Chapter 1 : Pulangnya Afza

304 3 0
                                        

"MBAK CHIEEEE!!!! BAPAK PULANG, MBAAAAAAAKKKKKKK!!!!!"

Sachie tersentak mendengar gedoran tepat di pintu kamar. Refleks, gadis 19 tahun itu terduduk tempat tidurnya.

Lagu "Orange", dari sebuah band asal Jepang, 7!! (Baca: seven oops), yang semula mengalun lembut dari kabel headset yang terjuntai dari telinganya mendadak terputus. Digantikan begitu saja oleh teriakan Stila -asisten rumah tangganya-, yang cempreng mengerikan.

"MBAK SACHHIIIEEEEE.....!!!! CEPETAN MBAAAAKKK!!!" teriak Stila lagi. Kali ini tiga oktaf lebih tinggi, dan sepuluh desible lebih keras dari sebelumnya.

"Iya..., iyaaa...," sahut Sachie, setengah merutuk. "Nggak usah teriak-teriak gitu kenapa sih?"

Stila terkekeh dari balik pintu yang masih terkunci. "Maaf, Mbak. Tapi kalau nggak teriak, Mbak Chie nggak akan bangun sampai besok... Cepet turun ya, Mbak. Mobil Bapak kedengerannya sudah masuk garasi..."

"Iyaaa..., bentar lagi aku turun."

Sachie bisa mendengar suara sandal Stila bergerak menjauhi kamarnya. Sejurus kemudian, cewek itu menghela nafas panjang-panjang, lalu menghembuskannya kuat-kuat. Gila, bisa jantungan kalau setiap hari dikagetkan begitu.

Dia memejamkan mata sejenak, menenangkan diri. Begitu nafas dan denyut jantungnya mulai terasa normal, Sachie beranjak turun dari tempat tidurnya. Dia harus buru-buru menemui ayahnya. Ayah Sachie bukan tergolong manusia sabar. Benar-benar tidak suka menunggu. Namun...

KRAK!!

Kaki telanjang Sachie terasa menginjak sesuatu. Gawai ber-casing silver dengan logo khas apel tergigit itu, kini punya retakan mirip peta benua Amerika di layar sentuhnya.

Rupanya ponsel pintar yang baru setengah tahun dimiliki Sachie itu terjatuh saat ia mendadak bangun tadi. Mengumpat pelan atas nasib barang kesayangannya, Sachie melangkah ke kamar mandi.

Tak sampai dua menit, gadis itu sudah keluar lagi. Sachie mematut bayangan dirinya di depan cermin dekat lemari. Wajahnya basah, begitupun rambut pendeknya yang dicat kemerahan. Disisirnya dengan jari agar tak terlalu berantakan.

Sachie mengambil wristband hitam yang
tergeletak di meja belajar, lalu memasangnya di pergelangan tangan kirinya. Sachie memakainya hati-hati. Dia memastikan tiga buah garis cokelat kemerahan sepanjang 2 setengah cm masing-masing di kulit kuning langsatnya itu tertutupi dengan sempurna.

Sachie sudah sampai di pintu dan siap keluar ketika matanya sekali lagi menyapu seluruh sudut kamar. Ups! Dia melupakan sesuatu.

Sachie kembali ke tempat tidurnya yang bersprei Liverpool FC. Buru-buru dia meraup belasan lembar tissu yang berserakan di sana. Lembaran tissu yang semula putih bersih itu, kini semuanya penuh bercak merah pekat ketika dilemparkan ke kotak sampah.

***

Sachie menuruni anak tangga dua-dua sekaligus. Dia ingin cepat sampai ke ruang tengah di bawah. Sebetulnya bukan ayah yang membuatnya jadi tak sabaran begitu, melainkan kedatangan kakak lelakinya.

Sachie punya kakak lelaki semata wayang. Mas Afza, dia menyebutnya --atau setidaknya dia ingat menyebut kakaknya begitu. Keduanya tinggal di Sleman, Yogyakarta semasa kecil dalam pengasuhan Eyang dari pihak ibu. Ibu mereka sendiri sudah lama meninggal sejak Sachie masih bayi.

Sachie berumur 4 tahun ketika ayahnya pulang, dan membawanya ke Palembang. Namun Afza tidak ikut, dia tetap tinggal di Jogja. Sachie tak tahu mengapa, namun dia menduga penyebabnya adalah larangan dari Eyang Uti. Memang tak banyak yang Sachie ingat dari kehidupan singkatnya di sana, tapi toh masih melekat di kepalanya kalau Afza adalah cucu kesayangan Eyang yang selalu diperlakukan bak pangeran keraton.

SedarahStories to obsess over. Discover now