Sebuah Kisah dari Korea

24 1 0
                                        

"Apa kelak aku bisa menemukan cintaku, Bu?" Min A kembali duduk setelah dibuai pada pangkuan ibu. Terhenti nyanyian ibu mendengar pertanyaan dari Min A. Wajah jelita Min A menandakan bahwa ia menanti sebuah jawaban. Tatapan Min A kosong, karena ia seorang buta.

"Semua orang berhak bahagia karena cinta."

Min A tidak puas dengan jawaban ibu yang jelas sekali tidak sesuai dengan konteks pertanyaannya. Min A kecewa. Suasana hatinya membendungkan senyumannya.

"Aku tau, Bu. Tapi bagaimana cara aku menemukan cintaku sedangkan aku seorang buta. Bahkan aku tak dapat melihat. Dunia terasa gelap." Air mata tak keluar dari mata butanya. Tapi, aura kesedihan begitu terpancar dari raut wajahnya.

"Apa kau pernah bahagia, anakku?" Kini ibu yang kembali bertanya kepada Min A. Min A bingung dengan pertanyaan ibunya.

"Pernah." Min A yakin sekali bahwa ia pernah bahagia.

"Hal apa yang membuatmu bahagia?" Ibu kembali bertanya. Min A semakin tak mengerti maksud pertanyaan ibunya. Min A mengingat-ngingat kembali hal yang dulu membuatnya bahagia.

"Saat ibu ada untuk menghiburku, setelah aku diejek oleh teman-temanku. Sesaat, hal itu membuatku bahagia."

"Itulah cinta sayangku. Kau tak perlu dapat melihat untuk menemukan cintamu." Ibu membelai lembut rambut Min A, lalu memeluknya.

Kini Min A paham maksud perkataan ibunya. Min A kini tersenyum. Senyumannya yang padam kini bersinar kembali. Senyum kecil Min A menuai indah pesona jelitanya.

-----

Kisah Min A mengajari kita banyak hal. Tak perlu banyak-banyak pelajaran yang kita ambil. Cukup satu saja, tapi berbekas dalam benak kita.
--♡--

Jangan lupa ikuti terus kisah-kisah dari burung kapinis 🐦.

Secuil Kisah dari Burung KapinisStories to obsess over. Discover now