"Siapa yang menginginkan 'mawar' sudah sepatutnya menerima dan menghargai 'duri-duri'nya bukan?" tanya Tyas.
Dian Tyas Anastasia Wijaya. Seorang gadis cantik berambut hitam panjang, kulitnya putih bersih, tubuhnya mungil, bibirnya semerah stroberi, hidungnya mancung, matanya tak terlalu kecil ataupun besar, dan sebuah lesung pipit di pipi kanannya.
Tyas beriri di depan rak buku yang tinggi. Matanya sibuk mengamati deretan buku yang ada di sana, sesekali bibirnya bergumam ketika membaca sebuah judul buku yang menarik perhatiannya. Jemarinya berhenti disebuah buku, tapi bukan buku itu yang menarik perhatiannya. "The Name Of Rose" Tyas memicingkan matanya ketika membaca judul buku itu. Ketika tangannya hendak merahih buku itu, ada sebuah pergerakan yang menghentikannya.
"Tyas, kan sudah aku bilang jangan mengikat rambutmu," suara berat yang sangat akrab di telinganya. Tatanan rambutnya yang semula terikat rapi kini berantakan. Rambutnya terurai tak beraturan.
Tyas menggeram kesal, "Apa salahnya? Aku hanya mengikat rambutku? Dan juga tidak ada larangan mengikat rambut! Kenapa kamu marah huh?" Tyas berteriak kesal.
Belum sempat laki-laki itu membalas perkataan Tyas, seorang pria berkacamata berjalan mendekat kemudian mengetuk ujung rak buku menarik perhatian mereka,
"ehem,"
"ssshhhht," pria berkacamata itu menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Taman di depan masih lebar, kalian bisa berdebat ria di sana," kata pria berkacamata itu dingin kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan mereka.
"Ish kamu sih," geram tyas mengarahkan kepalan tangannya kepada laki-laki di sampingnya.
"Sssssssssssshhhhhhhhhhtttt" pria berkacamata itu berbalik lagi ketika mendengar suara Tyas yang cukup keras. Dia melirik tajam kearah Tyas, dia terlihat sangat kesal. Laki-laki di samping Tyas menganggukkan kepalanya beberapa kali disertai senyuman kemudian bibirnya komat-kamit mengisyaratkan kata maaf.
Setelah pria berkacamata itu pergi, laki-laki disamping Tyas yang kini berada di belakang tubuh Tyas memegang kedua bahu Tyas lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Tyas.
"Memang benar tidak ada larangan mengikat rambut, tapi," laki-laki itu meniup daun telinga Tyas sehingga membuat Tyas bergidik geli.
"Lehermu tampak seksi dan sangat menggoda, aku tak ikhlas jika ada orang lain yang menikmatinya," lanjut laki-laki itu dengan sangat pelan.
Tyas berbalik lalu mendorong tubuh laki-laki itu, "Dasar mesum," ucap Tyas tanpa suara. Laki-laki itu terkekeh melihat Tyas melangkahkan kakinya lebar-lebar, bergegas keluar dari gedung bertingkat itu.
-
Mereka tengah berada di perpustakaan daerah di kota mereka. Alvino Nathan devangga, atau yang sering dipanggil Athan adalah laki-laki yang sering bertingkah konyol untuk menarik perhatian Tyas. Tingkahnya yang konyol itu terkadang mengundang tawa Tyas. Namun, tak jarang tingkahnya justru menimbulkan kemarahan, kekesalan, kecemburuan bahkan kekecewaan Tyas.
Athan, laki-laki yang telah menemani Tyas selama dua tahun ini. Laki-laki yang mendapat tempat spesial di hati Tyas. Begitupun sebaliknya, Tyas adalah gadis yang berhasil memenuhi ruang kosong di hati Athan.
Sebenarnya Athan hanya berniat menjemput Tyas yang berada di perpustakan, sedangkan dirinya akan menungu di taman yang berada di halaman perpustakaan itu sembari menikmati semilir angin yang ada. Gadis itu mengatakan bahwa ia membutuhkan sebuah buku untuk menyelesaikan tugas kuliahnya dan juga mengembalikan buku yang sudah selesai dimanfaatkannya. Namun, karena Tyas terlalu lama dan kebosanan sudah melanda, Athan memutuskan menyusl Tyas untuk melihat apa yang tengah dilakukan gadis itu.
YOU ARE READING
Black Rose
Teen Fiction"Siapa yang menginginkan 'mawar' sudah sepatutnya menerima dan menghargai 'duri-duri'nya bukan?" Seorang gadis yang sangat menyukai bunga mawar. ia mengibaratkan hidup manusia seperti bunga mawar. bahkan kata-kata ia bentuk dengan bunga yang disuka...
