"Ma, liat boneka-boneka Arey yang dulu gak?" tanya seorang gadis saat memasuki kediaman keluarga Bramasta itu. Dengan tangannya yang masih sibuk membuka kedua sepatunya.
"Ada apa sih? baru pulang udah nanyain boneka" ucap Tania-Mama Audrey-, gadis itu mencium tangan Mama, kebiasaannya setiap kembali kerumah dan sampai sekarang saat dirinya pulang kuliah pun tidak lupa dia mencium tangan Mamanya
"Gini lho Ma, tadi didepan Arey liat selembaran gitu tentang menyumbang ke panti Asuhan, nah Arey mau sumbangin boneka Arey"
"Oh gitu, kalo enggak salah semua Mama simpan digudang kok cari aja sendiri ya, Mama lagi masak"
"Iya Ma" tanpa berpikir dua kali, Audrey langsung berlari ke arah gudang yang berada ditaman belakang rumahnya.
Biasanya Audrey paling enggan untuk masuk ke dalam gudang itu. Audrey selalu memikirkan kalimat yang sering diucapkan Kakaknya tentang gudang ini.
Saat berada didepan pintu gudang, kalimat itu muncul dipikiran Audrey.
'Dek, tau gak? Kemarin kakak ke gudang belakang terus kakak nemuin kepala gitu di rak, eh pas kakak samperin malah hilang. Serem kan?'
"Duh kak Miko itu emang paling bisa ya soal nakut-nakutin orang" gerutu Audrey, dia tetap harus masuk kedalam gudang itu dan melawan rasa takutnya.
Selain dia harus mengambil bonekanya, dia juga harus memberikan pembuktian pada Miko bahwa dia tidak lemah seperti yang selalu Miko katakan.
Kriet~
Pintu itu terbuka sendiri, suara pintu gudang yang sudah tua itu terdengar sangat menyeramkan ditelinga Audrey. Audrey mematung menatap pintu gudang itu.
"Angin Rey, cuma angin" ucap Audrey meyakinkan dirinya sendiri sebelum memutuskan masuk kedalam gudang.
Audrey melangkahkan kakinya menuju kotak kardus yang berada beberapa langkah dihadapannya.
"Buku Audrey, Mainan Miko.... " gumam Audrey membaca setiap nama yang diberikan di masing-masing kardus
"Mainan Freya, Majalah Mama... Nah ini dia" ucap Audrey saat menemukan kardus bertuliskan 'Mainan Audrey'
Audrey mengangkat kardus itu dan akan membawanya keluar gudang namun Audrey menghentikan langkah kakinya saat melihat buku berwarna cokelat tua tersimpan rapi diantara buku lainnya di rak
Audrey menyimpan kardus itu dan mengambil buku tersebut, cukup tinggi sehingga Audrey kesulitan menggapai posisi buku itu. Ya memang ukuran untuk tinggi seseorang yang berumur sama dengan Audrey, Audrey bisa dibilang 'kurang' tinggi atau bahkan 'sangat' kurang tinggi.
Namun tiba-tiba sebuah tangan muncul dari belakang dan meraih buku yang Audrey incar. Audrey terlihat sangat ketakutan, keringat dingin mengalir di pelipisnya, padahal masih siang tapi keadaan terasa sangat mencekam apalagi saat berada diruangan yang cukup luas dan sendirian. Audrey hampir saja pingsan jika orang itu tidak bersuara sedikitpun
"Dek lo kenapa?" tanya laki-laki itu dengan sangat polos. Ya Miko Putra Bramasta, seseorang yang selalu menyebut Audrey seorang yang sangat penakut. Walaupun itu benar, tapi tetap saja Audrey kesal.
Audrey langsung berbalik menghadap laki-laki itu.
"Gila lo ya! Mau bikin gue mati jantungan apa?" sentak Audrey tepat dihadapan Miko
"Santai kali, lagian gue kira lo gak akan setakut itu, ini juga masih siang dek masa lo takut"
"Mau siang, mau malem bagi gue sama aja!"
