-Penolakan-

67 20 38
                                        

Udara hangat musim semi berhembus lembut membelai kepala setiap orang. Burung-burung berkejaran mencari pasangannya seraya bernyanyi. Matahari bersinar lembut diatas singgasananya, memberi penghidupan bagi para makhluk bumi. Hari yang indah bukan?

Tapi tidak untukku.

'Maaf Felix, tapi aku lebih menganggapmu sebagai seorang teman.'

Sungguh sebuah perkataan yang sederhana, tapi nyelekit.
Aku rasa, aku memiliki semacam kutukan, karena ia merupakan gadis ke-4 yang menolakku. Sebenarnya, apa sih salahku yang membuatku sering ditolak para gadis?

"Felix, kau tidak apa-apa?" Pertanyaan dari saudara kembarku, Seraphine Valley, langsung membuyarkan lamunanku.

"Tenang, aku tidak apa-apa." Aku berusaha terdengar se-biasa mungkin, bahkan aku sempat tersenyum untuk meyakinkan Seraphine kalau aku tidak apa-apa.

Tapi sepertinya, itu malah membuatku semakin terlihat seperti baru di tolak.

"Bagaimana--" Aku langsung memotongnya, "Diam!"

"Apa di terima?"

"Aku bilang diam!" Suaraku sedikit meninggi.

"Ditolak."

Aku diam. Aku malas mengungkit masalah itu lagi. Itu hanya akan membuat hatiku semakin terluka.

"Oh ayolah adik kecilku, tidak perlu bersedih, masih banyak ikan dilaut," ujar Lein, pacar kakakku dari kursi pengemudi.

Dia bisa saja bilang seperti itu karena ia sudah memiliki pacar, dan pacarnya adalah saudara kembarku, memang, tidak ada salahnya kembaranku memiliki pacar tampan dengan banyak uang dan kekuasaan karena Ibunya adalah kepala sekolah kami.

Itu juga yang membuat kami memiliki tumpangan gratis, perlindungan di sekolah, dan apa saja yang aku minta padanya bisa dituruti, hanya dengan mengucapkan kata-kata ajaib padanya.

'Ucapkan selamat tinggal padanya!'

Dan setelah itu, barang yang aku minta sudah ada di depan mata.

"Begini ya, Lenin, kau itu tampan, Ibumu seorang kepala sekolah, dan kau punya banyak uang, jadi, siapapun yang menolakmu sudah pasti orang bodoh. Dan berhentilah memanggilku adik kecil, secara teknis, kau bukan kakakku. Lagipula, apa sih hubungannya ikan dengan gadis?"

Aku merasa kalau aku memang kelewatan, dan aku bisa melihat dari arah spion kalau wajah Lein sedang ditekuk. Tapi masa bodolah, saat ini, aku sedang tidak ingin mendengar saran dari siapapun, termasuk kembaranku.

Seraphine menampar lenganku dari kursi depan sebelah Lein, dan ternyata sakit juga.

"Sangat-tidak-sopan."

"Tidak apa-apa Seraphine, remaja memang suka labil," ujar Lein berusaha tersenyum sambil menambah kecepatan mobil Fordnya. Aku bisa merasakan mobil Ford ini meraung-raung saat Lein menginjak pedal gas.

"Ya, sama sepertimu, labil." Lagi-lagi Seraphine menampar tanganku.

•••

"Mom, Dad, kami pulang!" Seraphine berteriak tepat ketika aku membuka pintu kayu rumah kami.

Sialnya, Seraphine berteriak tepat di dekat telingaku, dan suaranya itu membuat gendang telingaku pengang.

Teriakan itu langsung mendapat sahutan dari Mom.

"Kemarilah sayang, ada yang ingin kami beritahu ke kalian." Aku tidak melihat wujudnya, tapi aku tahu itu adalah Mom dari suaranya yang keras, tetapi lembut.

The Girl in the CafeNhững tác phẩm khiến độc giả say mê. Hãy khám phá bây giờ