Tokyo, 05 Januari 2016
Dinginnya salju di musim dingin saat ini tidak lantas membuat gadis itu berlalu. Ia mempunyai keyakinan bahwa seseorang yang ia tunggu akan datang-- atau mungkin, harapan, bahwa seseorang yang mengisi pikirannya saat ini akan segera memunculkan wajahnya di hadapannya.
Tiga jam yang penuh penantian.
Tapi, gadis itu masih yakin. Karena itu, ia akan tetap menunggu.
Tiga jam yang penuh penantian. Tapi orang itu sendiri yang mengatakan bahwa ia akan datang.
Aku akan datang, Mina. Begitu kata orang tersebut. Sembari menunggu, gadis itu, Mina, menengadah ke atas langit sore di musim dingin. Pikirannya berkelana ria.
Sebenarnya, ia sudah mulai kecewa. Tapi, karena suara orang tersebut terngiang ngiang di benaknya, ia terus menerus berkata pada dirinya sendiri.
Aku percaya ia akan datang.
Tiba-tiba, telepon genggamnya berdering. Jantung Mina berdebar keras. Apa dia yang menelepon? Batinnya. Setengah diri Mina sangat berharap jika orang tersebut meneleponnya, barang mengatakan "Maaf aku akan telat, aku ketiduran," atau hal lainnya kecuali "Maaf aku tidak akan datang".
Mina mengambil telepon genggam yang terletak di saku celananya, kemudian tanpa melihat nama pemanggilnya, ia mengangkat telepon tersebut dengan menekan tombol hijau.
"Moshi moshi" Ucap gadis tersebut.
"Minacchi"
Kiku menghela nafas pelan mengetahui panggilan itu bukan berasal dari orang tersebut. "Kise-kun? Nani?" lanjutnya berusaha menetralkan suaranya agar tidak terdengar kecewa.
Beberapa saat kemudian, wajah gadis tersebut berubah sendu, sesendu langit sore Tokyo di musim dingin. Kelabu.
"Minacchi? Minacchi? Halo?? Gomen.. Aku seharusnya tidak mengatakan ini sekarang.. Minacchi?"
Karena tidak ada sahutan apapun dari Mina, gadis itu, maka Kise, sang penelepon terpaksa menutup panggilannya.
"Aku akan meneleponmu lagi nanti. Sekali lagi, gomenne, Minacchi.. Aku tutup sekarang ya"
seru Kise sebelum memutuskan panggilannya.
"Pembohong.." ucap gadis itu tak lama setelah panggilan berakhir. Saat sadar, pandangannya sudah memburam, dan air mata mengalir begitu saja di wajahnya. Semakin lama, semakin deras, tidak terhentikan. Di benaknya, kata kata Kise kembali terulang dan lama lama terdengar seperti kaset rusak.
"Akashicchi baru saja take off tadi. Ia tidak ingin menemui Minacchi, entah kenapa, padahal aku sudah memaksanya. Gomenne, Minacchi, tidak banyak yang dapat ku lakukan.. Begitupun membujuk Akashi-kun untuk membatalkan kepergiannya ke New York.."
Semua berubah menjadi kelabu seketika. Lebih berat dari biru. Penuh kesedihan yang tersirat, ketidakpastian yang tidak terjawab.
Ting!
Ada pesan. Dengan berat hati, Mina menghapus air matanya, lalu terpaksa membuka kunci ponselnya untuk melihat pesan yang masuk. itu Kise, Tetapi, jantungnya seakan melompat dari tempatnya ketika melihat nama pengirim pesan yang sebenarnya tertera di ponselnya. Pesan itu dari Akashi, namun disampaikan oleh Kise. Sejenak, pikirannya blank. Antara marah, bingung, dan sedih, juga penasaran.
Buka, benaknya pun berucap. Akhirnya, dituntut rasa sedih dan penasaran, Mina pun membukanya, menuruti keinginan hati nuraninya.
Entah keputusannya salah atau benar.
