Smirk

51 13 5
                                        



Renata memandang lapangan upacara yang penuh dengan barisan siswa siswi ber-atribut dari koridor lantai dua. Rambut hitam legam sebahunya, tergerai, ditiup hembusan angin pagi. Beberapa kepala mendongak, menatap ingin tahu ke arah Renata—satu-satunya yang berdiri di koridor itu.

"Kepada kakak pembimbing diminta untuk mengambil absen masing-masing gugus." Sebuah suara muncul dari pengeras suara sekolah.

Renata tersenyum melihat adik-adik kelasnya antusias menoleh kesana kemari, kecuali satu siswa paling mencolok dibarisan paling depan, menatap lurus ke arahnya. Renata mundur perlahan, mengeluarkan sebuah ponsel dan membuka kamera depan. Apa ada yang salah?

"Selfie?"

Terlepas dari genggamannya—sebelum sempat mencium lantai—refleksnya sudah lebih dulu menangkap ponselnya.

Renata mengangkat kepalanya, membuka matanya selebar yang ia bisa, namun yang dipelototi hanya terkekeh.

"Yuk!" Nathan melangkah riang menuju tangga di ujung koridor. Renata menggelengkan kepala, mengekor dibelakang.

Nathan melompati dua anak tangga sekaligus. Di anak tangga terakhir, langkahnya menjadi lebih —dan angkuh. Dengan dagu terangkat, menuju barisan dengan papan nama X.2. Renata tahu betul, Nathan sudah lama menanti datangnya hari ini.

Renata bergabung di barisan anggota MPK, berdiri menghadap lapangan. Tak ada adik kelas yang menatapnya kali ini. Termasuk anak laki-laki tadi, yang saat ini berdiri di depan Nathan, tak jauh dari tempat Renata berdiri.

Anak laki-laki itu hanya mengenakan seragam olahraga tanpa dihiasi atribut, tanpa papan nama seukuran kertas kuarto, membuatnya kontras dari yang lain. Renata mengingatkan dirinya agar bertanya kepada Nathan siapa nama anak laki-laki itu nanti.

"Rafael Adinata!" Pertanyaannya terjawab sebelum sempat dilontarkan. Anak laki-laki itu mengangkat tangan, merespon panggilan Nathan.

"Mana atribut lo?" Renata tersentak, begitu pula anak kelas sepuluh disekitar Nathan, menatap takut, sedangkan yang ditanya nyengir lebar.

"Jadi gini kak.."

"Gue nggak butuh alasan. Sekarang, lo samperin kakak cantik itu!" Nathan baru saja menunjuknya.

Renata membelalakkan matanya kepada Nathan yang nyengir.

Anak laki-laki itu kini berdiri dihadapannya. Ia mendongak, dirinya hanya setinggi hidung Rafael.

"Halo kakak cantik!" Anak laki-laki itu mengangkat salah satu sudut bibirnya. Tersenyum, atau lebih tepatnya smirk.

Renata memutar bola matanya. "Mana atribut kamu?" ia berusaha bersikap dingin, namun suaranya malah terdengar datar dan hambar.

"Jadi gini kak, Rafa nggak dateng pas pra-MOS. Rafa lagi keluar kota bareng keluarga. Rafa nggak tau atributnya apa aja. Makanya Rafa nggak pake atribut. Tapi kakak itu malah marah-marah nggak jelas." Rafael menunjuk Nathan sambil mengerucutkan bibir.

"Kenapa kamu nggak tanyain ke temen kamu? Emangnya nggak ada anak kelas sepuluh yang kamu kenal?"

"Ada sih kak. Temen SMP."

"Nah, kenapa nggak kamu tanya ke dia?"

"Nggak kepikiran kak." jawab Rafael nyengir.

"Nah, itu kesalahan kamu. Ikut kakak." Renata melangkah menuju barisan anak kelas sepuluh tanpa atribut lengkap, tapi seseorang menarik tangannya.

"Kak," orang itu memposisikan dirinyaberdiri tepat di depan Renata—lebih dekat dari yang sebelumnya—masih memegangi pergelangan tangan kanan Renata. "Kan Rafa nggak tahu apa-apa kak. Masa disuruh baris di sana? Gimana kalau nanti Rafa dihukum?"

Renata berusaha menarik tangannya, tak berhasil. Rafael menundukkan kepala, menyisakan jarak sejengkal dari wajahnya. Jantungnya berdetak lebih cepat.

Mata Renata menelusuri fitur wajah Rafael. Mata yang dalam, berwarna coklat tua. Alis tak terlalu tebal. Hidung mencuat, bibir tipis dan lembab. Kulit sawo matang yang tampaknya akibat terbakar sinar matahari. Ada beberapa bintik hitam yang tersebar di wajahnya, membuatnya terlihat manis.

"Y-ya kamu juga nggak ada inisiatif buat nanya kan?" suaranya tercekat.

Rafael melepaskan tangan Renata.

"Kan udah Rafa bilang, Rafa nggak kepikiran kak. Rafa dibalikin ke kakak galak tadi aja deh."

Renata tergelak. "Sekarang, kamu udah tau apa aja atributnya kan?"

"Udah kak!" jawab Rafa, kedua bola matanya berbinar-binar.

"Besok, atribut kamu udah harus lengkap ya?"

"Sip, kakak cantik!" Rafael meraih tangan kanan Renata, menyalami dan menaruhnya di pipi. Sekejap kemudian, ia melepaskannya dan langsung berbalik menuju barisan X.2.

Tangan kiri Renata memegangi punggung tangan kanannya. Hangat.

Ia mengedarkan pandangan. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Tampaknya tak ada yang melihat kejadian tadi—tunggu! Ada. Seseorang tersenyum ke arah Niana. Smirk itu lagi, tapi kali ini bukan Rafael, melainkan kakak pembimbingnya.

Sial! Apa-apaan Nathan?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 18, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MistCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang