Hari ini adalah hari pertama masuk kuliah setelah 1 bulan libur semester. Naya Aidan yang sekarang sudah menduduki semester 5 di jurusan Psikologi ini masih sibuk dengan pikirannya. Duduk tepat di samping jendela kelas memang seperti godaan untuk Naya. Ia tidak bisa berkonsentrasi dengan ucapan ketua tingkatnya yang sedang mengumumkan bahwa dosen hari ini tidak masuk namun tetap meninggalkan tugas presentasi. Naya terus melamun saat Gabriella Stevani memanggil namanya, awalnya hanya berbisik namun panggilan ketiga kalinya, gadis yang sering disapa Gabby ini berteriak kencang di telinga Naya sehingga membuyarkan lamunanya
"sialan! Apaan sih Gabb? Ngericuh aja deh kerjaannya" umpat Naya memaki-maki Gabby yang sedang memelototi dirinya. Gabby hanya terdiam dan memicingkan matanya kepada Naya, seolah Gabby mengerti satu hal apa yang ada di pikiran Naya saat ini
"kamu mikirin apalagi Nay? Davin? Pangeran kodok yang gak dateng-dateng lagi setelah 3 taun? Yang kemaren kamu curhatin seharian pas aku main kerumah kamu itu kan?" tebak Gabby dengan jarinya yang menunjuk hidung Naya yang mungil
"gak!" jawab Naya melengos dan menutup wajahnya lalu bersandar di kursinya. Tidak memperdulikan Gabby yang masih ngomel-ngomel pada sahabatnya dari SMA ini.
Tebakan Gabby memang tepat sasaran, Naya sedang memikirkan Davin Narasaka. Cinta pertama Naya di SMA dahulu. Lelaki berwajah tampan dengan hidung mancung, mata coklat, serta rahang yang tegas ini telah membuat Naya mabuk kepayang. Berawal dari pertemuan singkat di perpustakaan, membuat Naya langsung mengalihkan pemandangannya kepada satu titik yang membuat ia terpesona. Lalu beranjak ke facebook, Naya menemukan akun Davin lalu mereka berkenalan. Cukup waktu 3 minggu untuk mereka berkenalan, kemudian mereka semakin dekat hingga seperti sepasang kekasih. Tapi sayangnya, setelah Davin mengatakan bahwa ia bukan tipikal lelaki yang suka berpacaran, nyali Naya langsung ciut, harapannya untuk menjadi kekasih Davin pupus sudah. Meskipun mereka tidak terikat dalam hubungan pacaran, tapi Naya dan Davin sama-sama tau bahwa mereka saling menaruh hati.
***
5 Tahun Lalu
"Dav?" panggil Naya pada seseorang yang sedang duduk disampingnya sambil memegang buku ensiklopedi tentang pesawat
"hm" jawaban singkat namun jelas
"kalo lulus ntar kamu mau kuliah dimana? Kalo aku kan uda pasti di kampus yang kemaren ku certain Dav" ucap Naya tanpa basa-basi lagi. Naya memang gadis yang pintar sejakberada di SMA, ia selalu masuk dalam kategori 3 besar di kelasnya. Hingga suatu saat, kepintarannya membawa berkah untuk Naya. Sebuah Universitas bekas ayahnya kuliah dulu telah menggaet gadis pintar ini. jadi ia tidak perlu repot-repot lagi untuk mencari kampus setelah wisuda.
"enaknya dimana ya..." Davin menjawab seadanya bermalas-malasan, tetap membaca buku ensiklopedinya
"Dav serius donk" Naya kesal dengan jawaban Davin. Meskipun Naya tau Davin selalu tidak mau menjawab dimana ia akan melanjutkan pendidikannya nanti. Tapi Naya tidak berputus asa, untuk mencari tau apa keinginan lelaki pujaan hatinya itu
"dimana aja asal sama Naya" ucap lelaki bertubuh tegap itu, lalu menaruh buku ensiklopedinya di meja dan beralih menatap mata indah Naya dengan senyuman di sudut bibirnya. Naya berhasil dibuat mati kutu oleh Davin dengan tatapannya yang mematikan bagi Naya. Jantung Naya semakin tidak menentu, nafas yang mendadak terhenti beberapa saat, dan tangan Naya yang putih bersih mendadak gemetaran, juga kaki sebelah kanan Naya yang tidak bisa berhenti mengetuk-ngetukkannya di lantai berwarna coklat "udah aku jawab kan Nay? Kok kamu malah diem sih? Jawab apa gitu kek?" Tanya Davin menaikkan alis sebelah kirinya. Meskipun dia sudah hapal betul bahwa Naya saat ini sedang grogi
"a... aku ke kelas duluan ya Dav. A...aku lupa tadi tugasku belum selesai" dengan terbata-bata menahan grogi, Naya bersiap-siap untuk meninggalkan Davin di perpus.
Namun sebelum Naya beranjak dari tempat duduknya, Davin buru-buru menahan tangan kanan Naya, membuat gadis berambut kuncir kuda itu menoleh "Nay, jangan tinggalin aku ya. Kalaupun aku gak bisa nyusul kamu di kampus itu. Aku janji kita akan terus bareng, aku janji bakal menjaga hubungan kita. Cuma kamu yang udah nemenin aku selama 3 tahun ini Nay. Cuma kamu cewek yang bisa ngerti dengan aku yang gak pengen pacaran, diantara cewek-cewek lain yang ngebet pengen ku pacarin" ucapan Davin berhasil membuat Naya melongo, ia tidak pernah berfikir bahwa lelaki di depannya ini bisa berkata seperti itu kepada Naya. Naya hanya mengangguk dengan menyunggingkan senyuman manis di bibirnya
"iya Dav. Aku akan berusaha. Aku berjanji" jawab Naya seraya memegang pundak Davin, lalu ia berlalu. Davin kemudian tersenyum sambil terus menatap punggung gadis mungil yang sudah mulai menjauh dari tempat ia duduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nothing's Impossible
Teen FictionNaya seorang gadis cantik yang tangguh, mengambil resiko untuk tetap mempertahankan seorang Davin cinta pertamanya. Davin lelaki tampan yang telah membuat Naya mabuk kepayang, dan Davin juga yang membuat Naya menangis dipelukan lelaki racing yang ta...
