Chapter 01: Rival

29 2 9
                                        


Di sebuah Kota Metropolis, dimana gedung- gedung pencakar langit berdiri dengan megah di seluruh sisi kota, setiap orang disibukkan oleh urusannya masing- masing, dan lampu lalu lintas berulangkali berkedip tiada henti, tidak ada satupun yang mengetahui keputusasaan yang mendekati mereka secara perlahan.

Hiruk pikuk kendaraan di pagi yang seharusnya damai itu, sudah menjadi sebuah bukti ketidakpedulian manusia akan sekelilingnya.

Di salah satu gedung, dimana terpasang videotron raksasa di atasnya, disampaikan sebuah berita yang sedikit tak masuk akal.

"Pemirsa, akhir- akhir ini telah terjadi sebuah pembunuhan massal di Kota A. Korban dari pembunuhan ini semuanya berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Saat ini, tujuan dari pelaku melakukan hal ini masih belum diketahui. Pelaku yang sempat terkam CCTV saat ini tengah berada dalam pengejaran Polisi", presenter dari berita itu sempat menelan ludah, kemudian kembali melanjutkan beritanya, "Konon, menurut gambar yang terekam CCTV, pelaku dari kejadian ini adalah seekor Makhluk Ahuizotl! Apakah keberadaan dari makhluk ini benar- benar ada!? Saat ini pihak kepolisian......"

Saat ini, masyarakat tengah dihebohkan oleh kemunculan makhluk mistis yang mengancam perdamaian kota. Ahuizotl. Tak ada seorang pun yang dapat menggambarkan secara pasti bagaimana wujud dari makhluk ini. Ada yang mengatakan bahwa bentuknya seperti anjing besar, babi hutan, bahkan kuda berkepala anjing. Konon katanya, makhluk ini suka menyantap manusia di tengah malam dengan menyiksanya terlebih dahulu. Sampai saat ini, keberadaan dari makhluk ini masih belum diketahui. Namun bagaimanapun juga, seekor binatang buas selalu meninggalkan jejak setelah menyantap mangsanya.

"Ahuizotl?", seorang pemuda berbisik dalam hati, "Benar- benar bodoh."

Dengan sorot mata dingin, pemuda itu melangkah di antara keramaian. Rambut hitam yang menutup dahi sampai atas matanya itu masih terasa basah di kepalanya. Tubuhnya yang tinggi tegap menopang optimistis yang menjadi kebanggaannya itu. Dengan ideologinya itu, ia meninggalkan papan videotron yang akhir- akhir ini membuat telinganya merasa sakit. Ia sangat tidak mempercayai semua hal yang berbau mistis, benar- benar membencinya.

Di sebuah ruang kelas di sebuah Kampus, dimana seorang Dosen tengah mengisi pelajaran, pemuda itu duduk di bangku belakang, sebelah jendela yang memperlihatkan dengan jelas pemandangan kota dari sana.

"Baiklah anak- anak, apakah diantara kalian ada yang tahu apa yang disebut sebagai kode genetik?", tanya Dosen yang sedang mengisi kelas tersebut.

Pemuda tadi megangkat tanganya, lalu berdiri, "Gen adalah suatu unit instruksi untuk menghasilkan atau mempengaruhi suatu sifat herediter tertentu. Gen tertentu membawa informasi yang dibutuhkan untuk membuat protein dan informasi itu disebut sebagai kode genetik. Dengan kata lain, kode genetik adalah cara pengkodean urutan nukleotida pada DNA atau RNA utnuk menentukan urutan asam amino pada saat sintesis protein. Informasi pada kode genetik sendiri ditentukan oleh basa nitrogen pada rantai DNA yang akan menentukan susunan asam amino.", jawabnya kemudian dengan tenang.

"Bagus sekali Akil", puji Dosen lalu mempersilahkan ia untuk duduk kembali.

Namaku adalah Akil Ravendra. Umurku 19 tahun, tinggi 173 cm, berat 65 kg. Saat ini aku tengah menjadi seorang Mahasiswa di perguruan tinggi favorit yang ada di Jakarta.

Banyak sekali orang yang memuji akan kejeniusanku. Aku sudah sangat sering mendapat beasiswa dari tempat dimana aku bersekolah.

"Seperti yang telah dijelaskan Akil tadi, sepertinya saya tidak perlu untuk mengulanginya lagi", ucap Dosen, "Lalu, apakah di antara kalian ada yang pernah mendengar tentang penelitian Imunologi yang dilakukan oleh para peneliti belum lama ini?"

