"Lihat itu. Bukankah dia orang yang kau bilang sebagai pecundang? Sedang apa dia disana? Tidakkah ia terlihat seperti orang bodoh?"
"Uuuh, kasihan sekali. Omong-omong, kenapa ya wajahnya manis sekali? Apa benar dia seorang laki-laki? Aku curiga dia transgender, phf- hahahaha!"
"Mungkin ibunya menginginkan anak perempuan saat mengandung? Sayang sekali, ternyata bayi laki-laki manis yang terlahir. Tch."
Orang yang mereka bicarakan itu, Jung Jimin. Menyendiri dan duduk di kursi yang berada di sudut kelas sambil memandang keluar jendela. Mendengarkan musik melalui earphone dari ponselnya. Entah apa yang ia pikirkan saat ini, matanya terlihat sangat sendu.
[ Jimin P.O.V ]
Aku tidak tahu apa yang aku lakukan selama ini benar atau salah. Setiap pagi, semua orang gila di depan sana membicarakanku, lebih tepatnya menertawakan dan mencemoohku. Mungkin ada yang salah denganku, atau mungkin sebaliknya? Aku tidak mengerti sedikitpun apa yang membuat mereka mempermasalahkan (hampir) semua hal tentang diriku. Jika dipikir-pikir, aku juga manusia, mereka juga manusia, bukankah manusia adalah pendosa dan tidak pernah lepas dari kesalahan? Terkadang aku berpikir, apa aku akan terus bertahan dengan situasi seperti ini? Apakah aku akan gila karena hal seperti ini?
Beberapa hari ini pun aku sering menangisi nasibku dikelas. Membuatku tertekan. Sungguh. Aku tidak bisa tahan dengan semua kesialan yang terjadi setiap hari disekolah. Namun, satu hal yang aku ingat dari eomma.
(*eomma : Ibu)
Eomma berkata padaku, 'apapun yang terjadi padamu, meskipun itu sangat menyakitkan, kuatkan hatimu. Berdirilah dengan tegap, angkat wajahmu. Jadilah anak eomma yang kuat.'
Aku ingat betul eomma mengatakannya saat kejadian itu, aku masih duduk dibangku sekolah dasar. Jaemin hyung memukulku dengan kuat, aku menangis dan mengadu pada eomma. Beliau menyeka air mataku. Beliau berusaha menenangkanku dan setidaknya disaat aku sedang bersedih, aku selalu mengingat kalimat itu dan mengingat bahwa eomma sangat perhatian terhadapku.
Saat di kelas seperti ini, hampir setiap harinya aku hanya terduduk, mencoret-coret halaman buku paling belakang, mendengarkan musik, atau paling tidak, pilihan terakhir adalah tidur. Memang membosankan, mungkin orang-orang di kelas ini akan menyebutku anti-sosial.
Bel tanda pelajaran dimulai berbunyi. Aku melihat Shim seonsaeng sudah melangkahkan kakinya ke dalam kelas dan ia memerintah seluruh murid untuk duduk, diam dan mengeluarkan buku konseling. Menyebalkan sekali, pagi-pagi seperti ini sudah harus menghadapi pelajaran konseling yang membuatku mengantuk. Pelajaran mendongeng.
(*seonsaeng : guru)
"Tch. Lebih baik tidur saja." ujarku.
"Yak, tidak seharusnya kau berbicara seperti itu, bodoh," bisik Donghyun.
"Hahh.. aku tidak peduli lagi. Aku semalam terlambat tidur, mataku sakit sekali." Aku menaruh kepalaku diatas buku pelajaran konseling yang sama sekali belum terbuka, lalu memejamkan mata.
5 menit,
10 menit,
15 menit,
dan 20 menit berlalu.
Puk!
Aku mengernyitkan dahiku dan perlahan membuka mata karena seseorang memukul dengan sebuah buku tepat di kepalaku.
"Akh- tsk!" aku merintih sakit lalu membelalakan mataku tajam saat mendongak untuk melihat siapa yang baru saja memu-
"Ke ruang konseling satu jam setelah bel pulang sekolah berbunyi."
..kulku.
Shim seonsaeng!! Tidak tidak tidak! Ah! Sial! Kenapa aku membelalakan mataku!? Kau bodoh sekali! Dia itu gurumu! Bagaimana ini?! Dan juga, semua orang dikelas ini menatapku dengan tatapan mengejek. Terutama Jaehyun yang menyebalkan itu!
'Rasakan kau, pecundang.'
Itu yang diucapkannya! Sungguh tanganku ingin sekali meninju wajahnya!
