Bagian 1

230 28 4
                                        

Pandangan matanya menatap kosong pada lembaran kertas yang berserakan di meja kerjanya, cukup lama ia menatap semua benda di depan matanya seperti itu. Ini merupakan salah satu cara otaknya beristirahat dari keegoisannya memforsir semua bagian tubuhnya untuk bekerja. Seperti malam ini, ia kembali terlibat pada sebuah projek cukup besar untuk arsitek muda seperti dirinya. Karena kebiasaannya yang selalu bersungguh-sungguh mengerjakan setiap proyek yang dipercayakan padanya, membuat di usianya yang masih tergolong muda—26 tahun—ia sudah menjadi seorang arsitek madya.

"Yas, kamu boleh pulang sekarang." Seorang lelaki yang merupakan atasan di setiap proyeknya, menepuk bahunya ringan.

Dias terperanjat. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal—merasa tak enak ketahuan atasan sedang melamun saat bekerja.

"sudahlah yas, saya tidak keberatan kalau kamu melanjutkan pekerjaanmu itu esok hari." Dias menggeleng pelan, masih dengan wajahnya yang datar "maaf pak atas ke tidak profesionalan saya melamun saat bekerja. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi."

Pak Ridwan tersenyum menatapnya, anak buahnya yang satu ini selalu saja keras kepala jika berhadapan dengan pekerjaan. Jelas saja pak Ridwan tahu betul suka cita dan semangat yang menggebu saat terlibat dalam sebuah proyek besar, bekerja sampai larut malam bukanlah masalah yang besar. Namun, apa yang dilihat pak Ridwan pada Dias, bukan merupakan gambaran dari semua perasaan yang tadi dijelaskan, yaitu perasaan bahagia. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada diri Dias, ia memang tidak pernah mengecewakan siapapun pada setiap pekerjaannya. Setiap proyek yang melibatkan Dias pun, selalu mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak. Namun, pada kenyataannya, semua itu tak mampu membuat Dias terlihat bahagia.

"omong kosong. Kamu sedang mengolok-ngolok saya?" Pak Ridwan menyipitkan matanya dan menatap Dias dengan penuh selidik, berpura-pura terdengar serius, mencoba mencairkan suasana, yang tentu saja gagal mengubah wajah tanpa ekspresi Dias.

Dias sedikit terkejut dengan perkataan pak Ridwan. "bukan begitu maksud saya pak."

"sudahlah, sekarang kamu pulang, lanjutkan pekerjaanmu itu esok hari." Dias hendak membuka mulutnya, "ini perintah, dan saya tidak mau mendengar adanya bantahan lagi." Pak Ridwan meninggalkan Dias dan berlalu ke ruangannya.

Dias melihat arloji yang bertengger megah di pergelangan tangannya yang kokoh—pukul sebelas. Ia menghela nafasnya, membereskan barang-barangnya dan bergegas untuk pulang.

*

Dias memakirkan HRV hitamnya pada garasi rumah kedua orang tuanya. Bukannya ia tak mampu untuk membeli rumah, jelas saja penghasilan dan komisi yang ia dapatkan di setiap proyek yang ia kerjakan dapat membeli satu apartemen nyaman di dekat kantornya. Bukan juga karena ia tak mau meninggalkan rumah ini, jelas saja ia ingin hidup terpisah dan mandiri, terlebih ia selalu merasakan ketegangan setiap berada di rumah ini. Ibunya lah yang memintanya untuk tetap tinggal di rumah ini untuk menemaninya, karena kakak perempuannya memilih untuk tinggal di luar kota mengejar mimpinya.

Dias baru diijinkan untuk tinggal terpisah saat ia sudah menikah nanti, setidaknya Ibunya yakin ada seseorang yang dengan senang hati mengurus anak lelaki satu-satunya ini.

"lembur yas?" Dias menghentikan langkahnya di tengah jalan menuju kamarnya, mendapati ibunya menunggunya di meja makan.

"Ibuk nunggu Dias pulang kantor?" Ibuk hanya tersenyum, "Buk, Dias sedang terlibat proyek cukup besar. Setiap malamnya bisa saja selalu lembur." Dias memberikan pengertian pada Ibunya. Ibuk hanya tersenyum dan tidak menghiraukan perkataan Dias barusan.

"kamu sudah makan malam, yas?" Dias mengerutkan keningnya, bingung dengan pertanyaan Ibunya.

"loh, kok malah diam?" Ibuk menatap Dias, tersenyum dengan lembut.

Tiba-tiba salah satu pintu kamar terbuka, menatap Dias dan Ibuk dengan tatapan datar.

