Kisah Satu : Ketika Semuanya Masih Baik

97 14 0
                                        

"Ketika kehilangan, kita hanya akan mengingat-ingat masa ketika semuanya masih baik. Ironis? Tentu"


[Bab 1 ; Kisah, Kenangan, Kehilangan]

Playlist : Gasoline - Troye Sivan

LAKI-LAKI itu menyesap kopi yang dipesannya sepuluh menit yang lalu

Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri, sambil mendengarkan musik yang menghentak-- sebagai penghiburan

Musiknya memang menghentak; membangunkan semangat. Tapi sejak tiga tahun lalu, ia terus dibayangi oleh sakit yang mendera hatinya

Gadis itu, ah

Sulit dijelaskan perasaan yang kini berkecamuk di dadanya. Kalau saja saat itu ia tidak memutuskan terlalu cepat

"Woi tai, gue dari tadi ngomong panjang kali lebar lo ga dengerin, Ven?!" ujar laki-laki diseberang mejanya yang dengan kesal mencabut earphone Raven dari ponsel

Ravenik Alambara, laki-laki berusia duapuluh dua tahun, seorang mahasiswa Fakultas Hukum UI yang baru menjalani semester keduanya beberapa hari yang lalu

"Nggak, lagian gak jelas banget lo"

Laki-laki yang kerap disapa Raven itu kembali menoleh ke kaca di sebelah kanan tempat duduknya-- yang dulu sempat jadi spot favorit gadis itu jika datang ke cafe ini

"Lo masih keinget dia, Ven?"

Raven menoleh, menatap sahabatnya yang sudah sekian tahun bersama dirinya

"Nggak"

Raven berusaha tidak peduli, tapi matanya tidak akan pernah bisa bohong. Dan sahabatnya; Efra, paham betul tentang itu

"Alah bacot. Udah sih, lagian udah lama juga kan? Emang waktunya kali lo berhenti nyesel terus nyari yang baru! Udah nyaris lima tahun loh, Ven" saran Efra sambil menatap sahabatnya itu iba

Bel yang biasa digantung diatas pintu cafe berbunyi, menandakan ada pengunjung yang datang lagi

"HAI GUYS. ORANG GANTENG DISINI!"

Raven dan Efra sontak menoleh, dan mendapati Davio yang sedang berjalan ke arah mereka

"Tai" Raven merespon sambil mengambil earphone yang tadi dirampas oleh Efra

"Tai ngomong tai, gimana sih" balas Davio senget sambil menjatuhkan bokongnya ke atas kursi empuk yang ada di sebelah Efra

"Anying, lo gak mandi setahun atau gimana sih, Yo? Badan lo baunya najis banget! Mana basah lagi" ujar Efra sambil menjepit hidungnya dengan jari telunjuk dan jempolnya lalu berusaha menjauhkan diri dari cowok berbadan jangkung itu

Davio mencebik kesal

"Mana ada! Gue udah mandi tadi pagi, anjir. Bersih lagi"

Efra dan Davio yang menyadari bahwa sejak tadi Raven hanya diam pun menatap Raven yang kini malah kembali menatap derasnya hujan diluar sana

"Ven" panggil Davio sambil menyentil lengan Raven

"Sakit, Yo!" Raven menatap Davio bengis sambil mengambil ancang-ancang untuk menggeplak kepala Davio

"Eh anjir, jangan mukul kepala gue terus! Bisa bego gue lama-lama, Ven!" Davio menutupi kepalanya dengan buku menu yang tergeletak di meja

"Lagian apaan sih, udah manggil segala nyentil lagi" balas Raven sewot

"Abisnya kita dari tadi perhatiin kalau lo masih galau gak jelas karena ditinggal sama Aras" Efra membalas dengan santai

"Bego, Fra" Davio memaki karena Efra seenaknya menyebut nama itu di hadapan Raven

"Bodoamat, Yo. Kalau gak diginiin dia bakal terus-terusan galau gak jelas. Mana Raven yang gue kenal? Udah lima tahun dan gue kayak what the hell are happen here? Padahal cuma satu cewek, Ven!"

Raven tersenyum miris

"Gue udah berusaha sekuat mungkin buat ngelupain dia, Fra, Yo. Cuma tetep aja gak bisa, bayang-bayang soal gimana gue dengan mudah narik kesimpulan dan memutuskan-- sampai bikin dia gitu. Bener-bener menghantui gue"

Raven membuka ponselnya-- menampilkan fotonya bersama gadis yang sudah lima tahun ia rindukan

Seandainya waktu bisa diulang. Harusnya gadis itu tak perlu repot-repot memberi cintanya pada Raven

Just set my heart on fire, like gasoline

Just set my heart on fire, like gasoline

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
GasolineStories to obsess over. Discover now