[DIVA ON POINT]
"Diva? Div!" Teriak seseorang di kupingku. Tentu, aku membuka mata, bangkit dan emosi. "Apa sih?! Ganggu!" Bentakku, kepada saudara, sierra, atau bisa dipanggil Rara. "Sekolah!" Ujarnya, kasar. Aku tidak mau kalah, aku bentak kembali dirinya. "BACOT! YAUDAH!"
Segera, aku berjalan menuju kamar mandi, sudah ada handuk dan seragam sekolah. Rasanya, masih ngantuk. "Cepetan! Mau terlambat!" Teriak Rara, saudara yang cerewet.
.
Selesai Mandi, Berpakaian dan Sarapan menghabiskan waktu 45 menit, lebih. "Udah siap?" Tanya wanita yang sedang menggenggam hpnya. "Udah, Ra. Yuk."
Aku dan Rara, menaiki mobil. Sambil, berbicara, Raralah yang menyetir.
"Eh, tau ga sih?"
"Katanya, ada zombie." Sambungnya. Aku menggeleng kepala, tak percaya. "Nakutin aja, lu." Jawabku, datar. "Serius, lu ga percaya?"
Aku menggeleng kuat. Sangat amat tidak percaya omongan dia. Fakta dirinya adalah..Rara sangat suka menakut-nakuti orang, anehnya, orang yang ia takut-takuti, sebagian percaya olehnya. Aku? Mana mungkin percaya tahayul seperti itu. "Sampe ada..gue tarik lu ke zombie." Pekiknya. Aku hanya diam, tidak peduli.
.
30 menit kemudian, kita sudah sampai di sekolah. Keadaan mulai ramai, tanpa pakai ba-bi-bu, aku lari menuju kelas.
BRAK!
Sakit, aku sepertinya menabrak seseorang?
"Eh? Sorry."
"Kalo jalan liat-liat dong!" Bentakku kembali. Aku bangkit, menatap sinis lelaki berkacamata yang ada di hadapanku saat ini. "Namanya juga ga sengaja, mba." Jawab Lelaki itu. "Ya kan bisa liat-liat!"
Emosiku mulai datang. Aku langsung melewati tubuhnya, mendorongnya dengan kasar.
Sampai kelas, aku duduk di bangku, tak sangka, Rara sudah sampai duluan. "Hey? Div." sapa Amri, orang yang aku sukai selama ini. "E-eh?! Amri."
"Kok bengong dari tadi?" Tanya Amri, menggeserkan kepalanya sedikit. "Haha, gapapa." Balasku.
[AUTHOR ON POINT]
Diva, ia hanya bisa menahan rasa sukanya kepada amri, tatapan amri sangat membuat diva dag-dig-dug. "Oh iya, nih, untuk lu." Amri mengulurkan sebuah permen warna-warni kearah diva. Tentu saja, diva menerima permen itu. "Makan ya, enak kok." Ucap Amri. Diva hanya mengangguk pelan, pipinya mulai memerah seketika.
TING TONG!
Bel berbunyi. Semua duduk di bangku masing-masing, berpasangan. Sedangkan diva, ia hanya sendiri.
"Pagi anak-anak." Sapa seorang guru, Bu Zahra. "Pagi bu." Sahut beberapa murid. Diva hanya diam, menatap Amri berdiri tegak.
"Sekarang, kita kedatangan murid baru."
"Masuk" sambung Bu Zahra.
Seorang wanita seumur kami datang. "Perkenalkan dirimu." Ucap Bu Zahra, halus. Anehnya, wanita itu tetap diam, tidak mau berbicara, dirinya hanya bisa menunduk. "Ehm, helo?"
"Kalo kamu gamau, duduk aja, di sebelah diva." Sambung Bu Zahra. Sontak, Diva kaget. Kenapa? Diva sebangku dengan anak misterius itu. "Gue diva." Teriak Diva, sedikit kasar. Wanita itu berjalan menuju Diva dan duduk.
"Semua, boleh duduk."
.
Diva masih penasaran, siapa nama wanita ini? Kelihatan sangat misterius bukan?
"Nama lu siapa?" Tanya diva. Wanita itu tetap diam, tidak ingin jawab. "WOY!" Bentak Diva kembali. Diva memanglah wanita yang kasar. "Nama gue.."
.
Neks?
Comment ya 💖
YOU ARE READING
Dear, World
RomanceKisah cinta yang perlu perjuangan! Diserang dengan makhluk aneh..siapa? Zombie. Apa yang terjadi?
