PART 1

29.2K 675 7
                                        

Hari pertama masuk sekolah setelah libur semester adalah yang terburuk. Kita harus kembali terbiasa bangun jam lima, kembali mempekerjakan otak dengan keras, kembali masuk ke dalam sirkumtansi anak SMA; cheerleaders, bullying, kutu buku, anak caper. Tapi yang terburuk dari yang paling buruk bagi semua orang adalah harus bertemu kembali dengan Emier Farabi, siswa dengan catatan kasus terbanyak dimana hampir setengahnya selalu menyeret nama seorang gadis, Luna Ariana.

"Lun! Luna!" Siswi itu lari tergesa-gesa menghampiri Luna yang tengah berada di dalam kelas, "Lo harus liat kak Rully sama Farabi berantem di ruang musik."

"Hah?!"

Dengan cepat Luna mengikuti temannya berlari menyusuri koridor menuju ruang musik.

Sesampainya disana, kerumunan murid sudah memenuhi ruangan tersebut. Tubuh Luna yang tidak terlalu tinggi, membuatnya tidak dapat melihat secara jelas perkelahian itu. Sekilas Luna dapat melihat Farabi mengusap darah yang terdapat disudut bibirnya dengan menggunakan punggung tangannya. Setiap Farabi mencoba menyerang, Rully selalu dapat menghindar. Dan sebaliknya, Farabi bukanlah musuh yang sulit bagi Rully.

Ruang musik yang berada jauh dari ruang guru membuat perkelahian itu tidak diketahui oleh para guru. Di tengah perkelahian, alih-alih guru yang memisahkan, seorang siswa mencoba memisahkan mereka, dan berhasil. Luna tersenyum karena siswa itu adalah Kendra, ketua OSIS idamannya sejak ia pertama kali masuk di SMA ini.

Luna menarik seragam temannya, melarangnya untuk pergi dari tempat ini seperti siswa lainnya yang sudah tidak tertarik lagi.

"Udah nggak seru ah Lun," ucap temannya.

Luna menggelengkan kepalanya, "Gue mau liat kak Kendra."

Kendra berada di tengah merangkul Farabi dan Rully. Mereka berjalan sambil berusaha melepaskan rangkulan Kendra, tapi tidak bisa. Pandangan Luna terus mengikuti kemana Kendra pergi. Bibirnya tersenyum sampai Farabi berhenti di hadapannya. Sudut bibirnya robek, hidungnya mengeluarkan darah, dan mata kanannya terlihat lebam.

Farabi menempelkan jari telunjuknya didepan bibirnya, "Ssst," ucap laki-laki itu.

Luna memutar matanya. Ia tahu apa yang dimaksud Farabi, diam dan jangan beri tahu kejadian ini pada seseorang. Seseorang yang sangat berharga bagi mereka berdua pastinya.

---------

Farabi langsung dipulangkan setelah perkelahian tadi. Lukanya terlalu parah untuk diobati di UKS. Hal bagus bagi Luna karena ia tidak harus melihat wajah menyebalkan milik laki-laki itu selama enam jam kedepan. ya, enam jam. Karena setelah itu, sekolah bubar dan mereka akan bertemu lagi. Tidak ada cara bagi mereka untuk tidak saling bertemu kembali, karena mereka hidup dalam satu atap. Satu bangunan. Satu rumah. Lebih tepatnya, rumah Luna.

"Gimana liburan lo Lun?"

Luna bernafas berat sebelum ia menjawab pertanyaan temannya, Leoni Fasya, "Jangan ditanya, Fasy. Terburuk sepanjang masa."

"Liburan lo mana ada yang nggak buruk," Fasya menelan makanannya sebelum kembali mengejek Luna, "Kerjaan lo kan cuma tidur-nonton-tidur-nonton."

"Kali ini ditemani oleh teman kita tercinta," Luna menyelipkan senyuman paling terpaksa yang membuat orang akan segera memukul wajahnya, "Farabi."

Fasya menaruh kembali kentang goreng yang tadinya ingin ia makan, "Oh, ya. Itu buruk. BANGET."

Luna mengangguk mendengar respon Fasya.

Fasya adalah satu satunya orang dimana Luna dapat menceritakan segalanya. Ia tahu Luna tinggal bersama Farabi sejak 1 tahun yang lalu, sejarah mengapa Luna bisa tinggal bersama Farabi, dan segala hal tentang betapa tidak tentramnya kehidupan mereka di satu atap.

