Prolog

341 27 3
                                        

Aku berjingkat hati-hati melintasi koridor untuk sampai di depan loker Aidan. Aku berniat menaruh hadiah dan kotak makan siang di depan loker pemuda itu sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-22.

Namun siang itu ada yang aneh. Aku tidak menemukan hadiah lainnya di sana. Biasanya para gadis lain juga mengirim hadiah untuk Aidan dan menaruhnya di depan lokernya.

Kesadaran menghantamku ketika kudengar derap langkah beberapa orang dari belakangku. Aku baru saja akan beranjak pergi, namun sepasang tangan meregap bahuku.

Ternyata Rizka dan teman-teman Aidan lainnya yang baru datang. Aku berusaha mennyembunyikan kotak hadiah di tanganku namun dengan kasar Rizka mendorongku hingga terjungkal dan bokongku mendarat dengan kasar di ubin koridor yang keras dan dingin.

Tawa mereka membahana di koridor yang masih sepi. Audrey, menjinjing hadiah dan kotak makan siang itu dengan ekspresi jijik sebelum menghempaskannya ke lantai.

"Jadi lo cewek kampung yang sering ngirimin Aidan hadiah!" Audrey menendang kakiku dengan kasar hingga kurasakan ngilu di pergelangan kakiku.

"Ma-maaf."

"Heh cewek udik. Tahu malu dikit dong. Lo jadi stalker Aidan selama tiga tahun!" Sembur Audrey seraya menunjukku.

"Aku nggak bermaksud jahat."

"Nggak bermaksud jahat tapi lo udah ngelanggar privasi orang lain!" teriak Liam seraya menoyor kepalaku. Aku mengkerut ketakutan seraya mendekap kotak hadiahku. Dengan nada gemetar, aku berusaha membela diri.

"Nggak, aku bermaksud kayak gitu. Aku melakukan semuanya sebagai ucapan terima kasih karena dia sudah menolongku-"

"Nolongin lo?"

"I-iya. Wa-waktu itu saya pingsan dan Aidan nolongin saya jadi-"

Mereka saling berpandangan dengan heran. Mata Rizka melebar ketika berusaha mengingatku.

"Oh, i see. Lo cewek yang semaput gara-gara dijemur itu kan?" seru Rizka. Aku mengangguk pelan.

"Alaah alesan aja lo! Itu udah tiga tahun yang lalu. Aidan juga pasti udah lupa kalo pernah nolongin cewek kayak lo. Dasar lo aja yang ganjen!" seru Rizka diiringi tawa Jordi, Marcel dan Liam.

"Jangan ngimpi deh Aidan bakal naksir sama lo. Lo udah tahu kan Aidan udah jadian sama Angela. Jadi buang deh khayalan lo itu!" tukas Rizka.

Aku memang sudah tahu tentang hal itu. Aidan sudah menjadi kekasih Angela sejak bulan lalu. Tapi aku sama sekali tidak peduli. Aku sama sekali tak pernah berharap menjadi kekasihnya. Aku melakukan semua itu sebagai bentuk penghormatan pada satu-satunya pemuda di kampus ini yang masih mau berbaik hati padaku.

"Kalian udah ketemu sama pelakunya, guys?" Suara Angela terdengar dari belakangku. Gadis itu berkacak pinggang di hadapanku dengan ekspresi terkejut.

"Jadi lo orangnya? Lo anaknya Bu Dewi kan?" ujar Angela tak percaya. Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.

Jelas Angela mengenalku. Karena selain dia adalah senior di klub drama, dia juga majikan ibuku. Ibuku bekerja di hotel milik ibunya.

"Siapa tuh Bu Dewi?" tanya Audrey.

"Laudry maid di hotel nyokap gue" sahut Angela datar yang disambut tawa teman-temannya.

"Lha jadi lo anak karyawannya nyokap Angela?" tukas Jordi.

"Wah parah. Bener-bener nggak tahu diri ya lo!" Rizka mendorong bahuku dengan tatapan jijik. Air mataku sudah merangsek ingin keluar.

"Ma-maafkan saya, Kak. Saya nggak akan melakukannya lagi." Kalimat itu meluncur dari bibirku. Aku tak bisa berkata lain lagi selain menjanjikan kalau aku tidak akan melakukan sesuatu yang menurut mereka adalah dosa besar.

Angela menghela napas. Ia memandangku dengan pandangan jengah.

"It's okay. Lo bukan cewek pertama yang tergila-gila sama Aidan. Tapi jangan diulangi lagi ya," tukas Angela singkat. "Yuk guys!"

Ia pun berlalu dari hadapanku.

"Ngerti kan, cewek kampung?" sergah Rizka di depan wajahku dengan seringai sinis lalu mengekor pada Angela dan akhirnya pergi meninggalkanku sendirian di koridor. Bulir-bulir air mataku jatuh tanpa bisa kutahan lagi. Aku bersumpah aku tidak akan pernah melupakan kejadian hari ini.

***

I Used To Love YouDes histoires addictives. Découvrez maintenant