Irene

1K 64 5
                                        

"Ma! Aku masih semester dua ma, masa mamah mau jodohin aku sih?"

Mama menatap gue sambil berdecak beberapa kali.

"Kamu udah besar Ren, masa kelakuannya masih kek anak kecil?"

Gue makin menggeliati tubuh gue karena kesal di sofa. Lalu gue duduk.

"Mamah sih, aku kan masih mau merasakan masa-masa kuliah ku"

"Nih fotonya. Namanya Arlo Biantara. Kamu bakal suka"

Gue menutup mata. Berusaha tidak melihat foto yang di tunjukin Mama.

"Ia, kamu kok gitu sih... ayok lepas tangannya. Liat nih fotonya. Ganteng loh" Mama berusaha melepas tangan gue yang menutup mata.

"Ihh mama. Gak mau. Aku gak peduli ganteng kek, Arlo kek, Calo kek, aku gak akan suka." Berontak Gue.

"Hhh.. yaudah. Buka mata kamu deh. Sekarang kamu maunya apa?"

Saat Gue membuka mata, Mama udah gak megang foto itu lagi.

"Mah, kenapa sih harus jodoh-jodohin aku segala? kan aku juga ada pilihan mah.."

"Emang kamu punya pacar?"

Seketika gue merasa seperti ribuan batu tajam dilempar ke arah gue. Gue berdehem, punya emak kok blak-blakan banget ya lord.

"Mama kok gitu sih, kan aku suka sama kak Zeta, ma."

"Zeta yang semester empat jurusan arsitek itu?"

Gue mengangguk sambil tersenyum malu. Hehhe Mamah ingat aja sama cowok yang sering gue ceritain.

"Dia kan gak suka sama kamu?"

Gue cengok seketika. Ini beneran seorang Ibu kan? Ibu yang akan mendukung apapun yang dilakukan anaknya kan? kok kata-katanya nyesek banget ya kek ABG.

"Ihhh Mamah sama anak satu-satunya jahat banget" Aku cemberut.

"Eh, anak mamah ada 3 loh. Awas aja kalo kakak-kakak kamu denger,"

"Hehehhe kan aku anak perempuan sendiri."

Aku melihat-lihat sekeliling ruang tamu. Untung aja si Buruk rupa belum ada yang bangun.

Aku menggeser dudukku mendekati mama lalu memeluk manja lengannya.

"Maa..."

"Hm"

"Jangan dijodohin ya ma, ya? ya?"

"Tapi sayang, mama Arlo itu udah kayak saudara mama sendiri. Dan ini untuk kebaikan kita semua, percaya sama mama."

"Ck...mama ihh"

***

Gue menaruh tas di meja gue kesal. Dengan Seulgi masih menatap gue gak percaya setelah gue ceritain semuanya.

"What? Lo mau dinikahin?"

"Ck gak usah lebay, dijodohin ya. Dan bisa gak, suara lo dikecilin dikit?"

Vini langsung menaruh tas di samping gue.

"Emang kenapa sampe harus dijodohin sih? lo...." Vini tergagap. Dia lalu meletakkan tangannya di perutnya. "Hamil?"

"Heh! Ya enggak lah! Lo temen atau gak sih pea?" Gue langsung berjalan ninggalin Vini. Dan dia ngejar gue cepat.

Vini menggoyangkan lenganku. "Ren ren. Maap deh.. makanya lo kalo cerita jangan gantung-gantung dong. Kenapa lo mau dinikahin?"

"Emak gue katanya udah berasa sodara sama emak si Calo. Katanya malah kita udah di jodohin dari pas kita dalem perut. Buset gak tuh?" Kesal Gue.

Sumpah tadi pagi bicarain dia, siang bicarain dia, Badmood gue.

"Buset banget malah. Tapi kalo ganteng kan gak papa?"

Gue memutar bola mata.

"Plis deh Vin, lo jangan sama kek emak gue dong. Gak semuanya bisa terselesaikan karena dia ganteng " Kata gue bijak membuat Vini terperangah.

"Tapi lu kan suka sama kak Zeta karena liat muka dia?" Kata Seulgi polos.

Gue menatap Vini datar. "Bisa gak buat gue jadi orang bijak bentar kek. Gak ngerti situasi banget deh."

"Hehhehe iya ya. Maaf maaf. Eh kak Zeta tuh,"

Gue langsung berbalik dan melihat kak Zeta dari jauh. Kayaknya dia lagi ngelawak, soalnya setelah kak Zeta bicara, temen-temennya langsung ketawa ngakak.

"Ganteng banget ya," Gumam gue sambil tersenyum.

"Biasa aja. Ganteng juga kak Gema."

Pas kak Zeta lewat, Seulgi mengangguk kecil sebagai ucapan salam sopan karena papasan sama kakak kelas. Sedangkan gue diam.

"Ssttt.... Rene pea! woi"

Gue seakan baru tersadar dan langsung ikutan masih salam kikuk. Gue beneran terpesona sama sosok Zeta yang Udha dibuat Tuhan sepertinya.

"Eh ah halo kak,"

Kak Zeta dan temen-temennya ketawa liatin gue yang salting. Sedangkan gue nutup mata saking malunya.

"Irene malu yee.." Goda salah satu temen kak Zeta ke gue ketika gue sama Vini udah bangkit.

Gue diem dengan muka datar. Ih paling gak suka di godain gue.

"Kita duluan ya kak." Ucap gue menarik tangan Seulgi cepat. Pas mata gue ama mata kak Zeta ketemu, Gue refleks senyum dan langsung buang muka ketika sadar. Takut liat ekspresi kak Zeta yang anggep gue kecentilan.

Setelah kita sampe kelas, gue ambil nafas. "Vin, keknya gue udah gila deh."

"Kenapa?"

"Tadi gue refleks senyum sama kak Zeta! gila. Gak tau gue kenapa bisa refleks gitu."

"Sumpah lo? pantes kak Zeta senyum sama lo. Gue kira salah liat"

"What? kak Zeta beneran bales senyum gue?" Ucap gue gak percaya.

Sumpah hari ini gue seneng banget. Pertama kalinya gue kontak mata ama orang yang dari ospek udah gue suka. Terus gue teringat dengan yang tadi di bilang Vini.

"Vin, gue suka sama kak Zeta tuh bukan karena ganteng. Tapi karena dia lucu. Karena setiap gue liat dia, gue selalu senyum-senyum sendiri. Lo tau kan pas mereka Ngospek kita, mereka item-item kudel semua"

Vini ngangguk-ngangguk. Mungkin dia berpikir perkataan gue bener.

Ya, emang bener.

"Ren, walaupun gitu, lo jangan lupa sesuatu." Ucap Seulgi dramatis.

"Apaan?"

"Kalo lo dah ada calon suami. HAHAHAHA"

Oh my... gue lupa yang satu itu. Si Calo Arlo siapa kek itu, belum juga ketemu udah buat gue kesel aja seharian.

=========================

Hai Hai Hai

yeah, just Hai. *Lol*

Txq.

Forgotten Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang