Prolog

18 1 0
                                        

Derap kaki itu berubah menjadi cepat. Dentuman yang dihasilkan oleh benturan kasar high heels berwarna silver dengan tangga menjadi backsound suasana tegang itu. Untung saja, Liany mengenakan gaun selutut yang tidak menghambat laju kakinya. Rahangnya mengeras bersamaan dengan tautan alisnya yang semakin mendalam manakala amarah yang akan membuncah.

Liany membanting pintu kamarnya dengan kasar, lalu menguncinya. Tubuhnya merosot ke lantai. Tidak dapat di pungkiri saat ini Liany sudah menangis. Gadis itu tidak peduli matanya akan sembab karena ulah air mata yang terus mengalir tanpa izinnya.

Liany membenci hari ini. Hari kelahirannya tujuh belas tahun yang lalu. Jika saja ayahnya, Farman ada di pesta ulang tahunnya hari ini dan tidak memilih klien terhormatnya di luar negeri, Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Di pesta ulang tahunnya yang ke tujuh belas yang kebanyakan orang menyebutnya dengan 'Sweet seventeen'. Namun tidak untuk Liany Hana. Tahun ini adalah tahun ke sepuluh Liany merayakan hari jadinya tanpa Farman. Sosok ayah yang selalu sibuk berpergian keluar kota bahkan luar negeri, membuat Liany sangat merindukan kasih sayangnya. Liany sadar, Farman selalu memenuhi kebutuhan dan fasilitasnya. Akan tetapi, yang Liany butuhkan bukanlah semua harta ayahnya, hanya segenap perasaan kasih sayang yang terungkap.

Air itu tak hentinya keluar dari pelupuk mata Liany. Bahunya bergetar menggambarkan betapa sesak tangisnya kali ini. Pandangan mata Liany menangkap figura foto dirinya bersama Alisya, sang ibu. Foto yang mengungkapkan kedekatan keduanya yang tengah tersenyum lebar seraya berangkulan. Tangan Liany mengepal. Gadis itu berdiri dan berjalan dengan tegas menuju meja yang terdapat figura tersebut. Dengan penuh amarah yang sangat membara, Liany membanting foto berbingkai kaca itu. mengakibatkan suara bising pecahan kaca. Bukan membereskan pecahan beling itu, Liany justru memporak porandakan seluruh benda yang berada di mejanya. Membuat semua benda itu jatuh kelantai.

Liany menjerit histeris dan berjongkok. Gadis itu menjambak rambutnya sendiri seraya menutup rapat kedua matanya. Matanya terbuka setelah beberapa saat terkatup. Liany bangkit dan duduk di depan kaca. Ia tersenyum miris. Senyum palsu yang melukiskan seberapa sakit ia memendam perihnya dalam diam. Ya, selama ini ia sudah cukup lama berdiam diri menahan segala amarah yang menggerogori hatinya.

"Kenapa lo menangis Liany? Ini bukannya hal biasa? lo kuat, ya lo kuat! Mulai sekarang lo adalah cewek yang kuat! Yang nggak pernah menangis lagi karena hal itu. lo bukan cewek lemah, tapi lo strong!!" Kata Liany kepada pantulan dirinya dicermin. Ia tersenyum meyakinkan.

Dengan kilat Liany meraih ikat rambut yang tergeletak di dekatnya. Lalu mengikat kuda rambut hitam panjangnya. Berikutnya tangan kanannya merogoh laci mejanya dan mengeluarkan gunting dari dalam sana. Dengan senyum yang masih tertera di wajahnya, Liany mengarahkan gunting itu di rambutnya. Mengguntingnya.

***

SMA Tunas Bangsa kali ini benar-benar di gegerkan oleh sosok yang berjalan di tengah koridor dengan santainya. Tanpa peduli berapa banyak pasang mata dan suara orang berbisik tentang dirinya. Sosok itu berhenti didepan pintu kelas bertulisan XII.Ipa-2. Dengan langkah mantap kaki itu melangkah masuk.

"Ya ampun! Liany Hana!! lo kenapa ?"


hhmmm ini baru prolog lhoo

sebenernya ini karya kedua setelah "Rain Drop" yang berletar belakang korea. tapi kalo Trap ini gua terinspirasi dari film Avatar wkwkwk dan ini juga sebenernya karya yang udah lama banget tapi belum pernah gua publish karena belum selesai, dan baru kali ini gua publish ya dengan harapan gua bisa menyelesaikan karya gua ini hehehe

soo, voment kalian sangat diperlukan untuk membangkitkan semangat gua menyelesaikan cerita gajelas ini :D

Happy Reading ya guys semoga suka sama cerita gua

Trap (kamu buat aku terjerat, lagi)Příběhy, které tě pohltí. Začni objevovat