Harusnya dari awal kisah ini tidak terjadi seperti seharusnya. Harusnya kita hanya milik masing-masing. Harusnya kita hanya memiliki waktu sendiri-sendiri. Harusnya aku tak membuang waktuku untuk sibuk membelamu, karena aku pikir kamu mencintaiku.
Aku menginginkanmu lebih dari bahagiaku. Menidurkanku lebih dari sekedar dongeng. Ini hanya khayalan dan kamu hanyalah tokoh yang aku harap nyata wujudnya. Aku seperti kenyataan yang tertidur. Tetapi lamban untuk bermimpi, sehingga enggan untuk terbangun.
Aku terbawa dari perasaan yang sudah lama ingin kutinggali, tetapi terpaksa ingin aku meninggalkannya, karena hal ini membuat aku makin kehilanganmu. Aku tidak siap pergi. Seperti kata seorang sahabat, tak seharusnya aku pergi. Bukan aku yang seharusnya pergi, tetapi aku merasa kamu sudah menjauh dari langit senja yang mendung.
Tidak memulihkan hatiku, aku terbangun dengan selalu bermimpi buruk. Bukan akan kehilanganmu. Tapi apa yang dapat aku lakukan jika aku kehilanganmu. Bukan aku yang menginginkan kepergian ini. Bukan. Hanya aku dalam keputus asaan yang mendalam. Bukankah lebih baik aku tiada? Bukankah lebih baik jika kamu dapat dengan bebas memikirkannya. Aku tidak habis pikir, bagaimana aku akan melepasmu..
Apakah dengan kata-kata sendu aku akan melepasmu? Waktu ini terasa singkat jika hanya kumiliki sendiri denganmu. Sebab kamu memilih untuk tidak memikirkan aku, ketika aku mencoba meraba isi hatimu, ketika aku melihatmu sendu tetapi aku mencoba tetap berbahagia. Bahagia yang bahkan aku tidak tau darimana asalnya. Bahagia apa yang aku jalani saat ini?
Aku berbahagia karena kamu berkata kamu mencintaiku. Aku tidak bisa berpura-pura selama itu. Kamu pernah memelukku di depan malaikatmu. Aku sedang berpikir, apa rasanya jadi dirinya saat itu dan apa perasaanku ketika aku hanya alat untuk membuat dia membencimu atau membenciku dengan semakin mencintaimu. Saat itu aku menatap dalam dirinya lekat-lekat, betapa ia masih menginginkanmu. Betapa ia membenciku. Pada nyatanya hanya aku yang merupakan alat.
Akulah kebahagiaan semu dirimu. Aku ingin pergi tanpa kamu melihat. Tanpa kamu mengambil nafasku untuk kau miliki lagi. Menangislah karena ku tak akan melihat dirimu, namun tak semudah pergi yang kubayangkan.
Kami berdua pernah terduduk dan membicarakan masa depan. Aku tak pernah secerah ini. Aku tak pernah sebahagia ini. Tak pernah sesedih ini. Membayangkan bagaimana ini akan berakhir.
Aku adalah bahagia yang kamu cari tanpa embel-embel, aku memberimu rasa tidak akan kehilangan, tapi apalah daya itu jika aku yang terlalu takut kamu pergi.
Kamu bilang ini adalah saatnya aku tidak perlu memikirkan tentang kehilangan berulang kali. Kamu adalah sebuah harapan-harapan tanpa harus takut itu hanya mimpi.
Kamu yang bilang bahwa ternyata ini adalah nyata dan aku, kita harus berbahagia karena aku, kamu, kita adalah nyata. Bahwa kehilangan yang aku takutkan itu tidak pernah ada. Bahwa apa yang aku takutkan adalah semu. Bahwa apa yang membawamu padaku adalah takdir tentang selamanya.
Membagimu adalah hal yang mustahil dalam hidupku. Salahnya aku mengira kamu untuk aku selamanya. Salahnya aku yakin aku akan bahagia kali ini. Salahnya pada awalnya aku yakin dengan langkahku. Aku lelah melangkah, ternyata yang kulalui adalah sebuah ketidakpastian. Dari sini aku menyadari hanya ketidakpasrahanku yang membuat aku terus menangis hingga detik ini. Dari kamu aku belajar bahwa tidak ada lagi keyakinan akan sebuah kepercayaan akan selamanya. Dari seorang wanita yang kamu bilang malaikat, aku belajar sebuah kebencian. Kebencian yang akan membuat aku menyesal pernah mengenalmu. Kebencian aku mengenal semua ini. Mengenal semua sudut duniamu. Aku belajar bahwa kali ini tidak semua ketulusan akan berbayar indah.
Padahal setiap jengkal lelahku hanya untukmu, aku sampai lupa bahwa aku tidak bahagia. Apakah dayaku ketika kamu memintaku untuk jangan meninggalkanmu. Kekuatan itu menghilang sejenak ketika kamu menangis memohon. Kekuatanku lenyap ketika kamu berjanji banyak hal. Termasuk mengubah malaikat baikmu menjadi malaikat mautmu.
Dalam hatiku, aku masih ragu. Dan bodohnya aku tetap tinggal, tinggal di alam mu, tidak ada lagi kita, aku kosong, kosong yang harus kamu isi, entah setengah atau penuh, aku belum pernah merasa selelah ini mengejar senja, aku duduk menunggunya sementara hujan turun takkan reda. Aku seperti duduk di hadapan malam dan berteriak meminta pelangi yang sama indahnya seperti ketika aku pernah melihatnya pada saat senja. Aku seperti berdiri diantara ketidakmasuk akalanku. Aku kosong. Aku ingin pergi. Tetapi jiwaku tetap saja bodoh. Hatiku mulai kosong. Nampaknya, aku tidak tidur, cahaya matahari pagi memasuki jendela kamarku. Sudah saatnya ragaku beristirahat memikirkan hatiku yang memiliki sebuah raga yang utuh, tetapi tidak dengan hatinya.
