1

61 2 6
                                        


1 Desember 2016, musim hujan. Bel sekolah telah berbunyi tanda selesainya pelajaran di hari senin. Aku membereskan seluruh alat tulis dan memasukannya ke dalam tas. Adalah Pras, teman sebangkuku sekaligus Ketua Murid di kelas melakukan hal yang sama.

"Za, kamu ingatkan pulang sekolah akan ada rapat untuk Catatan Akhir Sekolah kita?"

Pras menegurku tiba-tiba. Aku bergumam pelan lalu menjawab tanpa basa-basi.

"Ya, aku ingat."

"Aku sudah putuskan kamu jadi perwakilan kelas kita untuk membenahinya. Tim editor."

"Tungu Pras, aku tdak suka kamu menjelaskan ini. Kamu kan tahu, aku tidak terlalu berpengalaman dalam bekerjasama. Dan ya, kamu bisa tahu sendiri..."

"Bisa Za. Tim editor sudah ada yang menangani, tapi perlu seorang lagi. Aku sebagai ketua OSIS sangat berharap kamu bisa. Aku tahu kamu ahlinya di bidang ini."

"Baiklah."

**

Setelah perbincangan singkat dengan Pras akhirnya aku memutuskan untuk menyetujui untuk menjadi tim editor. Setidaknya itu tak terlalu menguras energi seperti tim pengambilan gambar. Aku melangkah di koridor menuju aula tempat rapat diadakan. Terdapat dua orang yang berbicang, tak sengaja aku menguping pembicaraan mereka.

"Aku sudah bilang kan, kamu harus merapikannya sesegera mungkin! Kamu malah minta perekrutan anggota. sekarang permintaanmu sudah dikabulkan, jadi aku berharap kamu akan segera menyelesaikannya."

Adalah Kiki, Tim Publikasi yang memarahi seorang gadis dihadapanku. Aku mematung didepan mereka. Seketika mereka menyadari kehadiranku disana.

"Oh, Reza! Akhirnya kamu datang. Ini Lian. Kelas XII-IPA-C , kamu mengenalnya?"

Kiki memperkenalkan Lian padaku.

"Tidak." Jawabku singkat. Gadis itu mendengus kesal. Semacam pasrah.

"Aku senang kamu mau membantu gadis ini untuk mengerjakan proyek angkatan kita. Baiklah kalian bicarakan tentang rencana selanjutnya di depan aula. Okay?" kiki begegas masuk meninggalkan kami berdua di depan aula. Sejenak kami terdiam hanya memandang satu sama lain. Sepersekian detik Lian memulai pembicaraan.

"Lian." Ujarnya memperkenalkan diri. Aku langsung tahu maksudnya.

"Oh, Reza." Ujarku singkat.

"Maaf sekali, aku jadi merepotkanmu dalam hal ini. Ya aku akui aku memang sedikit pemalas akhir-akhir ini, syukurlah kamu mau membantu." Ujarnya sambil tersenyum ramah.

"...."

Aku hanya diam. Tidak tahu harus menjawab apa.

"Ck, kamu punya selera humor yang buruk. Kamu tidak bisa menjawab pertanyaanku? Baiklah to the point. Aku harap kamu bisa bekerjasama denganku sebagai tim editor yang baik." Ujaku.

"hmm baiklah."

"O iya, sebagian besar sudah aku tangani. Tapi aku punya alasan untuk meminta bantuan. Eem... bagaimana menjelaskannya. Jadi, akhir-akhir ini ada sedikit masalah. Aku ingin kamu selalu ready untuk kutugaskan. Okay?"

Lian berbicara dengan agresif. Dia terlihat sangat cerewet. Dan aku tidak suka.


***

TBC

taraaaa... gimana cerpennya? tbh aku ga terlalu pandai dalam membedakan gaya bahasa. maksudnya kayak baku dan tidak baku gitu. so, maaf sekali kalau memang acak acakan ya bahasanya. dan ..... sebenarnyaa.. aku ingin mengucapkan terimakasih untuk ciyeol temanku tersayaaaang yang tidak lelah menghiburku dengan FF nya yang kesekian. yaampun baik bener. yahh aku mah ga jao bikin fanfic sih. beda kan ya cerpen sama fanfic. pasti kerasa lah yaa bedanya. dan... aku juga mempersembahkan ini khusus buat dia. eiitss buat readers juga laahh *kalo ada yang mau baca. hahaha. yaaa selamat menikmati hohoho. doain juga euy kelas 12. #apasi

It Called LoveStories to obsess over. Discover now