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Pukul 05.00 KST
Sekarang aku sedang berdiri berhadapan dengan Shim seonsaeng, namun sebuah meja memisahkan jarakku dengan beliau. Kakiku seperti tidak bisa degerakkan lagi, mulutku bungkam, sesekali jantungku berhenti karena menahan nafas, layaknya mati berdiri. Shim seonsaeng menatapku yang tengah merundukkan kepala, tangannya terlipat diatas dadanya. Seonsaeng yang terkenal dikalangan gadis sekolah dan guru-guru wanita karena wajah tampan namun sangat disiplin ini tiba-tiba saja mengeluarkan suara,
"Jung Jimin. Kau tertidur disaat pelajaranku?"
"Ne.. ssaem," aku menjawab dengan gugup.
(*ssaem : kata lain dari seonsaeng)
Shim seonsaeng berdiri dari kursi coklatnya yang terlihat lembut. Aku memejamkan mata. Derapan kakinya terdengar seolah mengintimidasi saat beliau mulai mendekat ke arahku.
'Pasti dia akan memukulku, matilah kau, Jimin.'
"Aku mendengar beberapa guru mengeluh kalau seorang murid bernama Jung Jimin dari kelas 3-1 sering tertidur di kelas. Aku tidak menyangka ternyata benar. Kali ini kau tertangkap basah olehku," suara baritone milik Shim seonsaeng membuatku merinding.
"Aku berpikir sebuah hukuman yang pantas untukmu adalah menghapus point kesalahan dengan tubuhmu." Nafasnya yang hangat menerpa cupingku saat beliau berbisik. Apa maksudnya? Menghapus point kesalahan dengan tubuhku? Apa yang Shim seonsaeng maksud itu adalah melakukan seks?
Tangannya menarik kedua lenganku ke belakang dan menggenggam pergelangan tanganku dengan erat, beliau mendorongku hingga tubuh dan wajahku membentur tembok. Sakit sekali. Aku meringis kesakitan juga berusaha memberontak. Ini adalah kesialan yang sangat pahit untukku. Jika saja aku tidak melawan sekarang juga, tubuhku tidak lagi suci. Setelah itu aku harus ke gereja dan melakukan pengakuan dosa, memohon kepada Bapa untuk mengampuniku. Yang benar saja, tidak mungkin aku menghadap-Nya dengan keadaan kotor dan menjijikkan.
"Ssaem! Apa-apaan ini?! Apa yang akan Anda lakukan?!" sekuat tenaga aku mencoba melepaskan genggamannya dari pergelangan tanganku dan berhasil. Aku berlari ke sisi lain ruangan konseling, tepatnya di depan pintu. Rasanya ingin menangis seperti gadis yang baru saja diperkosa oleh Ahjussi tua dari sebuah klub malam murahan. Tanpa berucap apapun lagi, aku menunduk pamit ke arah Shim seonsaeng kemudian keluar dari ruangan itu.
(*Ahjussi : panggilan untuk paman/laki-laki yang lebih tua yang tidak dikenal)
Saat melihat keluar jendela, matahari sudah berwarna jingga dan langit perlahan mulai gelap. Aku menoleh ke kanan dan kiri, hanya ada aku di koridor saat ini. Semua orang pasti sudah pulang.
Dengan langkah terburu-buru, aku kembali menuju kelas untuk mengambil tasku. Tetapi langkahku terhenti di depan pintu kelas saat melihat seseorang tengah duduk di bangkuku sambil membaca buku catatan sejarah Korea milikku yang masih terbuka di atas meja.
Heo Jungkook. Ini adalah ke empat kalinya kau datang kesini, untuk menungguku.
Ia menoleh saat menyadari kehadiranku lalu tersenyum, "Eoh? Jimin, cepat kemas barangmu. Hari ini kita pulang bersama lagi, Ok?"
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
To Be Continued
노트 :
Don't forget to VOMENT yaa! Ini pertama kalinya aku bikin fanfic dan aktifin wattpadku lagi. Biasanya aku cuma sider aja baca-baca cerita dari author lain :') Mohon dimaafkan kalau kalian merasa cerita tersebut terdapat kesamaan seperti cerita milik seorang author lain di luar sana hhe
I hope everyone enjoy this Suffering EP!
YOU ARE READING
날 풀어줘 (Suffering)
FanfictionMenjadi bahagia adalah tujuan hidupnya. Namun, Tuhan terlihat tidak adil. Kebahagiaannya direnggut. Sekarang segalanya berbeda. Apapun yang terjadi padanya terasa sangat pahit. Sayangnya, ia merasa bahwa setiap orang harus melihatnya dengan kondisi...
