"Sudah hampir 1 jam kau begini terus,tidak bosan?" tanya seorang wanita yang duduk disampingnya-Mina-. Ia tersenyum kaku. Sehebat apapun dirinya dalam menyembunyikan sesuatu,jika sudah didepan sahabatnya itu pasti akan ketahuan.
"Tidak adil ya. Aku sangat ingin menikmati masa-masa remajaku. Bahkan hingga umurku 16 tahun pun,aku sama sekali tidak merasakan 'masa-masa indah remaja'. Aku iri padamu." Gadis itu berkata sambil memandang matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
"Aku yakin,keluargamu ingin kau menjadi pribadi yang baik. mereka tidak ingin kau menjadi anak yang nakal. Meskipun cara mereka salah,tapi tetap saja niat mereka itu baik. kau jangan bersedih Rye,aku kan selalu ada untukmu. Aku tidak peduli meskipun kau selalu dilarang pergi jalan bersamaku,itu sama sekali tidak akan menjadi alasanku untuk menjauhimu." Mina memang wanita yang hebat. Entah ilmu apa yang ia punya. Setiap Mina menenangkan dirinya,selalu saja itu membuatnya tenang.
Aneh memang. Semua yang dikatakan Mina seolah menjadi jalan keluar dalam permasalahannya. Tapi tanpa Mina ketahui, alasan sesungguhnya dibalik kesedihan sahabatnya bukanlah hal yang sesungguhnya ia katakan. Dengan kata lain,sahabatnya berbohong. Demi kebaikan.
"Jae In,tenanglah. Sebentar lagi malam tiba,kau akan dijemput sebentar lagi. Aku pergi ya?"tanyanya meminta jawaban Jae In. yang ditanya mengangguk dan tersenyum.
"Hm,terima kasih untuk hari ini."jawab Jae In seadanya.
"Ya,sampai jumpa disekolah besok."
Mina berjalan menjauhi Jae In. gadis itu terus berjalan menuju rumahnya dengan hati senang menghabiskan hari bersama orang yang sekarang menjadi sahabatnya. Ia berjalan dengan terus ternyum tanpa menyadari seseorang melihatnya dengan wajah kusut. Ahn Jae In.
"Maaf,aku membohongimu lagi. Aku takut kau juga pergi,Mina." Jae In menundukkan kepalanya. Rasa bersalah itu terus muncul saat ia bersama dengan Mina dan 'orang itu'.
Bersamaan dengan tenggelamnya sang surya,cairan bening lolos dari lengkungan matanya. Sampai kapan semua ini berlanjut? Sampai kapan dia akan tetap benci padaku? Batin Jae In.
Entah sudah ratusan atau ribuan kali ia menangis diam-diam. entah sudah berapa kali ia menyembunyikan amarahnya,kekesalannya,dan kesedihannya. Yang semuanya lihat Jae In adalah sosok wanita yang kuat. Tapi tidakkah orang-orang tau,bahwa sekuat-kuatnya wanita pasti akan menangis juga?
--^^--
"Jae In,mau ikut dengan kami?"tawar seorang pria yang berdiri tidak jauh darinya. Warna rambut pria itu cokelat,pipinya chubby,tingginya hanya sekitar 10 cm dari Jae In. Ia menggunakan jubbah hitam.
Jae In menyungginggkan bibirnya. Pria itu sudah siap rupanya.
"Tidak. aku sedang tidak bernafsu." Ucap Jae In yang kemudian pergi menuju kamarnya yang terletak di sayap kiri rumah di lantai 3.
Rumah Jae In terletak di pedalaman hutan kota Seoul. Sangat jauh dari kota. Sangat jauh dari kehidupan manusia. Dan sangat tertutup.
Tidak biasanya Jae In langsung pergi kekamarnya. Bukankah seharusnya ia ikut dengan kami,ada apa lagi dengan anak itu? pikir pria yang tadi ditemui Jae In.
"Xiumin,cepatlah kami sudah lapar."teriak seorang pria kepada pria lainnya yang diketahui bernama Xiumin. Pria itu berteriak dari luar rumah. Mungkin dia kesal karna Xiumin terlalu lama.
"Ne,tunggu sebentar."balas Xiumin dengan berteriak juga.
Jae In tinggal bersama kakak-kakaknya yang semuanya laki-laki. Mereka semua 13 bersaudara. Jae In adalah anak bungsu. Sementara Xiumin atau Kim Min Seok adalah yang tertua. Mereka semua tinggal bersama,tapi tidak pernah terlihat seperti keluarga.
Anak kedua adalah Xi Luhan,ketiga Wu Yifan atau Kris,keempat Kim Joon Myeon atau Suho,kelima Zhang Yixing atau Lay,keenam Byun Baekhyun,ketujuh Kim Jongdae atau Chen,kedelapan Park Chanyeol,kesembilan Do Kyungsoo,kesepuluh Huang Zi Tao,kesebelas Kim Jong In atau Kai,dan kedua belas Oh Sehun.
Mereka saudara tapi kenapa marganya berbeda-beda?. Tentu saja mereka itu saudara tiri. Semuanya. Ayah mereka memang tidak menikah dengan ibu mereka kecuali ibu Xiumin,yaitu Kim Nana. Anggap saja yang lain anak haram yang dirawat oleh Nana dengan hati yang tulus. Nana menerima semua anak hasil hubungan haram Jae Hyung-ayah Jae In dan yang lain-tanpa banyak bertanya.
Ia sudah memahami semuanya. Tau bahwa jika menjadi istri Ahn Jae Hyung pasti akan berakibat seperti ini. Tapi tidak masalah toh baginya semuanya adalah anaknya.
Hanya Jae In yang memiliki marga sang ayah dalam namanya. Karna dia adalah keturunan terakhir dan anak kesayangan Jae Hyung. Ada beberapa kakaknya yang iri dengannya,ada juga yang mengerti dan tidak mempermasalahkan itu sama sekali.
Mereka semua memang bukan manusia. Mereka semua adalah makhluk penghisap darah. Mereka adalah vampire. Hanya saja mereka tidak minum darah manusia,mereka vampire vegetarian peminum darah hewan.
Jae Hyung sudah lama tewas ditangan vampire lain sehingga saat ini Xiumin-lah yang memegang kendali penuh atas keluarga. Terkadang ia kewalahan sendiri mengatasi adik-adiknya yang semuanya keras kepala terutama Sehun. Pria itu hanya akan melakukan sesuatu yang ia inginkan. Dan sangat tidak suka dengan yang namanya 'paksaan'.
YOU ARE READING
Half?
FanfictionBahkan setelah dilupakan, disakiti, dan dibohongi... Jae In tidak bisa membenci kakaknya. Karna semua pengkhianatan itu,bersumber dari dirinya sendiri.
