1 : Jasa Pengirim Surat

222 51 51
                                        

"Love is all we need, isn't?"

---o---

  "ANNAAA"

  Teriakan yang memekik telinga itu berasal dari seorang gadis di depan pintu. Matanya menjelajah, mengenali setiap wajah yang sebagian mulai menatapnya tidak suka. Sampai pada sesosok gadis yang mencoba menutup-nutipi wajahnya karena takut ketahuan.

  "Nn. Anna, gausah ngumpet, lo harus temenin gue atau catatan rahasia lo gue pajang di mading sekolah!" Masih dengan suara membahana, ia berbicara sambil menunjuk-nunjuk ke arah sosok gadis yang kini mulai menampakkan wajahnya.

  Berdecak sebal, gadis itu berjalan keluar kelas dan segera mengenakan sepatu "gue sibuk! Ga liat lo semua temen gue pada sibuk ngurusin pelanggan?"

  "Emang lo ngapain? Daripada disuruh bersihin sampah mending ikut gue. Siapa tau takdir lo hari ini bagusan dikit" 

  Gadis yang dipanggil Anna tersebut berjalan dengan wajah cemberut, kakinya melangkah mengikuti ruas jalan pinggir lapangan, sedangkan sang pengikut di belakangnya hanya tertawa cekikikan melihat tingkah sebal Anna.

  "Lo serius mau ngirim surat buat tuh orang? Ga ada kerjaan banget sih!" Gerutu Anna, dia berhenti untuk menunggu si pengikut mensejajarkan langkah dan berjalan beriringan.

  "Hello! Market day cuman ada setahun sekali, kapan lagi gue bisa ungkapin perasaan pake tradisi jaman dulu, kan! Lagian, seorang Ira Sofia ga kaya Anna Marissa yang cuman berani mendem kaya kunti" cerocosnya, Ira, gadis itu sekali lagi berhasil membuat wajah Anna cemberut.

  Mereka berhenti di sebuah kelas yang letaknya tepat di depan tangga menuju jejeran kelas 10. Di depan kelas, terdapat meja yang di atasnya di letakkan berbagai macam bunga kertas. Anna melirik Ira yang begitu antusias berbicara dengan kakak kelas penjaga bunga.

  "Jadi, kalo beli 2 amplop dapat 1 bunga kak?" Ira menatap Anna sebentar kemudian menyetujui penawaran tadi diiringi dengan anggukan kepala. Sang penjaga bunga memberikan 2 amplop merah bercap 12.4 dan pulpen, dia menyuruh Ira memilih bunga sebagai gratisan karena telah membeli 2 amplop.

  "Yuk, duduk di situ biar privasi kita terjaga!" Kata Ira menunjuk ke meja di BPS (bawah pohon sawo).

  "Kita? Lo kali!" Dengan malas Anna mengikuti Ira dan duduk tepat di sampingnya, matanya mencoba mencari celah untuk mengetahui apa yang ditulis Ira dari balik tangan yang mencoba menyembunyikan kertasnya.

  "Jangan kepo! Mending lo mikirin mau tulis apa" ucap Ira sambil tetap fokus pada tulisannya.

  Anna hanya menatap bingung, satu menit kemudian Ira melipat kertasnya dan memasukkannya ke amplop merah, tidak lupa ia menulis identitas si penerima, "Robby Kurniawan/12.1". Wajahnya jelas menampakkan kebanggaan atas keberaniannya mengungkapkan perasaan.

  "Jangan gitu mukanya, aneh tau!" Anna memangku tangan pada meja sambil mengamati betapa ramainya sekolah hari ini.

  Hari ini adalah hari terakhir market day sehingga orang luar diperbolehkan berkunjung untuk meramaikan suasana. Bagi Anna, hari ini adalah akhir dari penderitaannya mencuci piring, Anna bukan sosok ramah yang bisa memasak atau sekedar advertise  jualan teman sekelasnya, itulah alasan ia dipilih menjadi tukang bersih-bersih yang bisa disuruh buang sampah sampai mencuci piring.

  "Jangan ngelamun! Tuh di isi kertasnya" Ira menyodorkan sebuah amplop dan pulpen ke depan Anna.

Anna mengamatinya dengan wajah bingung "buat apa?" Ia mengambil kertas kosong dari dalam amplop. Sedangkan yang di tanya hanya mengangkat bahu dan pergi, jawaban ambigu pikir Anna.

