Prolog

146 6 1
                                        


1

Langit mulai meredup,

cahaya bersemburat jingga dari ufuk barat merambat hangat dalam hembusan angin Desa Jambu Kedung Paso, salah satu desa di Jawa tengah. Selayang pandang ada sesemakan, hamparan padi yang luas, gubuk-gubuk para petani dan warung-warung yang kecil dibangun seadanya dan goyah. Ditanah yang becek nan subur itu membeliak deretan mata makhluk-makhluk kecil yang menyeruak alam. Tatkala manusia melintasi melalui pematang sawah, sebagian dari makhluk kecil itu lari terbirit-birit lalu bersembunyi di balik batu, ada juga yang berhenti bersuara seolah kehadirannya tidak pernah ada. Begitu manusia-manusia itu hilang dari pandangan, semua dari mereka menyumbul kembali: kadal-kadal melompat dari balik batu, kepik muncul dari balik dedaunan, ketam mengambang kembali kepermukaan, jangkrik dan kodok-kodok sawah suaranya kembali menggetarkan udara.

"Sudah hampir 4 hari kita mengelilingi desa ini?" Kata Dewa. "Kuharap ini hari terakhir."

"Ya.. Ya. Kuharap ini hari terakhir.." Kata Komandan Jo mengulangi, ia kemudian menghirup nafas dalam-dalam, "agar perjalanan dinasmu tidak sia-sia."

Dewa sadar bahwa meski ucapannya di dengar namun segenap jiwa dan raga Komandan Jo terkosenstrasi pada sebuah foto yang dia pegang sejak menginjakkan kaki di Desa Jambu Kedung Paso, empat hari yang lalu. Foto itu memperlihatkan wanita berusia sekitar 45 tahun, dengan kelopak mata yang mengembung, mengernyit sipit ketika otot pipinya mendorong daging lingkaran matanya. Tatkala memori wajah wanita itu tersimpan, Komandan Jo bergerak berjalan masuk menuju kedai kopi yang dibangun di atas ruko, Dewa mengikuti.

Kedai Kopi itu kosong. Tidak lama setelah duduk, entah si empunya Kedai Kopi atau si pelayan itu muncul. Namun kemunculan wanita itu memperlihatkan wajah penuh syak wasangka dan kecurigaan ketika matanya bertumbuk pandang dengan dua pria tersebut. Wanita itu memilih untuk menunduk.

Seketika Dewa tertampar oleh kenyataan yang dia lihat: "ini bukan pepesan kosong." Bisiknya kepada Komandan Jo.

"Sore sore ngombe kopi karo mangan gedang goreng koyone enak." (Sore-sore bersama kopi hitam dan pisang goreng enak rasanya). Kata Komandan Jo Keras-keras. "Njaluk tulung cepakno, bu Dian?" (Bisa kamu siapkan itu, Ibu Dian?)

Nama Desa Jambu Kedung Paso berawal dari kemarahan seorang ulama bernama Ki Agung Alim. Diceritakan Ki Agung Alim memerintahkan kepada seluruh santri menyiapkan segala kebutuhan syukuran dengan memerintahkan para santrinya. Termasuk menyiapkan ikan dalam satu malam. Karena tidak bisa dipenuhi oleh para santrinya Ki Agung Alim sangat kecewa dan marah. Seketika itu, tiba-tiba datanglah angin yang sangat besar sehingga semua peralatan dapur yang digunakan memasak kebutuhan tumpengpun kocar-kacir. Peralatan dapur yang lainnya tersebar dimana-mana di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Desa Jambu. Dandangnya jatuh di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Jambu Sedandang. Piringnya jatuh di daerah yang sekarang menjadi Jambu Ujung Piring. Kekepnya jatuh di daerah yang sekarang bernama Jambu Sekekep. Lampingnya jatuh di daerah yang sekarang bernama Jambu Kedung Lamping dan pasonya jatuh di daerah yang sekarang bernama Jambu Kedung Paso, tempat yang saat ini Dewa kunjungi bersama Komandan Jo. Nasi tumpengnyapun berubah menjadi gunung yang sekarang di kenal dengan gunung tumpeng: "Cerito bab Ki Agung Alim lan santri-santrine kui bener onone, Bu Dian?" (Cerita tentang Ki Agung Alim dan santri-santrinya itu benar, Bu Dian?) Tanya pria itu kembali.

Tubuhnya pendek dengan kulit putihnya masih kencang terawat, tidak seperti warga asli jawa tengah yang mayoritas berwarna sawo matang, gosong karena setiap hari harus pergi ke sawah. Sejak Dewa dan Komandan Jo datang, seolah matanya mengisrayatkan dirinya tidak lagi bisa mengelak, tidak kuasa lagi jika mengumpat - semua sudah terlambat, semua harus dia hadapi dengan sekuat tenaga agar tetap tenang – seolah tidak terjadi apa-apa. Namun semakin dia berusaha sekuat tenaga agar tenang, semakin aneh pula gelagatnya. "Kenapa wanita ini diam saja? Apa karena takut?" Pikir Dewa dalam hatinya.

THEYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang