Bagi saya, pemandangan di Sunset Hill Park tetap semengagumkan biasanya. Dari sini, saya bisa menikmati pemandangan laut dan pegunungan Olympic. Momen sunset membuat langit yang menjadi kemerahan cantik, membuat keindahan pemandangan di tempat ini meningkat beberapa kali lipat.
"Jadi, aku melakukan hal yang benar bukan? Membeli rumah yang tak jauh dari tempat ini?" Tanya Dad santai.
Saya mengangguk setuju. "Dad luar biasa. Tau saja saya sukanya apa."
Dad terkekeh pelan. Saya mengalihkan pandangan dari pemandangan di depan kami dan berbalik menatap Dad. Rambut Dad sedikit berantakan tertiup angin. Saya bisa lihat beberapa uban yang kini menghiasi rambut beliau yang kecoklatan. Wajahnya sedikit memerah karena udara yang dingin.
Dad juga ikut-ikutan mengalihkan pandangan. Kini pandangan kami bertemu dan mata Dad yang abu-abu tampak serius sekali.
"Jadi kamu benar-benar ingin kembali ke Padang?" Tanya Dad serius.
"Ya. Saya ingin sekali pulang." Ini jawaban saya yang kesekian ratus kalinya kepada Dad dan Mom. Mereka khawatir sekali tentang rencana saya untuk kembali ke Padang.
"Setelah gempa, tempat itu tidak lagi aman, Adam." Dad lagi-lagi mengingatkan saya tentang fakta yang sudah ratusan kali beliau ulang untuk mencegah saya kembali. Jadi saya menghela nafas panjang dan kemudian menjawab dengan jawaban yang sama seperti setiap kali beliau menasehati saya tiga bulan terakhir,"Tapi gempa itu sudah empat tahun yang lalu. Sekarang sudah 2014, bukan lagi 2009. Sudah tidak ada gempa sebesar itu setelahnya."
Dad tampaknya sudah ingin membantah, tapi saya segera melanjutkan,"Lagipula sekarang saya sudah 21 tahun. Saya sudah cukup dewasa, saya legal untuk membuat keputusan sendiri. Bahkan jika terjadi apa-apa, saya sudah cukup mandiri untuk mengurus diri saya sendiri."
Seperti biasa, Dad selalu saja kehabisan langkah setiap saya sampai ke argumen tentang usia saya yang 21 tahun. Jadi, seperti yang saya perkirakan, Dad kembali menanyakan," Kenapa begitu ingin kembali kesana, Adam?"
"Karena saya ingin kembali bertemu dengan teman-teman saya. Dika, Diki, dan
"Mila" Sambung Dad santai. Sama seperti saya, Dad sepertinya juga sudah hafal template pembicaraan kami. Mau tak mau saya tertawa mendengarnya.
"Ibumu memintaku untuk meyakinkanmu untuk tidak pergi sekali lagi." tutur Dad santai. Saya hanya mengangguk pelan.
"Dia mendesakku sepanjang pagi untuk bicara padamu. Dia benar-benar khawatir." Tambah Dad.
"Dad memangnya tidak khawatir?" Goda saya santai, mencoba ikut meringankan pembicaraan.
"Sedikit. Tapi aku sepenuhnya mengerti." Jawab Dad sambil mengangkat bahu. "Lagipula ibumu itu selalu khawatir terhadap semua hal. Jadi jangan terlalu dipikirkan."
Saya terkekeh mendengar jawaban Dad.
"Ingat betapa khawatirnya Mom saat saya mengendarai mobil untuk pertama kalinya?"
"Oh tentu aku ingat." Dad tertawa.
"Mom mengikuti saya dari rumah sampai ke sekolah. Mencoba menghadang mobil lainnya untuk menyalip."
"Teman-temanmu menertawakanmu sepanjang minggu." Tambah Dad.
"Dad juga ikut menertawakan saya."
Dad tertawa lepas.
"Jadi aku gagal membuatmu berubah pikiran kalau begitu?" Tanya Dad Santai.