Sambil menunggu Ira yang ingin menyerahkan amplop pada si penjaga bunga, Anna menulis sesuatu di kertas kosong tadi. Dengan berbekal kemahiran berpuisi, Anna mencoba merangkai kalimat puitis tentang perasaannya. Bukan kalimat yang panjang, tapi cukup mengungkapkan gambaran hatinya yang rapuh saat ini. Dimasukkan kertasnya di dalam amplop. Iseng, ditulisnya nama sang pujaan di balik amplop "Angga" sebelum sempat menulis nama panjangnya, seseorang mengejutkannya dengan menepuk pundak belakangnya, sontak Anna segera menyembunyikan amplop tadi di pangkuannya.

"Wohooo, ada yang dapet pencerahan buat ngungkapin perasaannya nih" Ira menatap Anna dengan senyum menggoda.

Anna menatap kesal Ira "apaan sih!" Dia berdiri dan berjalan hendak kembali ke kelas, tapi ia dikagetkan dengan Ira yang tiba-tiba menarik amplop dari tangannya. Ira berlari menjauh dengan mata yang berusaha membaca deret nama yang tertera di amplop.

Belum habis kesadaran Anna, seseorang menarik tangannya dan membawanya ke arah kelas.

"Apaan sih, kenapa gue main dibawa aja?" Tanya Anna kesal pada si penarik, Anna berusaha mengenali sosok lelaki tersebut dari belakang. Rambut klimis serta hoodie merah yang melekat pada lelaki itu cukup membuatnya tau identitas si penarik. Ia hanya diam sampai mereka berhenti di depan kelas.

"Lo main pergi aja, tuh sampah numpuk, nyun" Anna cemberut, bukan karena panggilan 'manyun' yang dikhususkan oleh sang penarik padanya, tapi karena alasan lelaki itu mencari dan menariknya seperti tadi.

"Ya ampun, Angga Fahriza! Lo narik gue kayak tadi cuman mau nyuruh gue buang sampah? Ketua macam apa sih lo yang tega biarin cewek ngangkat plastik gede gitu sendiri?" Protes Anna kesal. Matanya mencoba menghindari sepasang lensa indah yang selalu membuatnya gugup ketika sedang ditatap seperti itu.

"Ck, emang lo bisa ngapain lagi?"

Jleb.. hati Anna mencelos mendengar pertanyaan bernada sindiran yang dilayangkan oleh orang di depannya.

"Iya Fahri, gue ga bisa ngapa-ngapain, iya!" Anna langsung berlalu ke dalam kelas, meninggalkan Fahri yang sejak tadi menampakkan raut kesal pada teman sebangkunya itu.

---o---

Di lain tempat, Ira tampak senang dengan hasil kerjanya barusan, memberikan amplop Anna pada penjaga bunga untuk kemudian dikirim pada orang yang namanya tertera di amplop.

Hati Ira kian melambung ketika tak sengaja berpapasan dengan kakak kelas yang merangkap menjadi orang pentingnya, Robby. Ira menampilkan senyum terbaik untuk ditujukan pada Robby yang dibalas anggukan singkat oleh Si penerima.

---o---

Love is all we need, right?
But why isn't my love enough for you to look at me?

AMorr

Sepasang mata coklat masih setia membaca deretan kalimat yang terukir apik di selembar kertas yang masih terlihat baru, sudah sejak 5 menit yang lalu si jasa pengirim surat pergi setelah mengantarkan amplop merah padanya entah untuk yang keberapa kalinya hari ini.

Surat-surat lain sudah dibacanya tepat selepas si jasa pengirim mengantar surat, tapi baru surat ini yang menarik perhatiannya. Jika diulas lebih detil, surat ini sama seperti surat-surat yang lain. Entah apa yang menarik perhatiannya, hanya saja sejak beberapa menit yang lalu, lelaki ini seperti jatuh cinta pada kalimat singkat serta nickname dari si pengirim.

Mengulas senyum kecil, diam-diam ia bertekat mencari tahu identitas si pengirim.

---TBC---

I hope you like it, guys! 😊

Like dan comment kalian adalah penyemangatku 😘😘

XOXO   Voment   XOXO

Jalan CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang