepadaku. Ayahku bernama Stven Joycen. Dan ibuku bernama Dea Wulandari.
Semua data diatas kudapat dari ibuku. Ibuku memiliki sifat yang sangat halus padaku. Mungkin, aku telah menyakiti hati kedua orangtuaku karena aku tidak mengingat semua tentangnya, bahkan nama mereka juga harus dieja satu persatu.
Dan kalian tau? Aku itu seorang bloger yang cukup terkenal dikalangan teman-teman sekolahku. Aku juga baru tau bahwa aku seorang bloger dari seorang pria yang tak pernah menyerah mengenalkan identitasnya kepadaku. Ia bukan hanya mengenalkan itu saja. Ia juga menjagaku disaat aku diluar rumah. Dia sangat menyangiku. Dan dia, bernama Julian. Nama yang bagus.
Pagi ini tugasku adalah berangkat ke SMA Pertiwi. Ini adalah hari senin, berarti ini hari pertamaku bersekolah. Seperti biasa. Hari ini aku keluar rumah diantar oleh Julian. Dia adalah kakak kelasku. Tapi ia memiliki sifat yang sangat perduli kepadaku. Aku gak mengerti, maksud dari keperdulian itu apa. Apakah karena penyakit lupa ingatanku? Atau dia adalah masa laluku?
"Tok, tok, tok" ketukan pintu itu membuatku tersadar dari lamunan tadi. Akupun langsung menuju pintu ruang tamu.
Dan benar. Dia julian. Lengkap dengan kemeja putih dan celana abu-abu. Dasinya agak berantakan, tapi tetap saja. Dia unik.
"Hai manis. Yok berangkat bareng abang." Sapanya, sambil mengeluarkan senyum menjijikkan.
"Apaan sih lo! Udah dasinya berantakan, tampangnya gak jelas, ganjen lagi! Dasar cowok!" Jawab ku dengan wajah yang jutek. "Sini-sini gue betulin! Kayak anak TK aja!"
Aku langsung mendekatkan tubuhku pada dasinya.
Dan- dia mengangkat kedua tangannya dan mengarahkan kepadaku. Seperti membuat sebuah pelukan.
"Lo tau gak V, gue kangen lo." Suaranya sangat menggema di telingaku. Napasnya berhembus tepat di daun telingaku. Ini kedua kalinya aku di peluk olehnya, yang pertama ia memelukku tepat setelah aku keluar dari rumah sakit. Dan ini adalah yang kedua kalinya.
"Apaan sih, Jul! Gue gak suka!" Aku mulai meronta kesal terhadap perlakuannya.
Bukannya melepas pelukannya, tapi, dia malah mengeratkan pelukanya.
"Gue paling gak suka digituin Jul! Gue itu gak suka kalau ada yang bergetar dari sini" aku menunjuk dada sebelah kiri, yang berarti, jantungku berdegup sangat kencang, ketika Julian melakukan ini.
"Eh?" Julian mulai melepaskan pelukannya. Dan berganti dengan senyum hangatnya. "Itu berarti, lo, baper." Jawab Julian secara pelan-pelan, agar aku mengerti. "Yuk, berangkat." Ajak Julian sambil menarik tanganku dan membawaku kepada motor merahnya.
Ditengah perjalanan, Julian memanggilku. "V, tadi kan gue udah meluk lo, sekarang lo dong yang meluk gue dari belakang." Pintahnya yang agak sedikit berteriak, agar dapat terdengar sampai kebelakang.
"Apa-apaan si Jul! Lo pikir gue cewek apaan!" Jawabku yang lebih berteriak kepadanya. Dalam diam aku merasa ada getaran dari dalam hati. Apa mungkin ini yang dimaksud baper? Dan aku juga merasa bahwa Julian terkekeh mendengar ucapanku tadi.
"V,? Baper gak?" Pertanyaan itu membuatku benar-benar gila. Apa dia seganteng itu? Sampai-sampai saat ia berbicara selalu membuatku baper? Lupakan.
