Hari ini aku pulang naik bus sekolah lagi. Ini merupakan kali ke-empat ku pulang dengan bus sekolah. Jujur saja, aku sangat tidak suka menaiki bus sekolah, karena aku hanya menghabiskan waktu untuk duduk diam dan melihat ke luar jendela selama 40 menit. Apa boleh buat, motor kesayanganku sedang rawat inap, karena seminggu yang lalu aku mengalami insiden tidak menyenangkan yang menyebabkan motor kesayanganku mengalami sedikit masalah. Namun untungnya tidak terjadi hal yang serius pada diriku sendiri.
10 menit menunggu
Akhirnya bus sekolah bernomor 04 datang menghampiriku dan teman-teman di halte bus. Kami berebutan masuk ke dalam bus, aku sebenarnya tidak ingin berebutan seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, kalau aku tidak ikut rebutan, aku tidak bisa menduduki kursi yang terletak di samping jendela urutan nomor 2. Kursi yang selalu ku duduki setiap naik bus ini, entah kenapa aku merasa nyaman ketika duduk disana.
Saat pintu bus benar-benar terbuka, muncullah seorang wanita cantik yang tengah menuruni tangga bus.
"Halo kak", sapaku kepada wanita cantik itu yang merupakan kernet bus tersebut dengan senyuman.
"Hey Bara", balasnya dengan tersenyum sambil menyapa murid lainnya.
Tanpa berpikir panjang aku langsung menuju kursi nomor 2 yang berada di sebelah kiri dan tentunya di samping jendela, sambil melihat teman-teman menaiki bus. Di sampingku duduk seorang laki-laki yang merupakan sahabatku. Namanya Aryasatya Pradipta. Aku sering berkunjung ke rumahnya untuk membantu menghabiskan makannannya. Jangan salah kira, aku ini memang suka makan tapi diimbangi dengan rajin berolahraga membuat badanku tetap bugar.
Setelah penumpang benar-benar berada di dalam bus dan menempati kursi masing-masing, akhirnya bus berangkat mengantar para penumpang pulang kerumahnya, dan juga menjemput para siswa dari sekolah lainnya.
"Stop Pak!", ucap Arya sedikit berteriak kepada supir setelah ia sampai di depan gang rumahnya yang kira-kira menghabiskan waktu sekitar 10 menit dari sekolah.
"Gue duluan ya" sambungnya sambil berjalan keluar dari bis dan meninggalkanku yang duduk sendirian seperti biasanya.
Ku jawab dengan anggukan sambil melihat sekeliling bus yang ternyata sudah lumayan sepi.
5 menit kemudian
Aku masih stay cool di dalam bus sambil menghadap ke luar jendela. Tak terasa bus sudah sampai ke halte selanjutnya. Kerumunan orangpun memasuki bus yang aku tumpangi. Mereka berebutan tempat duduk, karena mereka tahu akan ada yang berdiri, sebab jumlah penumpang selalu lebih banyak dari jumlah kursi ketika mereka memasuki bus.
Mereka sangat ribut, dan ini salah satu penyebab aku tidak suka menumpangi bus sekolah. Aku menghela nafas, iseng-iseng ku lihat ada seorang gadis yang duduk di kursi samping. Aku tak terlalu memperdulikannya dan kembali memandang keluar lewat jendela yang ada di samping kiriku. Bus pun kembali melanjutkan perjalanan dan membawa keributan yang ada di dalamnya setelah orang-orang itu masuk.
"Hallo", sapa gadis yang duduk di kursi sebelahku.
"Oh!,, hai", jawabku sambil menoleh kepadanya dan sedikit tersenyum untuk membalas senyumnya.
"Nama lo Bara kan?"
"Iyaa, dari mana lo tau?", tanyaku heran karena baru pertama kali melihat gadis ini.
"Oh itu, Yani yang ngasih tahu", jawabnya. Tentang Yani, aku dan dia berasal dari sekolahan yang sama dan kami satu angkatan, ia juga menumpangi bus sekolah dan sekarang dia sedang duduk di kursi belakang bersama gengnya.
"Terus nama lo siapa?", tanyaku
"Panggil aja Nita", jawabnya sambil menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman.
"Oh Nita. Udah sering naik bus sekolah?", tanyaku sekadar basa-basi sambil melepaskan tangan kita yang saling bersalaman.
"Lah, lo gak tau?", tanyanya seolah-olah ia tidak mendengar pertanyaanku sebelumnya.
"Tau apa?", aku bertanya balik kepadanya karena aku tidak mengerti apa yang ia tanya.
"Gue lho udah 3 kali duduk di samping lo termasuk hari ini.", Jelasnya.
Aku termenung sebentar mengingat apakah gadis ini pernah duduk di sampingku bahkan sampai 3 kali, padahal aku baru menaiki bus sebanyak 4 kali, jadi hanya sekali aku tidak duduk bersama dengannya. Perasaan aku hanya duduk bersama dengan Arya, tapi memang akhir-akhir ini aku tidak begitu peduli dengan siapa aku duduk.
"Oh ya?", tanyaku kepadanya untuk memastikan.
"Iya, lu sih gak merhatiin orang yang ada di sekitar lu", jawabnya.
Ada benarnya juga ini cewek, berarti dia diam-diam sering memperhatikan aku.
"Iya juga sih, sorry"
"Iya, gak kenapa kok", jawabnya dengan senyuman
Suasanapun kembali senyap seperti sebelum ia menyapaku. Detik demi detik berlalu dengan kesunyian diantara kami. Dan setelah beberapa menit akhirnya ia berbicara dengan temannya, entah apa yang mereka bicarakan aku tidak peduli.
"Stop pak!", kata Nita dengan lantang.
"Gue duluan ya Bar", ucapnya kepadaku dan ia juga mengucapkannya kepada teman-temannya yang lain.
Nita dari sini? Tanyaku dalam hati. Aku merasa heran mengapa aku tidak mengenalnya. Padahal rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Aku terus memikirkan hal itu, tak terasa bus yang aku tumpangi sudah sampai di depan rumahku.
"Stop pak!", ucapku seraya turun dari bus tanpa mengucapkan sampai jumpa ke siapapun
"Hati-hati Bar" ,tiba-tiba seseorang mengucapkan itu kepadaku namun aku tidak menjawabnya ataupun menoleh kepadanya, seolah-olah aku tidak mendengarnya.
Setelah turun dari bus, aku kemudian berjalan kaki masuk ke rumah sambil terus memikirkan siapa yang mengucapkan kalimat itu tadi.
To be Continued
Halo semuanya, selamat datang di cerita pertama aku semoga kalian suka. Saran amat sangat dibutuhkan karena aku hanya seorang penulis amatir
Vote dan Comment jangan lupa
-mnjy
VOUS LISEZ
Ask Me Why
Roman pour AdolescentsIni adalah kisah ku. Diriku yang berada diantara beberapa pilihan. Hal yang akan membuat kalian menyalahkan diriku. Tapi aku percaya bahwa ini hanyalah permainan takdir. Karena sebuah perasaan tidak dapat disalahkan. Edited by:greentxx
