♥
Klenteng klenteng
Raja malam tersenyum memandangi pria kecil berambut pirang yang berdiri di balik jendela merengut ketakutan, menunggu sosok gadis mungil di balik jendela seberang.
Kembali ia goyangkan kalengnya, lalu, tali putih itu bergetar hingga ke jendela seberang, membuat suara nyaring kaleng di seberang. Ia dekatkan kaleng kecil berwarna biru ke mulut merah mungil miliknya.
"Hei monyet! Apa kau sudah tidur?"
Hening... Gelap... Hampa
"Ada apa kelinciku? Hoamm...Kau ketakutan?"
Suara gadis itu berhasil membuat pria kecil tersenyum lebar.
"Tidak! Aku tidak takut, aku hanya tidak bisa tidur saja!"
Gadis itu terkekeh pelan, telinganya setia mendengar keluh pria kecil itu melalui kaleng ini.
Semilir angin malam menerpa lembut wajah yang masih ngantuk milik gadis itu, ia lap kasar air yang keluar dari mulutnya, menggosok gosok mata indahnya dengan tangan sawo matangnya.
"Hehehe aku tahu kamu ketakutan. Hoammm... Tenang, aku tak akan membiarkan kelinciku ketakutan, hoammm... aku akan menemani kelinciku sampai kelinci tidur."
Hening...
"Aku punya cerita baru, kau mau mendengar?"
"Tidak!"
"Baiklah, aku akan menceritakan..."
"Hei tapi aku bilang tidak, cerita mu membosankan!"
Kata kata menyakitkan itu keluar dari mulut manis milik pria kecil itu, tapi apa gadis itu sedih? Tidak! Senyum lebarnya masih melekat di wajahnya, dia terkekeh pelan, tangannya masih kuat menggenggam kaleng pink itu sembari di dekatkan ke mulutnya.
"Baiklah baiklah hehehe, bagaimana jika aku menyanyikan sesuatu? Ini pas..."
"Tidak! Suara mu jelek! Kau tidak bagus saat menyanyi! Jelek!"
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
"PANDAA!!!
BRUKK
"Arghhh, pagi pagi udah teriak teriak, duhh duh duh pinggang guee"
Ringisnya sembari memegangi punggungnga yang habis jatuh dari kasur.
"PANDAA! SARAPAN DULU SAYANGG!"
"IYAA MOMM SABARR"
Alanzo Devanshi, atau biasanya teman temannya memanggil al, kakak dan ayahnya memanggil dia Devan tapi ibunya memanggil dia "Panda". Penderitaan yang cukup miris dimilikinya karena memiliki banyak panggilan.
"Kok bisa gue sampe jatuh gini sih? Elahh sakit amat lagi ni,"
Ia berdiri perlahan masih memegangi punggungnya, badan atletis itu melihat kamarnya yang cukup rapi jika dibandingkan dengan kamar laki laki lainnya.
"Ohh yaa matahari guee!"
Segera ia lari keluar menuju balkon kamar dan mengambil botol semprotan air. Di bawah sinar mentari pagi, ia siram dengan hati hati bunga mataharinya, rambut pirangnya di hembus perlahan oleh angin sejuk ditambah suara melodi burung burung kecil di pagi hari, menambah ketampanan milik Devan yang keturunan Spanyol-Indonesia membuat wanita wanita di bawah yang sedang melewati rumahnya tidak kuat menahan pantulan cahaya bidadari dari Devan *lebay
Devan tetap fokus kepada bunganya, terlukis senyuman indah di wajahnya, dibalik bulu matanya yang lentik, matanya bersinar sinar memandangi bunga matahari yang mekar dengan lebar.
aku rindu suaranya. Apakah matahariku disana juga merindukan suaraku?
Dug dug
"Panda ku, ayo makan dulu sayang"
"Mom berhentilah memanggilku panda, aku ini sudah 16 tahun dan aku sudah gede mom, aku bukan anak kecil lagi! Dan aku ini cowok.."
Devan menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu membalikan tubuh tegap menjulang tingginya, ia sedikit terkejut melihat wanita yang meskipun sudah berkepala empat tapi masih memilki wajah yang cerah dan sangat cantik. Ibunya memandanginya dengan tajam, berdiri di pintu balkon.
"Mom ga peduli kamu udah besar kek,udah tua kek, mom akan tetap panggil kamu Panda. Titik ga pake koma."
"Helehh, terserah deh mom.."
"Ya sudah sekarang sarapan dulu, tapi rapikan dulu sketch gambar mu di atas kasur mu itu, kebiasaan banget sih ga pernah rapiin sesuatu barang bla bla bla "
Devan kembali mengehembuskan nafasnya dengan keras, ia lap kasar wajahnya dengan kedua tangannya, Ia menggerutu kesal melihat ibunya yang selalu menceramahinya dengan tidak mengenal waktu, pagi, siang, sore bahkan malam, Devan tidak akan telepas dari omelan ibunya. Tapi, Devan sangat bersyukur mendapatkan ibu seperti ibunya, ibunya bagaikan pahlawanya, ia begitu peduli dan sayang kepada Devan, hanya ibunya yang mengerti perasaannya,
Bahkan perasaanku kepadamu. Benaknya berkata.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Holaaaaaaaaaaaaaaaa ♥♥♥
Aaa senengnya akhirnya bisa nulis di wattpad (^▽^)
Dari duluu pengen banget tapi baru sempet sekarang....
Okeee jadi salam kenall yaaa mwahh (*^▽^*)
Maafin jugaa nii kalau misalnya masih banyak salah, masih gaje, aneh gituu yaa karena kan setiap manusia pasti punya kesalahan 😀
(Bilang aja lu ga bisa nulis -_-:'v)
Ya udah lah, jangan lupa vote dan comment.....
Gini aja kali yaa (^▽^) pokoknya jangan sampe bosan nungguin part selanjutnya heheh (*^▽^*)
Byeeee
ESTÁS LEYENDO
TE AMO
Novela Juvenil♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥ Aku, Kamu, Dia, Mereka, Tuhan dan Telepon kaleng. Saksi perjuangan cinta Kita ♥♥♥♥♥♥♥♥♥TE AMO♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