♡♡♡
Hari ini Julian ada di rumahku. Dia membantuku mengerjakan tugas bahasa Indonesia. Itu pelajaran yang paling kubenci. Sungguh-sungguh kubenci. Entah sejak kapan, tapi aku selalu membencinya. Sepertinya suasana rumah benar-benar sepi. Hari ini Bi Inah, pulang kampung untuk menemui ibunya. Jadi hari ini aku sendiri. Tapi, dua menit yang lalu Julian udah memasuki rumah ini.
"Jadi, kunci lo kalo mau bikin puisi, adalah dikata-katanya." Ucap Julian sambil menekan-nekankan bolpen diatas kertas putih.
"Kalau itu gue juga tau Julian!!"
"Makanya dong cintai kata-kata. Biar lu bisa merangkai dia."
"Yaudah, cepetan... temanya bebas, tapi kata temen gue, kebanyakan yang romance!" Pintaku.
♡♡♡
Siang ini aku melihatnya, lengkap dengan seragam futsal yang biasa ia kenakan. Aku hanya bisa melihatnya dari lantai tiga, ini semua disebabkan oleh free class mendadak. Jadi, daripada mendapatkan hukuman, aku memutuskan untuk melihatnya dari lantai tiga. Ia berada di tengah lapangan dan berlagak seperti bintang lapangan. Caranya menendang bola dan memainkan triknya, seperti dia seorang yang fasih dalam permainan itu.
Aku menatapnya, penuh dengan senyuman. Entah apa yang kurasa, tapi aku selalu merasa nyaman didekatnya.
Buru-buru aku mengambil benda berbentuk segi empat dari kantung seragamku, dan aku mulai memotretnya dari beberapa sisi. Aku tersenyum setelah melihat beberapa hasilnya.
Beberapa saat kemudian, aku melihat sosok wanita yang mendatanginya sambil membawa sebotol air mineral dingin dan langsung menyodorkannya pada Julian. Wanita itu berparas cantik, tinggi dan rambutnya sangat terawat. Dan tanggapan dari Julian pun baik. Julian mengambil botol air mineral itu, sambil tersenyum ramah. Sepertinya mereka sudah akrab. Atau mungkin, mereka satu kelas? Dan sekarang hatiku terasa hancur.
"V! Ada Bu Santi! Cepet masuk!" Panggil Tania kepadaku.
♡♡♡
Siang ini aku memutuskan untuk berhenti pulang dengan Julian. Aku tau, dia bersifat baik karena dia tau kalau aku memiliki penyakit lupa ingatan. Dan sekarang aku memutuskan untuk berhenti sesaat di sebuah kafe kecil dekat sekolah, disebabkan oleh hujan yang mendadak turun di tengah jalan.
"Satu vanilla latte dan panekuk cokelat. Itu aja?" Aku mengangguk dan sedikit tersenyum kepada pelan itu. Vanilla latte? Aku tidak menyukainya. Tapi Julian bilang, kopi yang paling enak disini adalah vanilla latte dan caramel macchiato. Aku hanya bisa percaya padanya.
Tak lama, segelas vanilla latte pun datang. Disaat yang bersamaan pula bel pintu kafe pun berbunyi, yang disebabkan oleh pergeseran daun pintu tersebut. Dan seseorang pun datang. Lengkap dengan senyumnya. Dan wajah yang ceria.
Vote and coment yaay guys
Sebagai dukungan kalian buat cerita akuuh 💓💓💓
YOU ARE READING
know Y.O.U
Teen FictionBerawal dari kecelakaan, aku melupakan semuanya. Melupakan tentang masa lalu. Dan yang pasti aku melupakannya. Melupakan dia yang telah terjerat dalam kehidupan di masa laluku. Jadi, aku akan mulai belajar mengejanya kembali. Aku akan belajar menc...
