Benarkah takdir itu seperti ranting yang bercabang? Jika benar, kami ingin pilihan yang membawa kami menuju tempat yang tepat.
Dilara dan Ariyo terjebak dalam situasi yang membuat mereka harus memperjuangkan mimpi mereka bersama dalam kenyataan yang...
Reinkarnasi. Topik obrolan itu mengalir begitu saja antara aku dan Ariyo setelah aku mengeluh bosan saat membaca salah satu manga favoritku. Ceritanya makin bertele-tele dan tokoh utama wanitanya seolah-olah merupakan reinkarnasi dari mantan pacar tokoh utama pria. Please, it's 2017. Rasanya masih banyak sejuta konflik lain yang bisa digali untuk melanjutkan manga itu.
"Keenakan di tokoh cowoknya, dong," ujar Ariyo sambil mencomot tahu isi di meja.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"He's got second chance. Itu si ceweknya bahkan nggak sadar kan kalau dia ternyata reinkarnasian mantan pacar paca--" Ariyo melirikku kemudian tertawa renyah. "Kamu bener. Ceritanya bertele-tele. Even aku mau ngomong aja ribet banget."
"Jadi keenakan kenapa si tokoh cowoknya?"
"Keenakan aja. Aku rasa bentuk penyesalan setiap orang itu pelajaran berharga. Menurutku rasanya nggak adil kalau penyesalan si cowok itu di jaman dulu bisa diperbaiki setelah tahu kalau pacarnya ternyata adalah reinkarnasi mantan pacarnya. But really, Dil, ceritanya nggak masuk akal. Jangan baca lagi yang begituan ah! Hahahaha, romance sih romance. Tapi yang logis dikit kalau bisa. Kalo mau ngehayal ya sekalian ngehayalnya diedanin kayak fantasy world gitu," cerocosnya panjang lebar.
"Ini kok jadi kamu yang berisik komentarin sih," ucapku sambil tergelak. Ariyo nyengir kemudian mendaratkan kepalanya ke pahaku.
"If reincarnation is real, kamu pengen jadi siapa?" tanyanya sambil mengusap pipiku.
"Berarti aku mati duluan, gitu?"
Alis Ariyo berkerut.
"Skip deh, kok jadi sebel ya ngebahasnya," gerutunya. Aku tertawa lagi.
"Yo," panggilku.
"Hmm?"
"Handphone-mu nyala," tunjukku pada handphonenya yang bergetar diatas meja. Aku bisa melihat nama 'Om Lutfi' tertera di layar handphone. Ariyo sedikit menoleh, membalikkan badannya kemudian mereject panggilan dari Om Luthfi.
"Aku beneran lagi nggak pengen ketemu mereka, Dil."
Ariyo memainkan jemari tanganku kemudian mengecup pelan jari manis kananku.
"Tapi kamu butuh mereka supaya ada sesuatu yang bisa nempel di jari yang kamu ciumin ini," jawabku sambil menggoyangkan jari manisku.
Ariyo tersenyum kecut.
"Menikah sama saling cinta itu ternyata ribet ya?" ucapnya dengan nada getir. Aku mengusap rambutnya dengan penuh sayang.
"Ribet untuk kita, Yo. Mereka-mereka yang hidupnya aman dan santai sih enak-enak aja kalau mau nikah," kataku pelan.
Ariyo bangkit dari posisi tidurannya di pahaku. Ia mengerang pelan.
"Should we move to another planet?"
Aku tertawa pada pertanyaannya yang super ngaco.
"Hidup tenang di bumi yang serba ada segalanya aja susah, Yo. Ini pengen pindah segala. Jangan ngaco deh."
✨✨✨
Namaku Dilara. Untuk ukuran manusia berumur 25 tahun, sepertinya kisah hidupku seharusnya normal-normal saja. Sayangnya tidak.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Let me tell you. Hidupku menyedihkan. Bahkan sepertinya orangtuaku memang tepat memberikan nama Dilara. Karena namaku mengandung sebuah kata yang sangat cocok dengan jalan hidupku. Lara.
Untung ada Ariyo. Sosok tengil itu muncul begitu saja di depanku dan memberi begitu banyak kejutan seperti kembang api yang meledak terus-terusan namun indah dilihat.
Setidaknya aku bisa kembali merasakan rasanya dicintai....