Seorang murid yang duduk di seberang Akil mengangkat tangannya tinggi- tinggi, lalu berdiri, "Eksperimen pencampuran gen manusia dan binatang. Contohnya adalah Tikus Transgenetika, yang mana menciptakan situasi pada tikus, dimana disisipkan sel induk manusia yang membentuk sistem kekebalan tubuh manusia. Dari pengetahuan ini, diharapkan akan memberikan sebuah kontribusi, agar di masa depan materi yang asing bagi tubuh, pada operasi transplantasi dapat diterima lebih baik oleh pasien. Bahkan jika organ tubuh itu berasal dari binatang, mengingat langkanya donor organ tubuh manusia", ucapnya dengan lantang dan penuh keyakinan, "Lalu apa yang akan terjadi jika manusia benar- benar bisa menerima organ dari binatang? Seperti manusia yang memiliki rambut seperti bulu domba, atau manusia berwajah babi? Mungkin akan sangat lucu ya! Hahaha", celetuknya sembari melipat kedua tangannya di belakang lehernya. Mendengar itu seiisi kelas kemudian tertawa.

"Kau ini ada- ada saja. Tapi semua penjelasanmu itu tepat sekali Hans!", balas Dosen dengan menahan tawa.

Hans Varoon, dia adalah seseorang yang disebut- sebut sebagai Mahasiswa paling jenius di Perguruan ini sama denganku. Dia adalah seseorang yang memiliki jalan pikiran yang sulit untuk ditebak. Selain menjadi Mahasiswa, ia juga bekerja sebagai seorang Detektif dan diketahui telah memecahkan banyak sekali kasus- kasus yang rumit. Ayahnya adalah seorang Inspektur Polisi di Jakarta, sehingga ia juga memiliki kekuatan untuk menggerakkan kepolisian Jakarta dalam mendukung pekerjaannya menjadi seorang Detektif.

Ia adalah rival terbesarku sekaligus teman yang paling dekat denganku.


Di saat jam istirahat, dimana Akil tengah membereskan buku- bukunya, ketika itu Hans muncul dari belakang dan menyapanya.

"Yo Akil!"

"Tumben sekali kau yang memulai pembicaraan. Kalau boleh kutebak, pasti ada sesuatu yang penting", balas Akil dengan dingin.

"Kau dingin sekali, benar- benar berbanding terbalik dengan ramalan cuaca pada hari ini."

"Jadi?", tanya Akil.


"Tentu saja, aku menemukan sesuatu yang menarik", balas Hans, "Apa kau sudah melihat berita utama pagi ini?"

"Kasus hilangnya nenek tua di rumahnya sendiri?", jawab Akil dengan spontan.

"Ahh bukan!", Hans menyangkal dengan wajah jengkel, "Apa kau tahu kasus pembunuhan massal yang terjadi kota A, yang mana kasus tersebut masih menjadi misteri hingga sekarang?"

"Maksudmu berita Hoax itu?", jawab Akil lagi sembari melayangkan pandangganya ke luar jendela, seolah tidak tertarik.

"Biasanya kasus yang ekstrim dan masih belum terungkap akan mengundang banyak perhatian masyarakat. Itu semua hanyalah akal- akalan media agar mendapatkan rating yang tinggi", lanjut Akil kemudian, "Tunggu dulu, jangan bilang kau juga tertipu oleh berita tak masuk akal itu? Untuk seseorang sepertimu, hal seperti ini...."

"Aahh cerewet! Coba kau lihat ini", Hans memperlihatkan ponselnya dan menunjukkan foto. Di foto tersebut, meski agak buram, namun memang terlihat ada makhluk yang mirip manusia namun memiliki bulu dan berjalan bungkuk.

"Saat ini, kepolisian sedang menyuruhku untuk mengatasi kasus ini. Karena itulah..."

"Kenapa tidak kau selesaikan sendiri?", potong Akil, "Bukannya kau yang terkenal akan kemampuan analisismu itu, akan dapat menangani kasus sesulit apapun?"

"Jangan bicara begitu," jawab Hans, "Kasus kali ini berbeda dari biasanya. Selain itu, aku juga ingin kau ikut menemaniku mengungkap kasus ini, karena sudah cukup lama kita tidak bekerja sama menyelesaikan kasus sejak sebulan yang lalu. Anggap saja ini sebagai sebuah kesenangan"

"Jadi? Apa yang akan kau lakukan jika kau kalah dariku?", Akil mulai menggoda Hans.

"Baiklah, aku akan mentraktirmu apapun dalam 3 hari! Tapi kali ini aku tidak akan kalah. Mari kita lihat siapa yang lebih dulu mengungkap kasus ini!", jawab Hans dengan tersenyum sembari mengepalkan tinjunya ke depan Akil.

Mereka kemudian saling beradu tinju. Pertarungan antar rival pun dimulai!

[To Be Contiuned...]

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 16, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

AhuizotlWhere stories live. Discover now