Prolog

26 1 0
                                        

Sebuah senyuman nyaris terlihat tatkala wajah yang tak cukup asing itu datang setelah beberapa menit lalu aku hampir saja dibunuh dan dibantai dengan kejam oleh gengster-gengster dikota ini.

Aku yang tadinya sedang berjalan santai dihadiahi pukulan demi pukulan yang mendadak mendarat hampir disetiap sudut tubuhku.

Aku salah melewati jalan. Seharusnya aku percaya dengan kata-kata msyarakat sekitar yang mengatakan :

"jangan lewat sana nak, jika ingin selamat!"

"hey kau tahu disana angker, angker karena banyak pengacau."

"jangan bodoh dengan melewati jalan itu!"

"jalan itu dikuasai oleh gengster yang ditakuti oleh seluruh masyarakat jakarta,jangan coba-coba lewat jalan itu kalau masih sayang nyawa!"

Namun, ada hal yang membuatku berani melewati jalan ini sendirian terlebih dimalam hari. Aku harus menemukan apa yang aku cari!

Ingin sekali aku membalas pukulan demi pukulan itu, namun jumlah mereka lumayan banyak.

Mungkin hampir dua puluh orang lebih. Membuatku sulit memenangkan pertempuran tak berjudul malam ini. Aku jatuh, dengan berbagai lebam disekujur tubuhku.

Nyaris saja pingsan tidak sadarkan diri hingga iris mataku menangkap sosok yang familiar untukku.

Dia berjalan dengan santainya menghampiri beberapa anggota -sekitar 7 orang- dari gengster tadi yang berdiri ditempatku tersungkur jatuh, sedangkan anggota gengster yang lainnya berada tidak jauh mungkin sekitar 5-7 m lebih dari tempatku tersungkur saat ini.

Bugh

Plak

Plak
Bugh
Bugh

Terdengar bunyi pukulan keras, serta...

"aagghh"

"awwh sh*t"

Beberapa orang terdengar meringis dan mengerang kesakitan entah untuk ke berapa kalinya.

Sementara beberapa anggota lain terdengar sesekali berteriak minta bantuan dari anggota yang lainnya.

Namun, bunyi pukulan keras hasil dari tinjuan sang penyelamat ke bagian dada dan juga wajah juga sesekali tendangan maut berhasil membungkam mulut orang yang sedari tadi meminta bantuan.

Mereka -para anggota gengster tepatnya pengacau kota Jakarta- kalah, dengan keadaan yang lebih parah dari keadaanku yang tadi -setelah mereka memukuliku-.

Setelah memastikan bahwa mereka tidak bisa bangun lagi, dia -sang penyelamatku seperti yang sering aku baca di dalam novel-novel best seller- pun berjalan dengan santainya kearahku melewati satu persatu pengacau yang tengah tersungkur dengan kejamnya sambil sesekali menendang kaki dan juga badan mereka.

Dengan balutan jaket kulit besar berwarna gelap nyaris menelan tubuh penyelamat yang terbilang mungil -tidak berbadan kekar layaknya seperti penyelamat-penyelamat yang sering kita lihat di TV-, aku tidak yakin itu warna hitam atau apa karena pencahayaan disekitar area pertarungan tanpa judul ini tidak begitu terang atau bisa dikatakan sedikit gelap karena berada tepatnya di jalan sempit yang jarang sekali dilalui manusia pada malam hari.

topi hitam yang dikenakan untuk menutupi kepala serta masker hitam yang menutupi setengah bagian wajahnya membuatku hampir tidak mengenalinya saat itu.

Namun, setelah semakin dekat dia berjalan kearahku dengan tatapan tajamnya, meninggalkan para anggota pengacau dalam keadaan yang hmm... menyedihkan, itu meringis kesakitan dibelakangnya, aku semakin yakin

Bahwa...

Dugaanku tepat dan aku tidak meleset sedikitpun, setelah melihat corak pada jaket kulitnya.

Aku yakin.

Sangat yakin.

'She's comeback!!'

-LOST-

LostWhere stories live. Discover now