Chap. 1 Aku Yang Tertinggal

2 0 0
                                        



Tidak pernah terbayangkan sebelumnya dalam hidupku, akan tiba saatnya seperti ini

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya dalam hidupku, akan tiba saatnya seperti ini. Aku berada dalam jarak yang jauh dan harus bersusah payah mengambil beberapa kesempatan untuk menatapmu, sedangkan dulu, kamu pernah begitu dekat, sedangkan dulu kita lebih dari akrab. Aku tidak perlu upaya menahan malu, tidak perlu usaha menyembunyikan pandanganku padamu dari orang-orang di sekitar kita. 

Sungguh tidak pernah terbayangkan sama sekali bahwa aku akan memandangmu tepat di depanku, bersalaman, seperti layaknya kita tidak mengenal satu sama lain, begitu asing sedangkan aku adalah orang yang paling mengenalmu. Dulu kita sering berbagi peluk, meraih tubuh masing-masing sedekat, serapat mungkin. 

Sekarang, jangankan menyentuhmu, mata ini terbukti menatapmu saja, orang lain akan bilang bahwa aku gagal melupakanmu. Mungkin aku memang bisa dikatakan gagal melangkah kedepan. Bisa jadi, karena selama ini aku masih memiliki perasaan itu.

Tidak pernah terbayangkan, tetapi aku mengalaminya, berat mengakuinya tetapi ternyata memang berada dalam suasana ini, rasanya begitu mencengkram hati. Apakah ada orang lain yang tahu perasaan semacam ini? Apa ada orang lain yang merasakan seperti apa yang aku alami? Apakah dia pun merasakannya?.

Hari ini, aku bertemu dengannya lagi setelah sekian lama kita tidak berkirim kabar dan berusaha untuk melupa, dan hal yang paling kubenci adalah, dia jadi makin cantik, makin mempesona

(Dega Al Mahendra)


_ _ _

Sudah 6 bulan berlalu sejak Ara, Kiara Andaru mengikuti upacara wisuda di sebuah Universitas terkenal di Yogyakarta tempat ia menekuni pendidikan kuliahnya. Sampai saat ini, belum satu perusahaanpun yang menerimanya sebagai seorang karyawan atau pegawai. 

Dengan pendidikannya dahulu yakni fakultas Pertanian, Ara masih belum menemukan tempat yang bisa menerimanya bekerja. Jangan membahas tentang berapa surat lamaran pekerjaan yang sudah Ara buat, dan berapa kali dia harus terlibat Tanya jawab dengan pewawancara kerja.

Ara sendiri juga sudah jenuh, dengan semua pertanyaan- pertanyaan interview yang hampir sama, akan tetapi anenya, Ara selalu gagal dan gagal pada tes psikologi dan tes kemampuan untuk bekerja dalam team. Entah apa yang masih kurang, Ara sudah mempelajari semua teknik dan cara menjawab tentang kemampuan tes psikologis tersebut, tetapi nyatanya masih belum juga berhasil.

Memang, selama kuliah, Ara termasuk mahasiswa yang tidak tertarik bergabung dalam ekstrkurikuler maupun organisasi. Ara lebih suka menyendiri di perpustakaan, membaca mengerjakan 'paper' jauh-jauh hari sebelum masa deadline dan tugas-tugas kuliah lain di pojok ruangan perpustakaan sementara teman-teman sekelasnya sedang hangout ke mall, berkumpul di ruang Himpunan mahasiswa, membuat kegiatan sosial dll.

 Mungkin karena itulah Ara jadi tidak banyak punya teman, hanya teman-teman yang dia kenal namanya tapi tidak akrab sama sekali. Mungkin karena itulah Ara tidak pandai bersosialisasi apalagi bekerja dalam team.

Akan tetapi, meskipun Ara tergolong orang yang lebih suka bergaul dengan buku-buku di rak perpustakaan, dia memiliki satu teman baik yang selalu mendukungkaya hingga saat ini. Mereka bertemu pertama kali secara kebetulan, saat Ara sedang antri berdesakan di kantin fakultas. 

Seorang perempuan cantik, dengan tubuhnya yang tinggi, berbadan ramping tapi berisi di beberapa bagian, dengan rambutnya terurai lembut seperti rajin perawatan salon juga sedang antri di barisan yang sama dengan Ara. Waktu itu Ara sedang antri memesan makan, akan tetapi karena seseorang menelpon, Ara harus pergi dari antrian dan mengangkat telepon dengan segera.

Begitu Ara kembali, ia langsung terlihat lesu melihatantian yang mengular dan harus memulainya lagi dari antrian yang palingterakhir. Melihat Ara yang terlihat lesu dan lucu, perempuan tersebut memanggilAra dan menawarkan untuk berbagi atrian dengannya. Ara diperbolehkan untukmemesan makanan bersama perempuan tersebut yang sedari tadi sudah antri danhampir sampai meja pemesanan. 


Disitulah mereka akhirnya berkenalan. Perempuan cantik tersebut bersama Ibra, sejak saat itulah Ara dan Ibra mulai dekat dan merasa nyaman dengan keberadaan masing-masig, mereka akhirnya berteman baik. Kemudian lama-kelamaan mereka sadar jika mereka berdua memang memiliki kesamaan dalam hal kesulitan bergaul dan lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan.



Bersambung......


Maaf ceritanya bersambung disaat yang aneh, aku ragu dimana sebaiknya aku potong ceiritanya, aku khawatir pembaca akan bosan jika ceritanya terlalu panjang dalam satu chaptenya.

Jadi saya minta saran, apakah cerita yang panjang lebih nyaman atau pendek-pendek sja tiap chapternya?

terimakasih

Struggle over the PathHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora