Bintang senja berubah menjadi gelap, semilir angin membelai rambut indahnya, tampak ia berulang-ulang menyibakkan rambut yang menutupi matanya. Ia tetap fokus pada apa yang di depannya sampai ia sadar suhu semakin dingin karena waktu hampir menunjukkan pukul 22;00. Rumah itu sudah sepi sejak 2 jam yang lalu, tapi itu bukanlah hal yang baru yang dirasakan oleh Jessie, gadis pemilik rambut indah itu.Jessie beranjak dari tempat duduknya dan mematikan lampu di setiap sudut ruangan dan kembali ke kamarnya yang hanya ditemani cahaya rembulan.
Jessi adalah seorang gadis dari keluarga yang tidak utuh, ayah dan ibu-nya bercerai saat ia berumur 3 tahun, ia punya seorang saudara kembar dan satu orang kakak laki-laki. Jessie tinggal bersama ayah dan kakak-nya, sedangkan ibunya pergi membawa saudara perempuannya, Jeni. Sudah 17 tahun lamanya ia tidak pernah bertemu dengan ibu dan saudara kembarnya.
Jessie kembali fokus pada apa yang di depannya, tangannya menggenggam erat sebuah pena dan menggoreskan kata demi kata yang membuat luka di hatinya semakin dalam.
"Kenapa aku dilahirkan di tengah keluarga seperti ini ?" sesekali ia menghardik seperti suara berbisik yang hampir tak dapat didengar. Ia menangis sekencang-kencangnya karena ia tahu bahwa saat ini yang ada dirumahnya hanya ada dia.
Ia gelisah, tak tahu harus berbuat apa, matanya tak mau diajak berkompromi agar segera terlelap. Sayup-sayup ia mendengar suara Ayah-nya dari seberang pintu kamarnya.
"Ayah baru pulang ? darimana aja yah ?" tanya Jessie setalah merasa punya kekuatan untuk menghampiri Ayahnya.
"Ayah lelah, mau tidur. Kamu juga tidur, emangnya besok kamu ga ada kuliah ?"
"Ayah jawab pertanyaan Jessie dulu" ucap Jessie sedikit berteriak karena ayahnya pergi meninggalkanya begitu saja saat ia belum mendapatkan jawaban yang jelas.
Jessie kembali menutup pintu kamarnya dengan keras, ia menghempaskan tubuhnya diatas kasur yang mulai usang dimakan sang waktu. Kembali ia menangis dan menangis hingga ia terlelap bersama butiran air bening di pipinya.
Keesokan paginya, seperti biasa tak ada ucapan hangat dari kakak dan Ayah, yang membuat Jessi muak dengan keadaan rumah. Ia melangkah gontai menuju ruang makan dan mengambil uang jajan yang sudah diletakkan Ayah-nya sebelum berangkat kerja. Tak ada lagi semangat tampak dari wajahnya.
***
" Hai Jes, kantin yuk" Ajak Evi salah satu teman dekat Jessi ketika Mata kuliah pertama usai.
"Ayok, tapi aku Cuma temenin kamu aja yah, aku ga nafsu makan"
"Emang kamu udah sarapan ? makan aja yah, sedikit aja. Lihat badanmu, kamu kelihatan lebih tua 5 tahun dan tampak kurus" Ucap Evi prihatin melihat kondisi tubuh Jessi yang kehilangan berat badannya. Jessi hanya meng-iyakan perintah Evi, karena ia merasa bahwa Evi lah satu-satunya teman yang tulus memberikan perhatian kepadanya.
Jessie belum sempat menyentuh sarapannya, ia jatuh tak sadarkan diri.
"Jessie.. " teriak Evi kaget dan segera meminta bantuan untuk membawa Jessi ke ruang UKS. Evi setia menunggu Jessie sampai sadarkan diri dan mengorbankan mata kuliah ke 2.
"Jes, kita ke dokter aja yah" bujuk Evi setelah Jessi sadarkan diri
"Aku ga mau vi"
"Cuma periksa kondisi kesehatan kamu aja kok, ga harus dirawat. Mau yah ?" Bujuk Evi dengan lembut dengan jiwa keibuan yang membuat Jessi nyaman berteman dengannya.
Jessi dan Evi pergi ke rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari kampus, Jessi diperiksa oleh dokter dan dokter menyarankan Jessi untuk cek darah. Jessi bersih keras untuk tidak mau melakukan cek darah, karena ia merasa bahwa dirinya hanya kelelahan. Jessi hanya diberi obat dan vitamin oleh dokter.
KAMU SEDANG MEMBACA
Siluet Harapan
Short StorySiluet Harapan menceritakan seorang gadis bernama Jessi yang merasa kecewa dengan kondisi keluarganya. Ayah dan ibunya telah bercerai dan Jessi tinggal bersama ayahnya. Kesedihanya tak cukup sampai disitu, Jessi mendapatkan ujian hidup yang tak kala...
