Prolog

115 7 8
                                        

Pada malam penuh berbintang, diriku menatap langit dan bertanya, apakah ia sedang menatap langit yang sama? Haruskah aku berdiam disini atau pergi dan berlalu? Terlalu sejuk disini dan mengalahkan rasaku untuk pergi dari sini.

"Sedang apa kamu sayang? Sudah malam, kamu tidak mau makan?"
Ibu menghampiriku yang sedang duduk, menepuk bahuku pelan. Berat rasanya beranjak dari tempat dudukku, aku hanya menoleh dan mengangguk pertanda aku tidak ingin diganggu.
"Yaudah, lauknya di meja makan, nanti kamu ambil sendiri ya,"
Kata ibu mengelus kepalaku dan kemudian pergi. Aku tersenyum mengangguk.

Malam ini indah, sangat indah, walaupun aku hanya sendiri menikmati suguhan alam yang telah diberi sang Maha Kuasa. Aku pun menoleh ke arah lain,melihat kunang kunang terbang berkumpul, sejenak ku tertegun dan membayangkan mereka menari bersama dengan gemerlapnya cahaya yang dia miliki.

Tanpa melepaskan pandanganku, kulihat satu kunang-kunang yang berputar menjauhi kerumunannya, ia terlihat sendiri atau mungkin ingin menyendiri, persis seperti yang ku lakukan saat ini. Kemudian hadir satu kunang-kunang yang punya cahaya lebih terang, sepertinya kunang kunang itu tertarik padanya, dan mereka berdua terbang beriringan. Lucu memang. Hal ini malah mengingatkan ku pada seseorang. Ah sudahlah aku tak mau mengingatnya lagi.

Jam menunjukan pukul 10 malam. Seharusnya aku sudah tidur karena besok adalah hari pertama masuk kuliah. Mulai besok aku harus memulai hidup baru, lembaran baru, teman baru, dan menjadi aku yang baru. Aku harap diriku mudah beradaptasi oleh lingkungan yang baru, melupakan apa yang sudah terjadi di hidupku. Mengingat kembali seperti ditusuk jarum di telunjuk, sedikit perih. Aku tak ingin mengingatnya lagi. Aku harus berubah dan berubah, meskipun melangkah dari masa lalu adalah hal yang berat.

Aku ingin mengadu kepada bintang di langit untuk terakhir kalinya, bisakah ia tahu akan perasaan kalut yang selalu aku alami ini. Rasa terkukung yang tak lepas dari genggaman masa lalu. Tersadar tanganku menyenggol secangkir teh yang ada disampingku, mungkin tadi ibu menaruhnya tanpa ku sadari. Secangkir teh yang mengepul kini menemani malam dengan keheningan. Malam yang ingin membuatku berdamai dengan kehidupan, namun enggan kulakukan.

Dengan malasnya ku berjalan ke kamarku dan ku rebahkan diriku. Aku mengecek handphone yang tergeletak di sampingku, sama sekali tak ada pesan masuk. Ah, sudahlah. Besok aku akan memulai segalanya tanpa ada lagi jejak masa lalu. Akan kulakukan segalanya, meskipun aku mungkin tidak akan menjadi aku lagi.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: May 06, 2017 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Letter To MiracleDonde viven las historias. Descúbrelo ahora