"Gagal total." Saya membenarkan.
Dad tertawa lagi dan saya ikut tertawa dengannya. Kami diam selama beberapa menit, menikmati pemandangan di depan kami.
"Ah, Dad tau tidak kenapa saya sangat suka tempat ini?" Ujar saya setelah beberapa saat.
Dad mengalihkan pandangannya ke arah saya. Beliau menaikkan alis dan menatap saya penasaran. Saya tau beliau tidak akan merespon dengan mengatakan apa-apa. Beliau menunggu saya menjelaskan.
Saya mengalihkan pandangan, menatap lurus-lurus laut dibawah kami dan melanjutkan,"Karena pada saat sunset seperti ini, tempat ini membuat saya merasa seolah saya kembali ke Padang. Warnanya serupa. Aromanya juga serupa. Saya suka sekali."
Dad tersenyum dan mengangguk. "Memang sedikit mirip ya?"
Saya menggumam setuju.
"Apa semuanya sudah siap di Padang? Rumah yang kamu sewa, pakaianmu, semuanya?" Tanya Dad santai.
"Rumah sudah disiapkan. Thanks to your amazing friend. Rick helps me a lot." Saya menatap Dad. Beliau tersenyum ke arah pemandangan di depannya, menolak menatap saya. Pemandangan laut memang sedang cantik-cantiknya.
"Saya tidak packing terlalu banyak, hanya satu ransel. Saya akan belanja pakaian saat saya disana."
"Dan kapan kamu akan pulang?" Dad melanjutkan.
"Saya pulang besok, Dad. Tempat itulah rumah saya." Jawab saya tenang.
"Itu membuatku merasa aku ayah yang payah. Masa rumahku tidak dianggap rumah oleh anakku sendiri?" Goda Dad santai.
"Ah, Dad. Dad yang mengajarkan saya kalau Padang itu akan jadi rumah kita, ingat? Saat kita pindah kesana saat saya berusia 5 tahun, Dad bilang kalau tempat itulah rumah. Saya hanya menerapkan apa yang Dad ajarkan."
Dad tertawa. Ditepuknya bahu saya dengan sayang.
"Nanti, bilang ke ibumu kalau kita punya pembicaraan yang super serius oke? Katakan padanya aku sudah berusaha mati-matian untuk meyakinkanmu. Bisakah kau lakukan itu, Nak?" Ada kilatan jahil di mata Dad. Saya mengangguk dan tertawa.
Tapi sebelum kami meninggalkan taman dan kembali ke rumah, Dad kembali bertanya.
"Jadi, aku melakukan hal yang benar bukan? Membeli rumah yang tak jauh dari tempat ini?" Tanya Dad santai.
"Dad luar biasa. Tau saja saya sukanya apa." Jawab saya ringan.
Perjalanan pulang kami habiskan dalam diam. Dan sesampainya kami di rumah, Mom sudah menunggu. Kami sekeluarga makan malam di teras belakang dan Dad menceritakan bagaimana keras kepalanya saya pada Mom. Saya menimpali disana-sini sedikit, mencoba membuat cerita Dad tampak semeyakinkan yang saya bisa.
Tentu saja, Mom merajuk tentang betapa dia akan merindukan saya selama saya pergi. Tapi beliau tak lagi mencoba meyakinkan saya untuk membatalkan perjalanan ke Padang. Saya rasa, akhirnya beliaupun mengerti betapa ini berarti bagi saya dan memberikan saya izinnya.
Esok paginya, saya berangkat. Setelah empat tahun lamanya, saya akhirnya pulang.
YOU ARE READING
Coming Back Home
RomanceBagi Adam, kota ini adalah rumahnya. Dia menyukai segala hal tentang Padang. Dia menyukai lautnya yang biru, udara yang lembab, dan aroma laut yang akan selalu menyertainya kemanapun ia melangkah. Tak hanya itu, dia menyukai teman-teman dekat yang...
