Satu

186 38 17
                                        

"Hallo guys kenalin gue Rila, De Rila. Dan sekarang lo ada di kamar gue, banyak cerita yang bakalan gue ceritain, and first i would like to tell you about my family, gue punya satu ibu, satu ayah, satu abang, dan satu teteh. Ps: teteh itu kaka dari bahasa sunda ya.
gue pindah kerumah ini pas kelas 5 SD, karena waktu itu teteh gue maen saham internasional gitu, gila.. BOM.. Dia jadi kaya raya, padahal waktu itu dia baru lulus SMA, genius emang ya... And last gue bisa tidur di kamar ini"

"Rila..!"
Suara bunda menghentikan aktivitas Rila, tanpa babibu dia mempause leptop berlogo apel digigit lalu berjalan keluar kamar dengan tergesa - gesa, menuruni tangga lantai dua dengan terburu - bury namun juga menjaga keselamatan.

"Iya bun?"
Ia melihat bundanya yang sedang memberi arahan pada bi inah, pembantu keluarga mereka sejak tujuh tahun yang lalu. Bi inah pamit pergi satu detik setelah ibu mengakhiri pembicaraannya.

"Udah makan De?"
Ibu berbicara tanpa melihat wajah Rila, ia sibuk mencuci tangan, menghilangkan noda masakan di tangan.

"Udah bun, ada apa gitu bun?"
Rila menjawab cepat takut - takut ia akan memarahi, lalu ia mengambil segelas air putih untuk menatrilisir degup jantungnya.

"Nih, kasiin ke abang kamu dia dikamarnya tuh"
Ibu menyerahkan nampan berisi soto kaki sapi dan teh hangat kesukaan abangnya.

Rila menerima nampan dengan wajah gembira, abangnya, kaka nya yang pertama telah pulang dari jerman setelah menyelesaikan S3 di sana.

"Bang, Rila masuk ya"
Rila menarik kenop pintu, perlahan ia melihat sosok laki - laki dewasa yang sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon, abang Rila menggunakan bahasa Inggris formal, dia menutup telpon, laki laki berumur 27 tahun itu melayangkan senyuman bersahabat pada Rila, gadis itu senyum lebih bahagia lagi ia meletakan nampan berisi soto dan teh di meja kerja abangnya, ia menghabur kepelukan abangnya.

Ali melepas pelukan gadis itu merogoh ponsel yang berbunyi nyaring, segera ia mengangkat telpon lalu mengambil jas berwarna biru tua lalu melangkah pergi keluar kamarnya.

Gadis itu cemberut, Ali bahkan belum sempat menanyai kabar Rila, namun harus pergi demi rupiah.
Dan Rila benci itu.

"Padahal soto nya belum sempat di makan" Gadis itu nampak murung, ia berjalan menuju meja kerja dan mulai menyuapi mulutnya satu sendok penuh soto kaki sapi.

"Padahal ini enak loh bang" air matanya mulai pecah, namun ia tak berhenti memakan soto kaki sapi buatan bundanya.

Sampai akhirnya terkadang gadis itu benci menjadi bagian dari keluarga kaya harta, namun miskin waktu.

"Gimana kata abang kamu, soto nya enak" bunda Rila menghamiri gadis itu dengan mata berbinar berharap bahwa jawaban yang di lontarkan anak bungsunya itu membahagiakan.

"Enak katanya bun, makannya aja sampe lahap gitu" Rila tersenyum, ia terpaksa berbohong demi membahagiakan bundanya, lagi pula abangnya tidak akan keberatan.

Dan itulah Rila..
Gadis manja yang memiliki hati selembut sutra

DerilaWo Geschichten leben. Entdecke jetzt