Titania - 1

77 6 5
                                        

Suara tawa membahana mengisi kekosongan koridor kelas XI yang sedang aku lewati. Siapa lagi pelakunya jika bukan aku dan teman-temanku? Tertawa terbahak-bahak termasuk hal wajar di dalam pertemanan kami. Terlebih ketika aku sudah mengeluarkan tingkah anehku di depan teman-temanku. Menghibur orang lain, pahala bukan? Lagipula, tidak akan ada yang keberatan dengan 'keberisikan' yang sedang kami buat. Selain---

"Ssstt! Orang lagi belajar kok malah cekakak cekikik?"

Selain suara yang baru saja kami dengar. Sesosok manusia berwujud perempuan dengan jilbab biru muda dan kacamata yang bertengger di hidungnya muncul dari dalam kelas Akuntansi. Memegang buku paket Matematika di tangan kirinya, perempuan yang sangat amat ditakuti oleh murid di sekolah ini pun menatap tajam padaku yang saat ini memimpin barisan.

"Ibu? Astaga. Orang lagi ketawa kok tiba-tiba muncul?" tanpa memerdulikan tatapan geli dari teman-teman, aku menyalami tangan guru tersebut, yang akrab dipanggil Bu Damrah. Akrab? Ya, terpaksa aku mengakuinya demi eksistensiku menjadi salah satu anak rajin di angkatanku.

"Oh, kalian. Ibu kira siapa. Ya sudah, cepat ganti pakaian kalian dan masuk ke kelas. Jangan ketawa kayak orang gila. Pusing saya dengernya." Oh, oke. Aku akan menuruti perintah Bu Damrah tanpa harus dibentak seperti anak yang lainnya. Dengan memberi kode aku menyuruh teman-temanku segera pergi.

Aku tersenyum lebar ketika mendapati dua orang laki-laki berjalan mendahuluiku. Menjentikkan jari, aku melangkah mengikuti langkah dua orang laki-laki yang entah ingin kemana. Di belakangku, teman-temanku sudah cekikikan ketika melihat aku yang mencari mangsa baru. Ya, sejak tadi kami melakukan hal serandom itu. Mengikuti orang sampai orang itu tersadar jika diikuti.

"Eh, uang lo jatuh tuh!" itu suara Nia. Yang mengehentikan langkah dua lelaki di depanku ini. Aku tersentak kaget ketika akhirnya kepalaku menabrak punggung salah satu dari mereka.

"Monyet eh monyet!" teriakku tanpa bisa dicegah. Ya, aku akan kehilangan jati diri ketika aku merasa kaget. Seperti sekarang ini. Dua lelaki itu menahan tawa mereka ketika melihatku tengah mengusap kening seraya mata mereka yang menyusuri lantai tempat kami berpijak.

"Dasar matre. Giliran dibilang duit aja, nengok," kataku dengan raut wajah kesal. Nia menggagalkan rencanaku.

"Ya iyalah. Lo makan pake apa kalo bukan pake duit?" aku melengos, enggan menjawab pertanyaan paling tidak penting seperti itu. Menoleh, aku diberi hadiah tawa dari ketiga teman terbrengsekku. Bonus tawa pelan dari beberapa orang yang sedang melintas. Entah mengapa sekolahku tidak bisa sepi walau KBM sedang berlangsung.

"Coba gue punya drone. Gue pasti bakal rekam gimana pas Tania kejedot punggungnya Eros tuh!" seru Elis dengan wajah berbinar cerah. Ya, mereka senang ketika aku menderita.

"Beli novel aja dulu. Delapan puluh ribu doang elah. Kecil. Seuprit. Gak keliatan dah pokoknya!" Nia menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya, seperti menunjukkan ukuran pada Elis.

"Ogah ah. Novel gue tinggal rempah-rempah kalo udah dipinjem sama elo. Gak tau tuh cover dikemanain. Kayaknya harus sedia cover novel lebih banyak kalo mau minjemin novel ke elu." Yak! Mereka malah meributkan soal pinjam-meminjam novel yang kenyataannya adalah benar.

Waktu itu aku pernah membeli sebuah novel yang memang aku sedang idam-idamkan. Setelah satu minggu novelku itu berada di rumah, jadilah Nia meminjam novelku yang katanya sedang dia incar juga. Sayang kalau beli, katanya. Sebagai teman yang baik hati, aku meminjamkan novel itu kepada Nia. Tanpa berpesan apapun padanya. Seperti yang sering Elis lakukan ketika Nia meminjam novelnya. Seperti; "Jangan sampe robek!", "Kalo lo lagi di kamar mandi, jangan dibawa novel gue!", "Jangan dibawa tidur!", "Awas kalo sampe covernya rusak lagi,". Setelah satu minggu Nia meminjamnya dan dia kembalikan novel itu padaku, alu terkejut ketika cover depannya sudah tidak ada wujudnya. Bisa kalian bayangkan bagaimana wajahku saat itu. Kalau digambarkan di film-film, pasti hidungku sedang kembang kempis dan telingaku keluar api yang berkobar-kobar.

TitaniaWhere stories live. Discover now