"Jangan marah-marah terus nanti cepet tua baru nyesel"
"Ah rese lo!" gerutu Audrey sambil mengambil kardusnya dan berjalan keluar gudang.
"Udah gue ambilin juga bukunya, bukannya terima kasih malah marah-marah" Miko berbalik badan berniat keluar gudang namun saat menatap pintu dia melihat siluet anak kecil berusia sekitar 10 tahun. Dan beberapa detik kemudian, siluet itu menghilang.
"Gila, bener juga kata Audrey. Mau siang mau malem sama aja, ih ngeri" ucap Miko mengedikkan bahunya dan langsung lari menuju rumahnya.
Namun,
"Lho kak Miko ngapain lari-lari ya?" tanya seorang anak kecil berusia 10 tahun, ya dia Freya Bramasta. Dan Miko takut pada adiknya sendiri.
~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•
"Rey, bukalah pintunya. Gue kan udah minta maaf juga lagian. Berlebihan ah lo!"
"Berlebihan? Lo pikir siapa yang berlebihan. Udah 1000 kali lo nakut-nakutin gue"
"Baru 999 kurang 1 kali lagi" ucap Miko bercanda, walau ia tau kali ini Audrey benar-benar muak akan sikapnya.
"Dek, maafin kakak ya"
Audrey tau, jika Miko sudah seperti itu artinya dia benar-benar serius. Audrey membuka pintu kamarnya.
"Jangan nakutin gue lagi, gue takut Ka" lirih Audrey
Miko memeluk adiknya itu sangat erat.
"Gue janji, gak akan ngelakuin hal bodoh kayak waktu dulu, tadi dan gue gak akan ngelakuin lagi seterusnya. Maafin kakak ya"
Audrey melepaskan pelukan Miko.
"Oh nih buku lo tadi yang digudang, maaf juga gue gak ucapin apa-apa waktu masuk gudang. Gue kira penyusup yang ada digudang, soalnya gak biasanya pintu gudang kebuka gitu. Eh pas gue liat ada lo lagi kesusahan jadi gue reflek bantu lo. Dan gue gak tau lo bakalan kaget kayak tadi" jelas Miko panjang lebar. Berharap Audrey tidak salah paham lagi
"Oh jadi gitu, lain kali sebut nama gue dulu baru bantu, biar gue gak kaget lagi"
"Iya"
"Yaudah" ucap Audrey singkat lalu kembali menutup pintu kamar
"Baru beberapa detik lalu dia manis, eh sekarang nyebelin lagi" gerutu Miko lalu memutuskan pergi ke kamarnya
~•~•~•~•~•~•~•~•~•~
'Jurnal Audrey'
Tulisan itu yang pertama Audrey baca saat ia melihat buku itu.
Audrey ragu, apa iya dia harus membuka, membaca dan mengenang kembali masa lalunya yang rumit?
Audrey menyimpan buku itu diatas kasurnya dan ia fokus pada boneka yang akan ia sumbangkan.
Setelah semuanya selesai, Audrey kembali menatap buku itu. Dan Audrey memutuskan untuk kembali mengenang masa lalunya.
Dimulai dari lembaran pertama, ini kisah seorang Audrey Bramasta...
----------------------------------------------------------------------
Hallo semua!
ChipFar_ comeback diakun baru yaitu Sweetchipfar_
Buat yang kangen aku, kalian bisa baca lagi cerita yang aku buat. Masih baru dalam dunia seorang penulis. Ya kasarnya sih masih 'abal-abal'.
Cerita pertama diakun baru, untuk chapter seterusnya mungkin akan update setiap hari sabtu.
And enjoy the story:) always give you hug and kiss :*
Sincerely
Farah Rasfia.
YOU ARE READING
Coretan Audrey
Teen FictionTak sengaja menemukan sebuah jurnal lama miliknya yang selalu ia gunakan untuk menuliskan kisah kasihnya saat masih kecil hingga SMA. Audrey Bramasta mencoba untuk membuka dan membaca jurnal tersebut, yang tanpa ia sadari jurnal itu membuat luka lam...
