[Oneshoot]

60 4 0
                                        

"kono sekai wa tada... kuso game."
ㅡ Sora & Shiro (No Game No Life)

Warning: mengandung kekerasan yg memuakkan

...

Membosankan.

Aku terhanyut dalam sebuah ruang jingga yang menyilaukan. Aku tidak mengerti kenapa menurut kebanyakan orang ini indah dan dramatis. Berjalan pelan mengikuti arus rutinitasku. Banyak orang yang tertawa, sedih, marah, dan sebagainya di waktu ini. Katakan padaku dimana letak dramatisnya?

Suara orang-orang berlalu lalang harusnya terasa ramai. Harusnya ada suara ketukan sepatu yang tak berirama dan berisik. Tapi apa yang kudengar? Hanya sebuah kesunyian seolah aku ada disini tapi tidak dalam dimensi yang sama dengan yang lain.

Aku bukanlah orang istimewa. Bukan juga seorang yang gagal. Aku hanya seorang yang mengikuti arus hidupku. Sama sepertimu.

Aku tidak punya teman kalau definisi teman bagimu adalah seseorang yang dekat. Aku tidak punya. Mereka hanyalah sekumpulan orang-orang bahkan tak ingin menghabiskan waktu untuk sekadar melirikku.

Kehidupan sekolahku? Penuh kebosanan. Aku sudah mencobanya tapi tidak ada yang bisa mengalahkan kebosananku. Sekeras apapun aku memperhatikan pelajaran, semua membosankan. Mendapat perhatian ketika bisa menjawab semua pelajaran dengan sempurna juga lebih membosankan.

Aku muak.

Tiba-tiba aku sudah sampai di depan rumahku. Dan tiba-tiba sudah berada di kamarku. Tiba-tiba sudah ada di meja makan. Tiba-tiba sudah ada di depan kompor, memasak sesuatu. Tiba-tiba sudah kembali lagi ke kemar.

Hanya sebuah rutinitas yang membosankan.

Aku memandangi diriku di cermin. Aku tahu. Mataku sangat kosong. Aku terlalu tenggelam jauh dalam kebosanan. Kebosanan ini memuakkan. Kebosanan ini menjengkelkan. Kebosanan ini... mungkin akan membunuhku.

Aku tidak ingin selamanya mengikuti alur membosankan ini. Tapi segala apapun yang kulakukan tidak merubah apapun. Orang tuaku. Teman sekelasku. Tetanggaku. Semuanya hanya memperburuk keadaan.

Aku membuka lemari. Mengambil jaket dan memakainya. Tidak lupa juga membawa barang-barangku seperti ponsel, earphone, dan yang lainnya. Aku ingin melakukan sesuatu. Bukan, lebih tepat aku katakan kalau aku harus melakukan sesuatu. Aku masih harus mencoba merubah hidup yang membosankan ini.

Aku bergegas pergi. Sebelumnya aku sempat berpamitan pada Ibu, Ayah, dan Nea, adikku. Seperti biasa mereka tak menyahutiku. Mereka memang tak peduli denganku. Semua orang memperlakukanku seolah aku tidak ada di dimensi mereka, mengacuhkanku.

Apa karena aku bukan keluarga? Mungkin. Aku hanyalah anak yang bahkan sudah kehilangan kedua orang tuanya, diasuh ibu tirinya yang kemudian menikah lagi dengan seseorang yang harus dipanggil ayah. Aku bukan bagian mereka.

Tanganku meraih ponsel di saku. Aku menekan beberapa tombol yang mengarahkanku menelpon seseorang. Aku meletakkan ponselku di telinga. Terdengar bunyi "tuut" yang membosankan. Aku menunggu.

"Halo?"

"Ryuu. Ini Diane."

"Ah! Diane! Ada apa?"

"Bisa bertemu di taman dekat rumahku?"

"Serius? Tentu! Kapan?"

"Sekarang."

Dia terlalu antusias. Memuakkan. Memangnya apa yang dia pikirkan? Ah, mungkin dia berpikir aku memaafkannya.

Tempo hari aku bertengkar dengannya. Bukan, lebih tepatnya aku hanya mendiamkannya. Aku memperlakukannya seperti adonan donat yang menunggu dimasukkan oven. Aku mendiamkannya karena melihatnya bercumbu dengan seniorku.

Bored [Oneshoot]Stories to obsess over. Discover now