Ada yang Mau Datang

31 8 4
                                        

Ponsel Toang berdering. Toang senang bukan kepalang waktu tahu yang menelpon adalah Sekar, gebetan barunya. Dengan semangat membara, Toang mengangkat telepon itu dengan rasa gembira.

"Halo... selamat pagi, Manis..." Suara Toang sengaja diperhalus.

"Udah deh, jangan ngeledek. Masih pagi ini," sahut Sekar dari seberang sana.

"Biarin. Kan aku suka sama kamu karena kamu manisnya alami."
"Plis deh, Toang. Mau ngomong aku tuh!"

"Iya iya, ada apa nih?"

"Aku mau ke rumahmu. Ada di rumah nggak?"

Toang langsung terlonjak. "Serius?"

"Iya serius. Jarang jarang loh aku mau main. Boleh nggak nih?"

Toang langsung girang. "Yaa bolehah. Apa sih yang enggak buat kamu. Pintu rumahku selalu terbuka untuk menyambut kedatanganmu, Manis."

"Err... mulai lagi. Ya udah, abis zuhur aku ke sana ya. Daaaa, Toang."

Telepon pun ditutup. Toang langsung tersenyum lebar. Tak ada angin apapun, tapi durian runtuh datang padanya. Toang mempersiapkan segalanya. Dan tiba tiba berubah menjadi cowok yang rajin bersih-bersih.

"Ini kudu terlihat rapi saat Sekar di sini."

Melirik ke arah jam dinding. Masih pukul sepuluh pagi. Itu artinya, Toang masih punya waktu dua jam lebih untuk mempersiapkan semuanya.
Toang segera mengambil alat pel. Memapasi bibinya yang tengah masak sambil nyanyi lagu Geboy Mujair, lalu masuk ke ruang tamu lagi seraya bersiul.

"Mau ngapain kau, Toang?"

"Ini alat pel kan, Bi. Mau open mic lah aku. Biasa..."

"Hih? Kampreto! Jangan ngeledek bibi. Kualat kau nanti." Bibinya ngomel.

"Mau ngepel bibiku sayang. Jadi jangan ngambek lagi ya."

Toang memeras ujung kain pelnya di atas ember. Kemudian berjalan mundur, sambil menggosok gosok lantai.

"Heh! Jangan sinting dulu kau, anak muda. Bibi belum siap direpotkan."

"Enak saja ngatain aku sinting.  Bibi ini suka sembarangan kalo ngomong. Nanti aku sinting beneran kan bahaya."

"Ya makanya jangan sinting dulu. Bibi kan belum siap." Wanita umur empat puluhan awal itu nyengir. Bibirnya nyungging sedikit ke kiri. "Bukannya begitu. Bibi cuma heran, kau tidak biasanya serajin ini."

"Lah ... bukannya bagus kalo aku rajin?" 

"Bagus sih. Tapi kan aneh." Bibinya membenahi posisi hijabnya yang terasa kurang nyaman. "Emang mau ada hal apa?"

Toang ketawa kecil. Lantas dengan malu malu dia ngaku. "Gebetan aku mau datang ke sini, Bi. Sana Bibi siap-siap."

"Widih... emang punya gebetan? Apel aja tidak pernah kau tuh, Anak Muda. Sekarang sok sokan bilang punya gebetan, dan mau datang ke mari. Kan mustahil."  Nada bicara bibinya sangat menyepelekan.

Toang mengubah mimik wajahnya. Menghentikan kegiatan ngepelnya sebentar. Lalu melanjutkannya lagi. "Pernah lah. Cuma aku tak bilang saja sama, Bibi."

"Heh! Sialan... kau ini apel tidak pernah pamit aku. Kau anggap apa aku ini?" Bibinya mulai dramatis.

"Sudah sana bibi dandan dulu. Dan nantikan calon menantumu, Bi."

"Oh begitu? Baiklah kalau begitu. Biar Bibi mandi dulu."

Bibinya berlalu. Toang masih semangat mengepel lantai ruang tamu itu. Dia bersiul siul. Sambil berkaca,  wah jambangku... udah waktunya bercukur ini.

***

Nama aslinya bukanlah Toang. Namun sejak kecil dia dipanggil dengan sebutan seperti itu. Rambutnya ikal, dengan badan yang lumayan tinggi, Toang pernah menang di ajang Bujang Dere sebagai Bujang Berbakat. Ajang itu semacam Abang None lah kalo di Jakarta. Di Lubuklinggau, sebutannya adah Bujang Dere.

Bujang Lubuklinggau asli. Berkulit bersih, dan matanya agak sipit. Tidak heran kalau kadang Tong dikira lahir dari peranakan Tiongkok. Padalah bukan. Toang bisa nyanyi, tapi tidak jago menyanyi. Bakat itu dia wariskan dari ibunya yang seorang biduan waktu muda. Toang punya susunan gigi yang cukup rapi. Jadi kalau sudah tersenyum, bakal terlihat manis.

Tahun ini Toang bakalan genap berusia dua puluh lima tahun. Usia yang sebenarnya cukup dewasa. Namun terkadang sikapnya tidak ada dewasanya sama sekali. Contoh kecilnya adalah, Toang tidak pernah sanggup merapikan kamar tidurnya.

Tok tok tok.
Pintu kamar Toang diketuk.

"Toaaang!" Pekik bbibinya. "Bibi grogi ini. Enaknya pakai daster atau gamis aja ya?"

Toang masih sibuk nyukur jambangnya. Sambil merotin bibirnya ke kanan, Toang menjawab "Senyamannya bibi aja lah."

Lalu bibinya pergi. Namun baru sedetik berlalu, bibinya ngetuk pintu lagi. "Toaang!! Bibi perlu pakai riasan tidak?"

Toang mulai kesal. Dibukanya pintu kamarnya. Toang bilang, "Pakai aja, Bi. Biar bibi tak kalah cantik sama gebetanku nanti."

"Baiklah, Toang." Bibinya senyum.  Terus berlalu. Kemudian balik lagi. "Toaaang...!"

"Udah udah, senyaman bibi saja."

KONDANGANStories to obsess over. Discover now