"Ibuk daritadi memastikan semua makanan yang ada di meja makan tetap hangat, tugas kamu cukup makan sampai habis." Pria yang walaupun rambutnya mulai memutih termakan usia, tetapi tetap tidak kehilangan kharismanya. Tatapan matanya yang dingin diarahkannya untuk menatap Dias.

"Ayah.." Ibuk langsung menatap nanar suaminya. Melalui tatapan matanya, Ibuk memohon untuk tidak menimbulkan ketegangan dengan puteranya kembali terjadi pada malam ini.

Dias menatap Ayahnya tanpa ekspresi, ia sudah sangat terlatih menanggapi situasi seperti ini. Sejujurnya ia sudah lelah dengan semua situasi ini, tapi entah mengapa sangat sulit baginya untuk bisa melepaskan diri.

Dias menatap Ibuk dengan tatapan yang melembut "maafkan Dias buk, Dias sudah makan tadi di kantor bersama rekan-rekan satu tim. Dias akan memakan makanan ini esok pagi, Dias janji." Ia menggangguk menyesal pada ibunya, dan berlalu masuk ke kamarnya. Menutup pintu kamarnya, meskipun tidak kencang, tapi cukup mengeluarkan suara dentaman.

"kau lihat? Putera kesayanganmu itu selalu saja membuatku kesal." Ayah Dias menatap pintu kamar Dias dengan perasaan jengkel yang menguasainya.

"bukankah Ayah sendiri yang membuatnya berprilaku seperti itu?" Ayah Dias menoleh, menatap isterinya tak percaya "kau mau bilang kalau ini salahku? Aku hanya ingin ia menghargai apa yang kau lakukan untuknya."

"aku tahu persis apa yang hendak kau utarakan. Hanya saja cara yang kau pilih untuk mengutarakannya yang menurutku kurang tepat." Ibuk menghela nafasnya, berusaha tersenyum.

"sebaiknya kita tidur, atau aku akan kesiangan menyiapkan sarapan untuk kalian berdua esok pagi." Ibuk mengapit lengan yang tetap kokoh, meskipun usia sang pemilik telah berada pada akhir 50 tahun dan membimbingnya menuju kamar.

Usia juga tidak mampu melunturkan wajah bertekstur tegas serta keras milik ayah Dias. Kulitnya yang berwarna gelap dan badannya yang tegap terbentuk saat pelatihan pada masa mudanya serta semakin ditunjang dengan pencapaian karirnya. Wajah dan postur yang terduplikat secara—hampir—sempurna pada Dias saat ini.

*

Di dalam kamar Dias

Dias berada di bawah shower, rasa dingin dari air semakin terasa dingin pada waktu malam, tapi, seberapa pun rasa dingin menusuk tubuhnya, tak akan mampu meringankan panas yang ada pada dirinya.

Setiap harinya, perasaan rindu yang ia tahan selama bertahun-tahun selalu menyiksanya tanpa ampun. Rindu yang sekalipun tak pernah berkompromi dengan apapun keadaannya pada saat itu. Rindu yang  bahkan tidak memikirkan segala sakit hati yang sudah ia rasakan, bahkan sebelum rasa rindu yang kurang ajar ini ada.

Seberapa kuat pun ia melawan, nyatanya sampai detik ini pun, tak pernah sekalipun ia menang. Tak peduli seberapa tegap badannya, seberapa keras wajahnya, ia tetaplah kalah jika dihadapkan pada satu persoalan:rindu.

Ia merindukan sebuah senyuman, sebuah tawa renyah, sebuah wajah manis yang pada masa tergelapnya, selalu bisa menghiburnya. Satu nama yang untuk pertama kalinya berhasil mengisi hatinya, dan tanpa sadar menjadi pusat kebahagian pada dirinya.

Entah sudah berapa tahun berlalu, nama itu masih dengan bandel berada di pikirannya. Tanpa sadar membuatnya menutup hatinya untuk beberapa orang yang tertarik untuk mengisi hatinya.

Dan di saat ia mulai terbiasa mengendalikan rindu itu, kenangan dari sang pemilik nama kembali menggali seluruh kenangan yang ia punya tentangnya dan tanpa ampun memporak-porandakan seluruh pertahanan yang selama ini susah payah ia susun.

Kehadiran sang pemilik nama yang kembali hadir dalam kehidupan monokromnya, membuatnya kalang kabut memikirkan langkah apa yang harus ia tempuh.

Memperjuangkannya atau melupakannya?

Satu nama yang sampai detik ini pun selalu menjadi pusat perputaran musim pada kehidupannya. Florita Humaira.

*Catatan:

Monokrom: hitam dan putih

TBC

Sebelumnya saya pernah published, tapi karena belum memungkinkan untuk dilanjut, saya unpublished terlebih dahulu. Insyaa Allah sekarang bisa saya publish sampai selesai, aamiin 😀

SeasonsStories to obsess over. Discover now