B A G I A N 1

17 0 0
                                        

B A G I A N
1

Langit, itu namaku. Terdengar aneh dan langka memang, mendengar nama seseorang dengan kata 'langit'. Aku juga tidak tahu maksud dari kedua orang tuaku menamaiku seperti itu.

Manikku menatap keluar jendela, pemandangan yang aku saksikan sekarang adalah sebuah gunung besar yang di bawahnya terhampar lahan pertanian dengan langit biru tak berawan menyelimuti di bagian atasnya. Pagi ini cerah, siaran salah satu radio dipedengarkan melalui audio mobil yang tak kunjung berhenti menyajikan siaran paginya dengan disertai lagu-lagu yang sedang Hits akhir-akhir ini. Lumayanlah, setidaknya itu dapat menghibur diriku.

Ya sejak kemarin, keluarga ku berpindah tempat tinggal—menuju suatu kota yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggal yang lama—yang mewajibkan ku untuk membantu kedua orangtuaku untuk mengamasi barang, berpindah, kemudian menyusun ulang di rumah baru. Melelahkan. Ditambah lagi Mama tidak mau menyewa sebuah mobil pick up beserta supirnya untuk membantu mengangkut semua barang, alasannya barang-barang yang ada tidak terlalu banyak, jujur saja jika semua barang itu ditumpuk mungkin akan melebihi gunung yang tampak di seberang sana.

"Lang, tolong pindahkan semua box yang berada di dalam mobil ke dalam rumah ya! Biarkan Papamu untuk kembali ke rumah lama dan mengambil barang lainnya." Perintah Mamaku dari dalam rumah yang tentunya dengan teriakan.

"Siap Ma!" Akupun melakukan perintahnya.

Setengah jam beralalu akku telah berhasil memindahkan semua box-box itu yang sebelumnya sudah di turunkan dari mobil. Menumpuk box terakhir kemudian berjalan mendekati sofa putih, duduk untuk beristirahat sebentar. Aku mengeluh perlahan, membiarkan tubuhku beristirahat sebentar.

"Capek Lang?." Tanya Mamaku dengan membawa segelas jus jeruk kemasan, menaruh di meja kecil yang berada di depanku, kemudian duduk tepat di sebelahku. Mungkin ia juga letih akibat proses pindah rumah ini.

"Tak apalah, ini demi keabaikanmu juga Lang. Papa pindah kantor karena untuk menaikkan jabatannya, itu berarti uang yang akan didapat Papa akan semakin banyak. Maka dari itu kamu juga akan mendapatkan keleluasaan untuk membeli apa yang kamu inginkan, Lang." Lanjutnya menambahkan.

Ya, keluarga ku pindah rumah dengan alasan Papa pindah kantor yang mewajibkan keluargaku untuk mengikutinya—walaupun pindah dinasnya tidak jauh-jauh amat, tetapi agar mobilitas dari kantor menuju rumah tidak terlalu lama, salah satu resiko memang tinggal di Ibukota Jakarta. Aku tidak menanggapi ucapan Mama, tanganku terulur untuk mengambil segelas jus jeruk yang dibawa oleh Mama tadi, menenggaknya sekali minum. Aku haus sekali. Mama melihatku terheran, lantas menawarkan apakah aku masih ingin minum lagi atau tidak, aku mengangguk menjawab.

Setelah menuangkan jus jeruk, Mama kembali melanjutkan aktivitasnya yaitu mengeluarkan barang-barang yang berada di dalam box kemudian menyusunnya kembali di rumah baru ini. Aku melihat setiap sudut rumah ini—baru sadar bahwa aku belum melihat secara detail rumah ini. Rumah berukuran 70/120 menandakan luas tanah 70 m2 dan luas bangunan 120 m2 yang dibagi menajdi 2 lantai, dengan lantai berbahan dasar pualam serta tiang-tiang dengan corakan khas eropa menambah kesan mewah dari rumah ini, ditambah dengan warna dasar dari rumah ini adalah putih.

"Besok pagi, Papamu akan mengantar ke sekolah barumu Lang, hanya sekedar mengambil seragam dan melihat-lihat sekolah. Kamu akan memulai sekolah lusa." Ucap Mama memecah konsentrasiku melihat rumah ini, aku hanya membalas iya dan mengingat jadwal 2 hari kedepan.

Tak lama, Papa sudah kembali dengan membawa tumpukan box—syukurlah ini merupakan rombongan box yang terakhir—yang beberapa berisi perlengkapanku sisanya milik kedua orangtuaku. Baik, kerja bakti dimulai lagi.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 22, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

LANGITWhere stories live. Discover now