Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Sore ini, Callysta gelisah. Bukan gelisah yang dalam artian negatif,ia hanya bingung harus bagaimana dalam mengekspresikan perasaannya. Senang, bercampur bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Bahkan seorang Callysta yang biasanya akan menjerit jika sesuatu yang diinginkannya tercapai, kini justru linglung setengah mati. Gadis bersurai hitam pekat yang panjangnya hampir sepinggang itu akhirnya mendudukkan badannya pada tepi kasur. Mencoba memanggil egonya untuk membantu menuntaskan kegelisahan yang ada. Jadilah Callysta ada pada titik untuk menghubungi Naline, teman karibnya.
"Halo?" Naline menjawab diujung sana dengan nada malas-malasan bercampur sedikit serak.
"Kau sedang tidur?"
Gadis berdarah Korea-Jerman yang merasa jika suaranya terdengar seperti seseorag yang sedang bangun tidur, berdehem untuk mengembalikan suara aslinya.
"Tidak juga kok, ada apa?"
"Temani aku makan diluar, yuk?"
"Makan? Tumben sekali. Kakakmu tidak membuat sesuatu?"
"Tidak sih. Aku hanya tidak berselera makan di rumah. Mau ya?"
Naline menghela napas disana. Ia pikir , Callysta mungkin ingin bercerita sesuatu. Itu hanya alibinya saja untuk mengajaknya makan bersama. Naline sudah sangat mengenal Callysta sejak lama, tentu ia tahu.
"Mau makan dimana?"
"Nanti kuberi alamatnya lewat chatt, kita langsung bertemu disana saja."
"Jangan lama-lama."
Begitu Callysta berjanji untuk datang tepat waktu, ia lalu memutuskan sambungan teleponnya. Segera berganti pakaian, lalu membalas pesan 'ya, aku bisa' untuk seseorang disana.
•••
Hyungwon langsung duduk menempel pada Jooheon di sofa kamarnya. Lelaki itu menunjukkan balasan chatt dari Callysta. Ia sudah membuang lima belas menit berharganya dengan berjalan mengitari kamarnya hanya untuk menunggu balasan dari gadis itu. Tak sia-sia bagi Hyungwon jika jawabannya mengiyakan. Bayangkan saja bagaimana girangnya Hyungwon saat ini.
"Aku harus apa?"
Jooheon yang melihat gerak-gerik karibnya yang bersikap untuk tidak salah tingkah , justru tertawa sembari menepuk punggung sang teman.
"Tentu kau harus bersiap-siap dan temui dia."
"Kau ikut denganku ya?"
Jooheon mengernyitkan dahinya. Mencoba mencerna bahkan menelisik kata-kata dari apa yang diucapkan Hyungwon barusan. Hyungwon yang tak sabaran sebab tak ada jawaban apapun dari Jooheon , sekarang berlutut di depan pria bermata segaris itu.