Bab 1

25 5 4
                                        



Suara gemericik hujan memecah kesunyian malam. Membasahi setiap atap rumah warga kotayang kebanyakan penghuninya telah terlelap ke alam mimpi. Tinggal di dalam salah satu kota besar di Negeri Beruang Merah, tentu membuat para penghuninya senantiasamenjalani hari seperti kawanan lebah pekerja. Berdengung ke sana-ke mari,memadati lalu lintas setiap hari. Bisa mendapat malam yang damai, bergumuldalam selimut hangat, tentu merupakan anugerah tersendiri yang patut disyukuri.

Namun, tampaknya tak semua warga dapat merasakan nikmat itu. Sang pemuda berambut pirang pucat—nyaris putih—tampak masih bergulat dengan selimutnya. Membalik tubuhnya ke sana kemari, dengan ekspresi gusar yang tampak sangat tak nyaman. Nafasnya menderu, tampak keringat dingin meluncur turun dari dahinya. Ia tak tenang, tapi ia tak dapat melawan, sampai, sebuah suara yang hangat memanggil namanya.

"Kizune...."

.

.

.

"Kizune, bangun! Ayo, kau tak mau terlambat ke sekolah kan?"

Dan kedua kelopak mata itu mengerjap terbuka. Sudah pagi? Sejak kapan?

"Selamat pagi, Kizune. Hei, jangan bengong begitu. Ayo bangun, Ibu akan menunggu diruang makan." Dan sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya.

Bocah berumur sepuluh tahun itu menguap pelan. Sambil mengusap-usap kedua kelopak matanya dengan jarinya yang mungil. Kedua kelereng biru itu akhirnya telah sadar sepenuhnya.

"Ohayou, Kaasan[1],"ucapnya pelan.

"A-a-a-a.Kita sudah tidak tinggal di Jepang, Kizune. Gunakanlah Bahasa Inggris," balas ibunya sambil berlalu keluar dari dalam kamar.

Si bocah yang dipanggil Kizune itu mengangguk. Ia menyibak selimutnya dan meluncur turun dari atas ranjang. Gumaman pelan meluncur dari mulutnya ketika permukaan karpet berwarna putih itu menggelitik telapak kakinya, yeah, musim salju di Rusia jelas jauh lebih dingin dibandingkan di Negeri Sakura. Walau sudah delapan bulan Negeri Beruang Merah ini menjadi tempatnya bernaung, Kizune kecil tampaknya masih belum bisa membuat tubuhnya beradaptasi dengan lingkungan.

"Dingin, dingin, dingin!" gumamnya berulang kali sambil berjinjit-jinjit menuju kamar mandi.

Setelah selesai membersihkan diri dan bersalin baju, bocah berambut pirang pucat itu segera menuruni tangga menuju ruang makan, sebuah ransel berwarna coklat telah tersampir di punggungnya. Aroma gurih kaldu langsung menggelitik indra penciumannya begitu ia duduk di meja makan. Ia menolehkan pandangannya ke samping, oh, ada semangkuk sup yang telah terhidang di sana. Kedua alisnya terangkat, dan pandangannya masih terpaku di sana.

"Sup Miso. Hari ini dingin. Jadi Ibu ingin memasak sesuatu yang hangat dan berkuah,"jawab ibunya yang sedang mencuci alat masak. Ah, sepertinya wanita berkebangsaan Jepang itu menyadari komentar non-verbal yang ditujukan putranya.

Kizune mengambil mangkuk sup itu dan mulai mengaduk kuah kaldunya dengan sendok sambil mengamatinya lamat-lamat. Ah, sudah berapa lama ia tidak menyantap masakanJepang? Jujur, sedikit banyak ia merindukan cita rasa Asia. Sejak pindah ke negeri tempat kelahiran sang ayah yang berkebangsaan Rusia, ia hampir tidakpernah melihat ibunya memasak makanan khas Negeri Sakura, agar lidahmu bisa cepat beradaptasi, begitu alasan yang dikatakan ibunya tiap kali Kizune bertanya padanya.

Nyam, nyam.

Suapan pertama benar-benar menyenangkan—enak. Tofu[2] yang lembut itu terasa meleleh di lidah, menguarkan aroma rempah yang ringan dan tak berlebih. Lagi, bocah berambut pirang itu menyendok suapan kedua. Dansebuah senyum tipis merekah di wajahnyatanpa sadar.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 11, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Bloodstained vowStories to obsess over. Discover now