"Emang nyokapnya nggak jemput dia untuk balik ke Jepang?"

Luna mengangkat kedua bahunya, "Nggak tau, setiap akhir semester nyokapnya selalu jemput dia, tapi kali ini enggak."

Fasya menyipitkan kedua matanya, "Nggak terjadi sesuatu kan?" Tanya Fasya sambil menggambarkan tanda petik dengan dua jari di kedua tangannya.

"Oh yah, terjadi sesuatu," ucap Luna sambil meniru gerak gerik Fasya. "Dapur nyokap gue kebakar."

"Heeyy... lo tau bukan itu maksud gue"

"Ya, dan gue nggak bohong"

Hening.

Fasya seperti terlalu terkejut untuk berkomentar.

"Ya itu bukan kesalahan gue sepenuhnya," Luna mencoba membela dirinya. "Gue laper, nyokap gue masih arisan diluar, Farabi sama Bokap gue malah asik main pes. Jadi, salah siapa?"

Hening. Keadaan tetap hening.

--------

Luna terus menekan bel yang terletak di sebelah gerbang rumahnya. Luna sudah berdiri sejak tadi menunggu sesorang, lebih tepatnya Farabi untuk membukakan pintu untuknya. Luna yakin kedua orang tuanya masih berada diluar dan menyisakan Farabi sendirian di rumah.

"Mencet bel sekali aja kek. Gue nggak tuli."

Farabi membuka gerbang dengan keadaan sangat tidak karuan, terutama dibagian wajah. matanya kirinya lebam hitam, ujung bibirnya masih terdapat luka bekas perkelahian tadi, dan beberapa luka memar di tulang pipinya. Tidak ada perban atau semacamnya menempel di wajah Farabi. Terlihat seperti ia sama sekali belum mengobati lukanya.

"Oh masih idup ternyata," Luna membalasnya ketus.

Luna lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Farabi yang masih berdiri kesal ditempatnya.

Luna berganti pakaian sebelum akhirnya ia duduk di sofa cokelat di ruang keluarga ini menonton White Chicks. Kakinya di selonjorkan ke atas meja dan tangannya memeluk satu bungkus besar ciki yang tadi ia beli saat pulang sekolah.

Farabi-dengan semua memar diwajahnya-terganggu oleh suara tertawa Luna yang benar-benar tidak terkendali. Ia mencoba menahan amarahnya, namun ia tak bisa. Suara tertawa Luna terlalu berlebihan untuk film yang sudah ia tonton berkali-kali.

"Ck," Farabi mengubah posisinya dari tiduran menjadi terduduk di sofa kecil yang berada di samping sofa panjang yang Luna tempati, "Arrgh, ganggu banget sih lo!"

Luna terus tertawa seakan ia tidak mendengar ucapan Farabi. Ya, Ia tidak peduli, karena satu satu nya hal yang Luna pedulikan adalah cara untuk mengembalikan Farabi ke orang tuanya, secepatnya. Ia tidak mau terjebak selamanya bersama siswa dengan kasus terbanyak di rumahnya sendiri.

"Ck"

Farabi- yang terus mendecak kesal- bangun dari sofa lalu berjalan ke depan tv sehingga ia menutupi pandangan Luna. tentu saja, Luna menunjukkan ekspresi kesal di wajahnya.

"White chicks nggak lucu gara gara lo," ucap Farabi sambil pergi menuju kamarnya.

"HAHAHAHA" Luna tertawa terbahak-bahak. Kali ini bukan karena film yang sedang ia tonton, tapi karena Farabi.

Perlu diakui, Luna menang kali ini dan itu membuatnya senang. Karena semakin Farabi kesal, semakin besar kemungkinan ia akan pergi dari rumah ini.

----------

Halo semua! Ini cerita pertama yang berani aku publish. Semoga tidak mengecewakan ya ceritanya. Btw aku kasih foto Logan Lerman karena muka dia selalu muncul di otak aku pas nulis tokoh Farabi HEHEHE.

⚠WARNING⚠
-Dilarang copy paste atau melakukan peniruan dalam bentuk apapun-

LOVE,
Flyingbird

Cinta Satu Atap Stories to obsess over. Discover now