1. Aneh

86 14 22
                                        

  

   Pagi ini aku bangun lebih awal. Karena hari ini aku harus segera ke sekolah untuk mengerjakan tugas Matematika ku yang belum selesai.

" Jessica, mau bawa bekal??  ",teriak mamah dari dapur.

" Iya mah ",jawabku dari dalam kamar yang masih bercermin dan memakai topi sekolah.


Sudah menjadi kebiasaan mamah untuk bekerja di dapur pagi pagi seperti ini. Dan pertanyaan seperti tadi selalu dilontarkannya saat aku akan berangkat sekolah.

Dirumah kami hanya ada aku dan mamah. Karena ayah telah pergi meninggalkan kami dari rumah, dan menikah lagi dengan seorang wanita kaya.

Untuk itu lah mamah harus menjadi tulang punggung keluarga,dan mamah pun harus mendirikan toko roti yang bernama ( Chocolate) untuk memenuhi kebutuhan kami.

Dan juga sudah tugas mamah untuk selalu membuat roti pesanan para pelanggan.

" Jessica?? Turun nak.. Byan sudah datang ",
teriak mamah sekali lagi.

" Iya mah Jessi dateng ",sahutku yang masih ada di dalam kamar.


     Aku pun segera keluar dari kamar dan menuruni anak tangga yang hanya terdiri dari sepuluh anak tangga itu.

Gggllllbbbbakk!!!....

" Aduhhh... ",rengekku karena kesakitan.

Entah kenapa  dengan ku? Aku tiba tiba tersandung saat ingin berlari menuju ruang tamu. Dan itu semua gara gara tali sepatu ku yang belum terikat rapi.

" Hmm nak.. Kamu ini ceroboh lagi. Ayoo bangun ",mamah pun mengulurkan tangan dan membantuku berdiri.

" Sini.. Aku benerin ",sedangkan laki laki bertubuh tinggi dengan 178 cm itu langsung berjongkok dan mengikatkan tali sepatuku.

" Aduhhh... Jessi gara gara kamu mamah jadi kesiangan kan ke toko. Ini bekal ama kunci rumah nya. Mmmuahh bye..  ",

Mamah pun segera berjalan keluar dan meninggalkan aku juga Byan di dalam rumah sendiri.

" Makasih ya ",kataku pada Byan.

" Hmm.. Dah ayok ",jawab Byan sambil berlari kecil keluar.

Aku dan Byan adalah sahabat dari kecil. Keluarga kami juga sangat akrab,sudah seperti saudara sendiri.

Mamah pernah menceritakan padaku jika pertama kali aku bertemu Byan saat umurku empat tahun.

Dulu keluarga Byan adalah warga baru di komplek Berlian ini.

Dan rumah kami pun bersebelahan, bahkan dari jendela kamarku aku bisa melihat kamar Byan.

Karena kamar kami sama keberadaannya di lantai atas.

Sudah 13 tahun aku bersahabat dengan Byan. Dan kami juga sangat dekat.

Dari SD, SMP, hingga SMA ini kami selalu berada di sekolah yang sama. Walaupun berbeda kelas.

Dan setiap hari kami pun selalu pulang, pergi ke sekolah bersama.

__________________

Beberapa menit kemudian ...

Tepat nya pukul 06.50 WIB. Kami sudah sampai di depan sekolahan.

Suasana di sekolah kali ini belum terlalu ramai. Padahal sudah hampir pukul tujuh.

" Hmm.. Jessi sini sini ",Byan pun menarik tubuh ku kedekatnya.

" Ihhh paan sihh ",sahutku.

" Kamu kalo pakek topi jangan kayak pemimpin upacara deh, matanya sampek ilang gitu.. Ohh, pantes tadi sampek lupa nali in sepatu ",omel Byan panjang lebar.

Dia pun juga melepaskan topi sekolah yang sejak tadi ku pakai.

" Heh.. Hati hati ",ia juga langsung berlari menuju kelasnya. Dan meningalkan ku sendiri.

    Aku pun berjalan melewati lobi sekolah.
Dan terlihat dari kejauhan dua gadis yang sedang berjalan kesusahan dengan membawa cukup banyak buku.

Ya, aku seperti mengenal mereka. Yang satu berambut panjang dan bertubuh agak kecil, juga putih.

Yang satu nya lagi berambut pendek ala sakura, bertubuh agak lebih dari kecil dan berkulit cokelat.

Aku pun segera berlari menghampiri mereka yang ada di koridor sekolah.

" Selamat pagi ",sapaku pada mereka.

" Hhhhaaaa!!..  ",tiba tiba gadis yang berambut panjang tadi terkejut dan menjatuhkan semua buku yang di bawa olehnya.

" Sesil apaan sihh, kan aku cuman ngasih salam. Kok ampek segitunya sih? ",
tanyaku.

" Iya nih tauk, belakangan ini Sesil sering kagetan Jes ",jawab gadis berambut ala sakura itu yang adalah Lisa.

Aku pun segera membantu Sesil membereskan buku buku yang terjatuh dan berserakan di lantai itu.

"Hm,gak papa kok aku tadi abis ngalamun",

Jawab Sesil dengan gugup seperti orang yang sedang ketakutan.

Kami bertiga pun kembali berjalan menyusuri koridor sekolah.

" Nak, buku buku nya di taruh ke ruangan ibu aja ya ",kata dari bu Zeo yang sudah ada di depan pintu ruangannya. Saat kami hendak melewatinya.

" Enggaaaakk!!...  ",tiba tiba Sesil pun berteriak lagi.

" Kamu kenapa?  ",tanya Lisa jengkel.

" Udah.. Mungkin Sesil abis ngalamun lagi ",
jawabku.

" Untung pas kamu teriak gaje, bu Zeo udah masuk ruangannya ",sahut Lisa sekali lagi.

Sesil pun hanya diam dan menunduk. Entah ada apa dengannya hari ini.




A Dream Where stories live. Discover now