1. Membuat Kesalahan

185 14 5
                                        

"Dean, bangun oi!!"

Sebuah suara yang setengah berbisik, menggema di gendang telinga Dean. Dengan cuek, ia membalikkan kepalanya menghadap ke sisi yang berlawanan dengan arah suara. Lalu membetulkan posisi tidurnya tanpa membuka mata sedikitpun.

"Deaaaaannn!" Kali ini dengan pekikan tertahan disertai guncangan heboh di lengannya.

"BERISIIIKK!!!" Bentak Dean tanpa beralih dari posisinya, masih dengan mata terpejam.

Tok tok tok tok.

Hening, hanya suara langkah kaki bersepatu pantofel yang terdengar. Lalu...

PLAAKKK

"Wadoooouuuhhh!!" Pekik Dean langsung terbangun dari tidurnya. Ia mengusap-usap jidatnya yang perih bukan main dengan kesal. "Roti asin! Siapa sih yang berani-beraninya ganggu mimpi indah gue?!" Teriak Dean dengan mata nyalang mencari-cari benda apakah yang baru saja menyentuh jidatnya, tapi tak juga ditemukannya.

Sebuah tangan putih, nyaris seperti mayat, bergerak perlahan menyodorkan penghapus papan di depan mata Dean. "Ini yang barusan ganggu mimpi indah lu. Lagian tidur di kelas pake nggak mikir," ujar si pemilik tangan dengan suara rendah namun tetap tak menyembunyikan nada ketus di sana.

Dean baru saja ingin membuka mulut untuk menjawab, namun sebuah kenyataan membuatnya tertegun. 'Lagian tidur di kelas pake nggak mikir.' Tidur di kelas. KELAS.

Serasa disambar petir, Dean menengadahkan kepalanya menghadap lurus ke depan. 'Sayur busuk, lagi-lagi gue ketiduran di kelasnya brokoli.' Batin Dean mulai menyadari keberadaannya.

Dengan salah tingkah, Dean berdeham-deham keras sambil meraih buku apapun yang ada di depannya, menghindari tatapan tajam setajam mata singa kelaparan yang sedang menatapnya buas. Sementara seorang gadis dengan kulit seputih mayat di sampingnya mencebikkan bibir kesal.

"Eh balikin, nggak tuh buku!" Pinta Karin, cewek putih pucat itu.

"Ntar gue balikin." Jawab Dean singkat dengan mata tak beralih sedikitpun dari buku yang sedang diamatinya dengan pikiran campur aduk.

"Andrean Martin!"

Seketika lidah Dean kelu, suaranya lenyap entah kemana. "Y yaa pak?" Susah payah ia menyahut, dan lebih susah lagi menyeret tatapannya beralih pada kumis pak Jarot yang naik turun menahan marah.

"Silahkan tinggalkan kelas saya, dan lanjutkan kegiatanmu di luar." Pintanya jelas dan tegas. Dean langsung melemparkan tatapan memelas - yang seringkali manjur bagi guru-guru wanita - dan akhirnya mendengus karena ternyata tak manjur bagi pak Jarot. "SEKARAAANG!!"

Dengan lemas, layu, lunglai, Dean melangkah keluar dari kelas, setelah sebelumnya menyodorkan kembali buku yang tadi sempat diambilnya, kembali ke pangkuan pemiliknya. Karin hanya menyambutnya dengan tatapan kasihan yang makin membuat Dean mendengus pasrah.

Selangkah sebelum kaki Dean menyentuh pintu, suara berat itu kembali terdengar. "Andrean, jangan lupa sikap patung satu kakinya."

Dan kali ini Dean benar-benar mendengus keras.

*****

Dean berdiri di koridor kelas, lengkap dengan sikap patung satu kaki ala pak Jarot - satu kaki terangkat ke depan setinggi pinggang dan ditekuk 90°, kedua tangan terentang dengan mulut terselip pulpen. Kedua daun telinganya disumpal dengan headset yang sudah tersambung ke hp-nya di kantong celana. Beberapa kali ia bersenandung mengikuti alunan musik dari hp dengan suara sepelan mungkin agar tak didengar pak Jarot yang sedang sibuk mengajar di kelasnya.

Sayangnya, bukan pak Jarot namanya kalau indera penglihatan dan pendengarannya cacat. Tiba-tiba saja guru terkiller seantero sekolah itu sudah berdiri di depan Dean sambil berkacak pinggang pongah. Kumisnya naik turun menandakan ada sesuatu yang salah.

