Prolog

175 10 0
                                        


Niun.....niun.....niun.....niun...(SUARA SIRINE AMBULANCE BEGITU KENCANG DARI LOBBY RUMAH SAKIT).

Gerombolan orang yang berada di luar sana sontak membantu mengeluarkan korba kecelakaan di ikuti para suster yang telah siaga membawa brankar kosong.

Sungguh mengilukan jika di lihat, darah nya mengalir hampir dari semua sisi tubuhnya kulit nya yang putih kini telah berlumuran cairan merah kental.

Mereka pun mendorong bangsul tersebut keruang UGD di sebelah ruang ICU mama Cinta.

Kondisi nya sangat mengenaskan banyak orang yang mengantar nya bilang korban tersebut sangat parah kondisi nya separuh badannya nyaris hancur.

Namun wajah masih dapat dikenali karena kondisi kepala sampai pinggang nyaris tak ada yang hancur hanya luka lecet yang menghias pelipis dan dagu nya.

Cinta melihat dari kejauhan kaca yang begitu bening mampu memperlihatkan kondisi korban tersebut.

Entah lah Cinta begitu lemas saat melihat wajah korban tersebut, seolah ia baru saja merasakan hal yang sama untuk kedua kali nya.

Mata nya tertuju pada alat pendeteksi detak jantung yang kian melemah namun dokter tetap mengusahakan dengan alat medis yang tersedia.

Garis-garis nya melemah bahkan lebih buruk dari yang ia lihat pada detak jantung mama nya.

Sampai akhir nya flat line mengisi seluruh monitor, itu tanda nya tak ada harapan untuk korban kecelakaan tersebut.

Cinta tersunggkur lemas saat melihat garis panjang itu, bersamaan dengan dilihat nya laki-laki itu untuk terakhir kali nya mungkinkah saat nya ia pergi? Mungkinkah ini terakhir kali aku melihat nya? Mungkinkah ini salam perpisahan Tuhan?

Senja Tau Kapan Harus Bertemu [Revisi]Stories to obsess over. Discover now