"Kalau ibu meninggal, kamu harus merawat nenek ya. Kamu tidak boleh membuatnya sedih, karena ia pengganti ibu di dunia. Belajar yang rajin, jangan pikirkan pacaran dulu. Nanti kalau kamu sukses, semua cowok akan mengantri untuk menjadi calon suamimu," ujar seorang ibu tua kepada gadis yang berbaring di sebelahnya.
"Ah, ibu, aku lulus SMA aja sudah bersyukur, nggak usah mimpi yang tinggi-tinggi. Ini lagi, masalah cowok. Nggak bakalan ada yang mau sama aku. Aku udah item, pendek, kurus lagi," kata gadis bernama Malika itu sambil tersenyum kecut.
"Malika, Ibu tidak suka kamu bicara seperti itu. Setiap orang Tuhan ciptakan sebagai pribadi yang unik. Di mata ibu, kamu gadis tercantik di dunia. Dan kamu istimewa," ucap ibu Malika sambil membelai rambut anak semata wayangnya itu.
Kata-kata itu masih terngiang jelas di telinga Malika. Itulah percakapan terakhirnya dengan sang ibu sebelum ibunya berpulang. Ia menatap lekat kuburan di hadapannya lalu menyentuh nisan ibunya sambil meneteskan air mata. Waktu itu, ia baru saja mengobrol dengan sang ibu malam harinya, namun paginya, ia harus menerima kenyataan bahwa ia adalah seorang yatim piatu, karena beberapa tahun sebelumnya, ayahnya lebih dahulu berpulang.
Malika lagi-lagi menangis. Ia masih punya nenek yang setahun lagi umurnya mencapai satu abad. Sedangkan dia sendiri masih berusia 17 tahun, dan ia harus merawat ibu dari ibunya itu.
Kali ini ia bangkit berdiri. Mungkin ia masih berusia 17 tahun, namun bukan berarti ia tidak mampu menyayangi neneknya. Sengguknya perlahan menghilang, berganti senyuman lebar.
"Ibu, aku janji bakal jagain nenek. Doain aku ya, biar aku bisa cepet lulus dan dapet kerja. Aku sayang Ibu," ucapnya untuk yang terakhir kalinya sebelum ia memantapkan hati untuk mengangkat kaki dari makam ibunya.
Kaki mungilnya berjalan setapak demi setapak. Rambut hitam kecoklatannya terlihat keemasan ditimpa bias cahaya matahari. Ia siap menjalani kehidupan yang baru.
***
"Nek, kita makan ya, dari kemarin nenek belum makan," tutur Malika sembari merangkul pundak neneknya.
"Nenek tidak lapar, kamu saja yang makan," kata neneknya sedikit ketus. Neneknya memang bersifat seperti itu, namun sebenarnya hatinya berkilau bak permata.
"Baiklah, aku juga tidak. Oh ha, boleh ya nek, besok aku kembali sekolah," kata Malika sambil menatap tepat pada kedua bola mata neneknya.
"Kamu menang harus sekolah. Justru itu yang sedang kupikirkan. Aku harus segera mencari kerja untuk biaya sekolahmu," tukas neneknya seraya memalingkan wajah dari cucunya tersebut.
Malika terdiam.
"Ibu... tidak meninggalkan uang sedikit pun?" tanyanya hati-hati setelah terdiam cukup lama.
"Kau tahu Malika, kita keluarga susah. Ibumu berdagang sayuran. Tidak mungkin ia punya simpanan. Tapi kau tenanglah, aku akan berusaha menggantikan ibumu untuk membiayai sekolahmu," ujar nenek dengan suara melembut.
"Tak apa Nek, yang penting Ibu bahagia sama Ayah dan kita masih bisa hidup. Kalau pun tak ada biaya, aku tak masalah kok kalau tidak bersekolah. Mungkin aku bisa bantu nenek biar kita punya uang makan, uang listri dan air," ujar Malika keibuan.
Neneknya sedikit terkejut, namun air mukanya kembali berubah.
"Tidak, kau akan tetap bersekolah. Itu harga mati," tukas neneknya mantap
YOU ARE READING
MALIKA
Romance"RESEP SECANGKIR KOPI SUSU LEZAT" Cara Membuat : -Siapkan secangkir hati yang tengah bersemu -Tuangkan sesendok makan bubuk kopi rasa cinta -Tuangkan setengah sendok teh bubuk coklat rasa sayang -Tuangkan sesachet susu kental manis rasa setia -Tamba...