Dengan satu hentakan cepat, pria berambut agak keriting itu mencabut kabel headset dari hp Dean. Seketika musik dari hp-nya langsung menggema memenuhi koridor. Dean yang kaget karena ketangkap basah langsung mematikan musik di hp, mengantonginya kembali lalu memasang cenggiran kuda yang bahkan tak menggerakkan hati pak Jarot sedikitpun.

"Kamu itu lagi saya hukum, bukan berarti kamu bisa enak-enakkan dengar musik. Pasang telingamu ke pelajaran di dalam!"

Dean yang memang tak bisa berkata apapun lantaran ada pulpen di mulutnya, hanya dapat mengangguk-angguk cuek.

"Awas yah, kalau kamu ulangi lagi, saya suruh lari keliling lapangan basket 20 kali sambil bilang 'saya berjanji tak akan mengulang kesalahan yang sama lagi', biar kamu diliat semua orang."

Setelah memberikan ultimatumnya, pak Jarot kembali ke kelas dengan tenang. Sementara Dean langsung meringis ngeri di tempatnya. Baru membayangkannya saja lututnya sudah terasa ngilu. Apalagi ketika memikirkan statusnya sebagai salah satu most wanted di sekolah, ia yakin hal memalukan itu bisa langsung menjatuhkan pamornya hingga ke inti bumi.

Bukan bermaksud pamer atau lain sebagainya, Dean adalah salah satu murid yang, dapat dibilang, berlangganan menyumbangkan piala bagi sekolahnya. Ia adalah salah satu atlet badminton yang sudah sering mengharumkan nama sekolah bahkan sampai ke tingkat provinsi. Hal itu pula yang membuatnya banyak digandrungi cewek-cewek di sekolahnya, selain karena tampangnya yang juga good-looking.

Mengingat hal itu, senyum Dean langsung terbit kembali. Namun sedetik kemudian sirna. Sebelah kakinya mulai terasa kram, dan sendi-sendi di kedua lengannya berkedut-kedut, letih. Sementara itu, keringat halus mulai membanjiri permukaan kulitnya.

Ia sudah berniat menurunkan kedua lengan dan sebelah kaki sekedar untuk beristirahat sejenak ketika dehaman khas pak Jarot kembali terdengar dari kelas, disusul suara beratnya.

"Baru 15 menit, Dean. Anak laki-laki tidak boleh manja!"

'Uggh, dasar brokoli basi!' umpat Dean dalam hati (jangan heran, Dean memang selalu merutuk dengan nama jenis-jenis makanan). Kalau saja tadi ia tak mendapat ancaman ekstra dari pak Jarot soal lari keliling lapangan itu, ia pasti sudah memberontak. Bisa-bisa kaki dan lengan atletisnya lecet akibat hukuman ini.

Lagi-lagi, Dean hanya dapat mendengus pasrah. Berurusan dengan pak Jarot memang tak pernah menyenangkan. Ia berjanji akan mencatat hal itu baik-baik dalam ingatannya.

Namun, seakan memang hari ini dewi fortuna tampaknya sedang menjaga jarak darinya, suatu bencana lainnya datang.

Dean yang baru saja mengganti kaki yang menjadi patokan dan melambai-lambaikan tangan untuk melemaskan otot-otot lengannya tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah sapaan bernada heran yang anehnya lebih menyeramkan dari bentakan pak Jarot sekalipun.

"Lho, Dean?!"

Dan dunia Dean meluruh menimpanya saat itu juga.

TBC

Sebenarnya aku bingung, gimana sebaiknya nyapa kalian. Lantaran aku yang udah lama vakum trus tiba-tiba muncul lagi, dengan seenak jidat hapus part-part lainnya dan kembali nulis dari part 1.

Jadi sebenarnya, aku cuman mo melakukan beberapa perubahan, sih. Soalnya part-part yang kemarin agak kurang gimanaaaa gitu. Mungkin itu juga yang bikin aku sempat susah dapat feel buat lanjut nulis kemaren (huhuhu).

So, sekarang aku balik lagi. Dengan part 1 yang udah kuubah di beberapa bagian, tapi intinya tetap sama sih. Hope u like it, gais.

Don't forget to vote and comment. Thks😊

~G

WeirdieStories to obsess over. Discover now